
Jakarta –
Gempa kembar dahsyat mengguncang Venezuela hingga menyebabkan ratusan orang meninggal. Peristiwa gempa kembar atau doublet earthquake ini juga pernah melanda Indonesia.
Sebagaimana diketahui, gempa kembar Venezuela ini terjadi pada Rabu (24/6) sore waktu setempat. Gempa pertama berkekuatan magnitudo (M) 7,5 dan gempa kedua guncangannya lebih dahsyat, yakni M 7,5.
Gempa ini menimbulkan kerusakan serius dari infrastruktur di Venezuela. Sejumlah gedung di wilayah Caracas, ibu kota Venezuela, dilaporkan rusak hingga ambruk. Korban tewas akibat dua gempa dahsyat itu mencapai 235 orang dan korban luka ada 1.520 orang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
| Baca juga: Pencarian Korban Gempa Venezuela Berlanjut, Korban Tewas Capai 235 Orang |
Fenomena Gempa Doublet
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono menjelaskan bahwa gempa kembar adalah dua gempa besar yang terjadi di lokasi dan waktu yang berdekatan. Gempa kembar terjadi karena mekanisme patahan yang kompleks.
“Secara definisi, gempa doublet adalah peristiwa di mana dua gempa besar terjadi di lokasi yang berdekatan dalam rentang waktu yang relatif singkat, mulai dari hitungan detik, menit, jam, hingga beberapa hari. Fenomena ini muncul karena mekanisme patahan yang kompleks,” kata Daryono kepada wartawan, Jumat (26/6/2026).
Menurutnya, gempa kembar ini berbahaya karena akumulasi kerusakannya tak terduga. Bangunan bisa rusak setelah gempa keduanya.
“Bahaya utama dari gempa doublet terletak pada akumulasi kerusakan struktural yang tidak terduga. Bangunan, jembatan, atau infrastruktur yang mungkin masih berdiri tegak namun sudah mengalami keretakan atau pelemahan signifikan akibat gempa pertama, sering kali tidak lagi mampu menahan beban guncangan kedua,” tuturnya.
Riwayat Gempa Kembar di Indonesia
Daryono juga menyebut fenomena gempa kembar pernah terjadi di Indonesia. Beberapa di antaranya yakni gempa yang terjadi di Bengkulu pada tahun 2007 hingga Gempa di Lombok pada tahun 2018. Berikut ini riwayat gempa kembar yang pernah terjadi di Indonesia:
1. Gempa Padang Panjang M 7,1 diikuti gempa M 7,2 yang terjadi pada Juni 1926 memicu kerusakan. Sumber gempa yakni sesar aktif.
2. Gempa Padang Panjang M 6,4 diikuti gempa M 6,3 yang terjadi pada Maret 2007 memicu kerusakan. Sumber sesar aktif.
3. Gempa Bengkulu M8,4 diikuti gempa M 7,9 yang terjadi pada September 2007 memicu kerusakan dan tsunami. Sumbernya subduksi atau megathrust.
4. Gempa Samudra Hindia Barat Aceh M 8,6 diikuti gempa M 8,1 yang terjadi pada April 2012 memicu tsunami kecil. Sumbernya sesar aktif dasar laut.
5. Gempa Lombok M 7,0 diikuti gempa M 6,9 yangg terjadi pada Agustus 2018 memicu kerusakan dan tsunami kecil. Sumbernya sesar aktif.
(rdp/imk)