New York
Siapa yang tak mau menonton seluruh pertandingan Piala Dunia gratis? Masih ada tambahan uang Rp 898 juta pula untuk menjadi ”pengamat” pertandingan.
Inilah yang dialami dua warga Amerika Serikat, Kevin Atoko dan Austin Franklin. Tugas mereka adalah menonton 104 pertandingan dan menjadi Pengamat Utama Piala Dunia bagi Fox One.
Mereka mesti menonton dan melaporkan jalannya pertandingan dari dalam bilik kaca khusus yang diletakkan di tengah Times Square di New York. Semua aktivitas mereka bisa dilihat orang-orang yang berlalu lalang di taman itu.
Ruangan khusus itu dilengkapi kursi malas, sofa kulit coklat, dua layar televisi besar, meja foosball (sepak bola meja), aneka suvenir tim sepak bola, dan camilan untuk menonton pertandingan.
”Ini seperti imajinasi anak muda usia 20 tahun. Beginilah suasana yang diinginkan setiap penggemar sepak bola,” ujar Atoko, koki dari Florida, kepada BBC, Rabu (24/6/2026).
Keuntungan lainnya adalah suguhan makanan dari negara-negara yang bertanding. Mereka juga berkesempatan untuk berinteraksi dengan para penggemar, seperti ribuan warga Brasil yang membanjiri Times Square. Ini bagian yang paling disukai Franklin karena bisa bertemu dengan orang dari seluruh dunia serta saling bercerita soal sepak bola dan budaya.
Untuk bisa menikmati ”surga” ini, Atoko dan Franklin harus berebut dengan ribuan orang. Mereka juga tak hanya leha-leha. Keuntungan itu datang bersama kewajiban untuk membuat konten bagi penggemar sepak bola. Untungnya, mereka tak harus tidur di bilik kaca itu.
Awalnya kegiatan itu seru, tetapi lama-lama mereka lelah juga. ”Saya sudah lelah. Ini benar-benar maraton. Ini pekerjaan yang relatif mudah, saya tinggal duduk di sofa menonton sepak bola, tetapi ternyata melelahkan. Untung masih bisa tidur delapan jam,” kata Franklin, seorang pemengaruh.
”Saya sering lupa kalau saya berada di Times Square dengan orang-orang yang bisa menonton saya. Saya menonton pertandingan selama 10-15 menit, dan terbawa suasana, lalu saya melihat ke kanan dan melihat Kevin, dan semua orang berjalan-jalan di Times Square. Saya benar-benar lupa,” ujarnya.

Miguel Sanchez (20), warga AS, merasa iri dengan keberuntungan Atoko dan Franklin. ”Ini bahkan lebih baik daripada menonton langsung di stadion. Mereka dibayar untuk menonton Piala Dunia. Itu benar-benar gila,” ujarnya.
Eimund Liland (52) dari Norwegia punya pendapat berbeda. Menurut dia, menonton semua pertandingan tanpa privasi seperti yang dijalani Atoko dan Franklin berlebihan. Matthew Mendez (18), warga AS, lebih suka menonton bersama teman atau keluarga.
New York
Siapa yang tak mau menonton seluruh pertandingan Piala Dunia gratis? Masih ada tambahan uang Rp 898 juta pula untuk menjadi ”pengamat” pertandingan.
Inilah yang dialami dua warga Amerika Serikat, Kevin Atoko dan Austin Franklin. Tugas mereka adalah menonton 104 pertandingan dan menjadi Pengamat Utama Piala Dunia bagi Fox One.
Mereka mesti menonton dan melaporkan jalannya pertandingan dari dalam bilik kaca khusus yang diletakkan di tengah Times Square di New York. Semua aktivitas mereka bisa dilihat orang-orang yang berlalu lalang di taman itu.
Baca JugaTaiwo dan Kehinde Menikah dengan… Taiwo dan Kehinde
Ruangan khusus itu dilengkapi kursi malas, sofa kulit coklat, dua layar televisi besar, meja foosball (sepak bola meja), aneka suvenir tim sepak bola, dan camilan untuk menonton pertandingan.
”Ini seperti imajinasi anak muda usia 20 tahun. Beginilah suasana yang diinginkan setiap penggemar sepak bola,” ujar Atoko, koki dari Florida, kepada BBC, Rabu (24/6/2026).

Keuntungan lainnya adalah suguhan makanan dari negara-negara yang bertanding. Mereka juga berkesempatan untuk berinteraksi dengan para penggemar, seperti ribuan warga Brasil yang membanjiri Times Square. Ini bagian yang paling disukai Franklin karena bisa bertemu dengan orang dari seluruh dunia serta saling bercerita soal sepak bola dan budaya.
Untuk bisa menikmati ”surga” ini, Atoko dan Franklin harus berebut dengan ribuan orang. Mereka juga tak hanya leha-leha. Keuntungan itu datang bersama kewajiban untuk membuat konten bagi penggemar sepak bola. Untungnya, mereka tak harus tidur di bilik kaca itu.
Baca JugaMerlin, Bebek Si ”Maskot” Piala Dunia di Meksiko
Awalnya kegiatan itu seru, tetapi lama-lama mereka lelah juga. ”Saya sudah lelah. Ini benar-benar maraton. Ini pekerjaan yang relatif mudah, saya tinggal duduk di sofa menonton sepak bola, tetapi ternyata melelahkan. Untung masih bisa tidur delapan jam,” kata Franklin, seorang pemengaruh.
”Saya sering lupa kalau saya berada di Times Square dengan orang-orang yang bisa menonton saya. Saya menonton pertandingan selama 10-15 menit, dan terbawa suasana, lalu saya melihat ke kanan dan melihat Kevin, dan semua orang berjalan-jalan di Times Square. Saya benar-benar lupa,” ujarnya.

Miguel Sanchez (20), warga AS, merasa iri dengan keberuntungan Atoko dan Franklin. ”Ini bahkan lebih baik daripada menonton langsung di stadion. Mereka dibayar untuk menonton Piala Dunia. Itu benar-benar gila,” ujarnya.
Eimund Liland (52) dari Norwegia punya pendapat berbeda. Menurut dia, menonton semua pertandingan tanpa privasi seperti yang dijalani Atoko dan Franklin berlebihan. Matthew Mendez (18), warga AS, lebih suka menonton bersama teman atau keluarga.