Lionel Messi, Kylian Mbappe, Erling Haaland, dan Cristiano Ronaldo mendominasi pemberitaan Piala Dunia 2026 lewat gol-gol yang mereka ciptakan. Namun, format baru turnamen memberikan fenomena berbeda. Dalam sejumlah kasus, satu gol saja bisa cukup untuk membuka jalan ke fase gugur.
Lionel Messi menjadi calon terkuat pencetak gol terbanyak Piala Dunia 2026. Baru menjalani dua laga, penyerang Argentina ini sudah mencetak lima gol. Dia kini tercatat sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia lewat 28 penampilan.
Penyerang Perancis Kylian Mbappe dan striker Norwegia Erling Haaland ada di belakang Messi. Masing-masing mengemas empat gol dari dua laga.
Cristiano Ronaldo, andalan Portugal, juga tidak mau ketinggalan. Setelah awal yang buruk melawan RD Kongo, Ronaldo mencetak dua gol ketika Portugal menang besar atas Uzbekistan, 5-0.
Sejauh ini, ketajaman para superstar itu memudahkan langkah negaranya. Semua negaranya berada di puncak grup masing-masing.
Namun, peluang tim tanpa penyerang top bukan lantas mati. Di era format baru 48 tim ini, hanya bermodal sebiji gol, sebuah tim tetap bisa lolos ke babak selanjutnya.
Ghana menjadi contoh paling menarik untuk diulas. Tim berjuluk “Bintang Hitam” ini sudah memainkan dua laga dan mengumpulkan empat poin.
Dengan hanya mencetak satu gol, mereka kini berada di peringkat kedua Grup L dan berpeluang lolos ke babak 32 besar.
Gol semata wayang itu diciptakan Caleb Yirenki di menit ke-90+5 saat melawan Panama. Sedangkan saat menghadapi Inggris, Ghana bermain imbang 0-0.

Menariknya, prediksi superkomputer Opta pada 24 Juni 2026 menyebut Ghana bakal lolos 100 persen ke babak 32 besar. Hal itu berkaca dari nirkalah hingga tak kebobolan di dua laga terakhir.
Masa depan Skotlandia juga menarik dinanti. Hanya mencetak satu gol dan kebobolan empat gol dari tiga laga, “Tartan Army” berada di peringkat ketiga Grup C dengan tiga poin.
Bermodalkan sebiji gol yang menyumbang satu kemenangan saat melawan Haiti, mereka berharap bisa lolos lewat jalur peringkat ketiga terbaik. Merujuk superkomputer Opta, peluang Skotlandia untuk lolos ke babak selanjutnya masih terbilang tinggi, 74,6 persen.
Format beda
Kondisi ini kontras dengan performa Turki. Memiliki lini depan ternama dan menciptakan ratusan peluang, tim ini gagal mencetak satu gol pun dan menderita dua kekalahan. Akibatnya, Turki divonis pulang lebih cepat meski masih menyisakan satu laga terakhir melawan Amerika Serikat.
Bahkan, meski menang atas Amerika Serikat, Turki tetap tidak bisa menggeser Australia maupun Paraguay. Piala Dunia 2026 menggunakan aturan rekor pertemuan langsung (head-to-head) sebagai pemutus sandingan utama jika poin sama.
Nasib Turki menunjukkan bahwa masalah utama bukan jumlah gol, melainkan kegagalan mengumpulkan poin. Ketika itu terjadi, selisih satu gol Turki dengan Ghana atau Skotlandia menjadi jurang besar.

Berbeda dengan Piala Dunia sebelumnya, turnamen yang kini diikuti 48 tim diduga turut mengubah cara pandang tim menatap fase selanjutnya. Asalkan mampu mendulang poin, peluang sebuah tim untuk lolos dari fase grup menjadi sangat besar.
Dengan 32 peserta lolos dari fase grup, termasuk delapan peringkat ketiga terbaik, risiko yang harus dihadapi tim memang jauh lebih kecil dibandingkan format sebelumnya yang hanya meloloskan dua tim teratas dari setiap grup.
Tak heran bila hasil minimal bisa membuat sebuah tim lolos ke babak selanjutnya. Bagi Carlos Queiroz, pelatih Ghana, yang gemar memperkuat lini pertahanan saat daya serang timnya biasa-biasa saja, hal itu sangat menguntungkan.

Queiroz, setelah laga melawan Inggris, mengatakan sangat bangga dengan cara para pemainnya bertarung sepanjang pertandingan. Mereka berdiri kokoh sesuai dengan rencana permainan.
“Kami harus bertahan saat diperlukan. Saya tidak bermain seperti samba saat lawan memainkan rock and roll,” katanya ketika ditanya mengenai taktik bertahan yang diterapkannya, seperti dikutip Reuters.
Poin maksimal
Lalu berapa poin minimal yang seharusnya dimiliki sebuah tim untuk lolos, setidaknya melalui jalur peringkat ketiga? Superkomputer Opta mencoba menghitungnya.
Dalam analisis yang diterbitkan pada 24 Juni 2026, superkomputer Opta menjalankan 100.000 simulasi sisa pertandingan setelah satu putaran fase grup selesai dimainkan.
Hasilnya menunjukkan lima atau enam poin selalu cukup untuk membawa sebuah tim peringkat ketiga menjadi salah satu dari delapan peringkat ketiga terbaik.

Empat poin bahkan cukup dalam 99,81 persen simulasi. Sementara itu, tim dengan tiga poin masih memiliki peluang besar untuk lolos, yakni sekitar 66,77 persen.
Peluang lolos dengan jumlah poin yang lebih sedikit jauh lebih kecil. Hanya 4,66 persen simulasi yang menghasilkan tim peringkat ketiga dengan dua poin tetap melaju ke babak 32 besar.
Bahkan, dalam 30 dari 100.000 simulasi atau sekitar 0,03 persen, satu poin saja sudah cukup untuk mengantarkan sebuah tim ke fase gugur.
Kesimpulannya, tiga poin menjadi batas paling realistis antara peluang lolos dan tersingkir meski satu atau dua poin pun masih bisa lolos ke babak berikutnya.

Dengan perkiraan itu, tim seperti Ekuador masih berpeluang menjadi tim yang beruntung. Salah satu tim dengan pertahanan kuat ini masih berada di peringkat ketiga Grup E dengan satu poin berkat hasil imbang 0-0 melawan Curacao.
Pada laga terakhir, mereka harus menghadapi raksasa Jerman. Bila menang, tim itu akan meraih empat poin, sedangkan hasil imbang akan membuat mereka mengumpulkan dua poin.
Pelatih Ekuador, Sebastian Beccacece, mengatakan timnya masih memiliki peluang untuk lolos. Keajaiban bisa saja datang saat Ekuador menghadapi Jerman.
Namun, dia menolak anggapan bahwa timnya hanya kuat dalam bertahan. Lebih dari 26 peluang dilepaskan Ekuador saat melawan Curacao. Hanya kegemilangan kiper Eloy Room, dengan 15 penyelamatan, yang mampu menggagalkan kemenangan Ekuador.
Hadiah besar
Ujungnya, apa saja bisa terjadi dalam sepak bola. Bahkan, bukan tidak mungkin tim irit gol justru yang menuai prestasi di akhir laga. Sejarah pernah mencatat bahwa tim yang minim gol tapi punya pertahanan kokoh mampu melampaui ekspektasi.
Maroko membuktikannya di Piala Dunia 2022. Saat itu, mereka melaju ke semifinal dengan pertahanan disiplin meski tidak banyak mencetak gol. Mereka menahan imbang Kroasia dan Spanyol tanpa gol, lalu menyingkirkan Portugal dengan skor 1-0. Maroko menjadi tim Afrika pertama yang berhasil mencapai empat besar Piala Dunia.

Jauh sebelumnya, Yunani bahkan menjuarai Euro 2004 meski hanya mencetak tujuh gol dalam enam pertandingan. Mereka menaklukkan Portugal di final yang kala itu tampil sangat menyerang, dengan skor tipis 1-0.
Di era Piala Dunia 48 tim, pragmatisme menjadi salah satu jalan yang bisa ditempuh sebuah negara untuk melaju lebih jauh. Apalagi, mengutip BBC, hadiah untuk tim yang lolos ke babak 32 besar sangat besar mencapai 11 juta dolar AS atau setara Rp 198 miliar dengan kurs Rp 18.000.
Oleh karena itu, tidak heran bila bagi banyak tim, satu kemenangan atau satu hasil imbang lebih berharga daripada pesta gol yang sesungguhnya dinantikan para penikmat sepak bola.
Lionel Messi, Kylian Mbappe, Erling Haaland, dan Cristiano Ronaldo mendominasi pemberitaan Piala Dunia 2026 lewat gol-gol yang mereka ciptakan. Namun, format baru turnamen memberikan fenomena berbeda. Dalam sejumlah kasus, satu gol saja bisa cukup untuk membuka jalan ke fase gugur.
Lionel Messi menjadi calon terkuat pencetak gol terbanyak Piala Dunia 2026. Baru menjalani dua laga, penyerang Argentina ini sudah mencetak lima gol. Dia kini tercatat sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia lewat 28 penampilan.
Penyerang Perancis Kylian Mbappe dan striker Norwegia Erling Haaland ada di belakang Messi. Masing-masing mengemas empat gol dari dua laga.
Cristiano Ronaldo, andalan Portugal, juga tidak mau ketinggalan. Setelah awal yang buruk melawan RD Kongo, Ronaldo mencetak dua gol ketika Portugal menang besar atas Uzbekistan, 5-0.

Sejauh ini, ketajaman para superstar itu memudahkan langkah negaranya. Semua negaranya berada di puncak grup masing-masing.
Namun, peluang tim tanpa penyerang top bukan lantas mati. Di era format baru 48 tim ini, hanya bermodal sebiji gol, sebuah tim tetap bisa lolos ke babak selanjutnya.
Baca JugaMessi! Messi! Messi!Baca JugaRonaldo: ”Aku Kembali! Aku Kembali!”
Ghana menjadi contoh paling menarik untuk diulas. Tim berjuluk “Bintang Hitam” ini sudah memainkan dua laga dan mengumpulkan empat poin.
Dengan hanya mencetak satu gol, mereka kini berada di peringkat kedua Grup L dan berpeluang lolos ke babak 32 besar.
Gol semata wayang itu diciptakan Caleb Yirenki di menit ke-90+5 saat melawan Panama. Sedangkan saat menghadapi Inggris, Ghana bermain imbang 0-0.

Menariknya, prediksi superkomputer Opta pada 24 Juni 2026 menyebut Ghana bakal lolos 100 persen ke babak 32 besar. Hal itu berkaca dari nirkalah hingga tak kebobolan di dua laga terakhir.
Masa depan Skotlandia juga menarik dinanti. Hanya mencetak satu gol dan kebobolan empat gol dari tiga laga, “Tartan Army” berada di peringkat ketiga Grup C dengan tiga poin.
Bermodalkan sebiji gol yang menyumbang satu kemenangan saat melawan Haiti, mereka berharap bisa lolos lewat jalur peringkat ketiga terbaik. Merujuk superkomputer Opta, peluang Skotlandia untuk lolos ke babak selanjutnya masih terbilang tinggi, 74,6 persen.
Format beda
Kondisi ini kontras dengan performa Turki. Memiliki lini depan ternama dan menciptakan ratusan peluang, tim ini gagal mencetak satu gol pun dan menderita dua kekalahan. Akibatnya, Turki divonis pulang lebih cepat meski masih menyisakan satu laga terakhir melawan Amerika Serikat.
Bahkan, meski menang atas Amerika Serikat, Turki tetap tidak bisa menggeser Australia maupun Paraguay. Piala Dunia 2026 menggunakan aturan rekor pertemuan langsung (head-to-head) sebagai pemutus sandingan utama jika poin sama.
Nasib Turki menunjukkan bahwa masalah utama bukan jumlah gol, melainkan kegagalan mengumpulkan poin. Ketika itu terjadi, selisih satu gol Turki dengan Ghana atau Skotlandia menjadi jurang besar.

Berbeda dengan Piala Dunia sebelumnya, turnamen yang kini diikuti 48 tim diduga turut mengubah cara pandang tim menatap fase selanjutnya. Asalkan mampu mendulang poin, peluang sebuah tim untuk lolos dari fase grup menjadi sangat besar.
Dengan 32 peserta lolos dari fase grup, termasuk delapan peringkat ketiga terbaik, risiko yang harus dihadapi tim memang jauh lebih kecil dibandingkan format sebelumnya yang hanya meloloskan dua tim teratas dari setiap grup.
Tak heran bila hasil minimal bisa membuat sebuah tim lolos ke babak selanjutnya. Bagi Carlos Queiroz, pelatih Ghana, yang gemar memperkuat lini pertahanan saat daya serang timnya biasa-biasa saja, hal itu sangat menguntungkan.

Queiroz, setelah laga melawan Inggris, mengatakan sangat bangga dengan cara para pemainnya bertarung sepanjang pertandingan. Mereka berdiri kokoh sesuai dengan rencana permainan.
“Kami harus bertahan saat diperlukan. Saya tidak bermain seperti samba saat lawan memainkan rock and roll,” katanya ketika ditanya mengenai taktik bertahan yang diterapkannya, seperti dikutip Reuters.
Poin maksimal
Lalu berapa poin minimal yang seharusnya dimiliki sebuah tim untuk lolos, setidaknya melalui jalur peringkat ketiga? Superkomputer Opta mencoba menghitungnya.
Dalam analisis yang diterbitkan pada 24 Juni 2026, superkomputer Opta menjalankan 100.000 simulasi sisa pertandingan setelah satu putaran fase grup selesai dimainkan.
Hasilnya menunjukkan lima atau enam poin selalu cukup untuk membawa sebuah tim peringkat ketiga menjadi salah satu dari delapan peringkat ketiga terbaik.

Empat poin bahkan cukup dalam 99,81 persen simulasi. Sementara itu, tim dengan tiga poin masih memiliki peluang besar untuk lolos, yakni sekitar 66,77 persen.
Peluang lolos dengan jumlah poin yang lebih sedikit jauh lebih kecil. Hanya 4,66 persen simulasi yang menghasilkan tim peringkat ketiga dengan dua poin tetap melaju ke babak 32 besar.
Bahkan, dalam 30 dari 100.000 simulasi atau sekitar 0,03 persen, satu poin saja sudah cukup untuk mengantarkan sebuah tim ke fase gugur.
Kesimpulannya, tiga poin menjadi batas paling realistis antara peluang lolos dan tersingkir meski satu atau dua poin pun masih bisa lolos ke babak berikutnya.

Dengan perkiraan itu, tim seperti Ekuador masih berpeluang menjadi tim yang beruntung. Salah satu tim dengan pertahanan kuat ini masih berada di peringkat ketiga Grup E dengan satu poin berkat hasil imbang 0-0 melawan Curacao.
Pada laga terakhir, mereka harus menghadapi raksasa Jerman. Bila menang, tim itu akan meraih empat poin, sedangkan hasil imbang akan membuat mereka mengumpulkan dua poin.
Baca JugaBentengnya Sulit Ditembus, tetapi Siapa yang Akan Mencetak Gol untuk Ekuador?
Pelatih Ekuador, Sebastian Beccacece, mengatakan timnya masih memiliki peluang untuk lolos. Keajaiban bisa saja datang saat Ekuador menghadapi Jerman.
Namun, dia menolak anggapan bahwa timnya hanya kuat dalam bertahan. Lebih dari 26 peluang dilepaskan Ekuador saat melawan Curacao. Hanya kegemilangan kiper Eloy Room, dengan 15 penyelamatan, yang mampu menggagalkan kemenangan Ekuador.
Hadiah besar
Ujungnya, apa saja bisa terjadi dalam sepak bola. Bahkan, bukan tidak mungkin tim irit gol justru yang menuai prestasi di akhir laga. Sejarah pernah mencatat bahwa tim yang minim gol tapi punya pertahanan kokoh mampu melampaui ekspektasi.
Maroko membuktikannya di Piala Dunia 2022. Saat itu, mereka melaju ke semifinal dengan pertahanan disiplin meski tidak banyak mencetak gol. Mereka menahan imbang Kroasia dan Spanyol tanpa gol, lalu menyingkirkan Portugal dengan skor 1-0. Maroko menjadi tim Afrika pertama yang berhasil mencapai empat besar Piala Dunia.

Jauh sebelumnya, Yunani bahkan menjuarai Euro 2004 meski hanya mencetak tujuh gol dalam enam pertandingan. Mereka menaklukkan Portugal di final yang kala itu tampil sangat menyerang, dengan skor tipis 1-0.
Di era Piala Dunia 48 tim, pragmatisme menjadi salah satu jalan yang bisa ditempuh sebuah negara untuk melaju lebih jauh. Apalagi, mengutip BBC, hadiah untuk tim yang lolos ke babak 32 besar sangat besar mencapai 11 juta dolar AS atau setara Rp 198 miliar dengan kurs Rp 18.000.
Oleh karena itu, tidak heran bila bagi banyak tim, satu kemenangan atau satu hasil imbang lebih berharga daripada pesta gol yang sesungguhnya dinantikan para penikmat sepak bola.
Baca JugaPiala Dunia Antarklub, Dilema antara Perlindungan Pemain dan Hadiah Uang Terbesar