BEIJING, SABTU – Sebuah pesawat sport ringan bermesin tunggal dengan dua kursi menabrak Menara CITIC atau China Zun, gedung pencakar langit tertinggi di Beijing, China, Jumat (26/6/2026) sore. Pilot pesawat itu tewas dan 13 orang yang berada di dekat gedung itu terluka. Belum diketahui penyebab kecelakaan itu.
Belum diketahui juga apakah korban yang terluka itu berada di dalam gedung atau tertimpa puing-puing pesawat. Insiden langka itu memunculkan pertanyaan mengenai keamanan wilayah udara Beijing yang selama ini dikenal sangat ketat.
Pemerintah Distrik Chaoyang, Beijing, dalam pernyataan resmi yang dirilis, Sabtu (27/6/2026), membenarkan ada pesawat yang menabrak gedung bertingkat di dekat Jalan Lingkar Ketiga Timur sekitar pukul 17.55 waktu setempat. “Hanya ada satu orang di dalam pesawat itu, yakni pilotnya, dan meninggal dunia. Sebanyak 13 orang lainnya mengalami luka-luka dan sudah dirawat,” sebut pernyataan tersebut.
Menara CITIC setinggi 528 meter itu merupakan bangunan tertinggi di Beijing sejak 2018. Gedung berlantai 108 itu berada di kawasan pusat bisnis Beijing, sekitar enam kilometer dari Kota Terlarang dan hanya sekitar 20 menit berkendara dari Zhongnanhai atau kompleks yang menjadi pusat kepemimpinan tertinggi China.
Dari foto-foto yang diunggah kantor berita Associated Press (AP) terlihat ada lubang pada fasad kaca salah satu sisi gedung akibat hilangnya dua panel kaca besar. Kerusakan itu sudah ditutup sementara, Sabtu.
Dari situs Flightradar24, penyedia layanan pelacakan penerbangan global, diketahui pesawat itu merupakan Sunward SA60L Aurora yang lepas landas dari Bandara Shifosi, sekitar 50 kilometer di timur Beijing. Data penerbangan menunjukkan pesawat bergerak ke arah barat sebelum lintasannya berakhir tepat di lokasi kecelakaan.
Pesawat itu, menurut CNN, dioperasikan oleh Shuangyue General Aviation atau Dongshi Shuangyue (Beijing) General Aviation, perusahaan pelatihan pilot pribadi, wisata udara, hingga fotografi udara. Pesawat SA60L merupakan produk Starair Aircraft yang berbasis di Provinsi Hunan dan menguasai sekitar 70 persen pasar pesawat sport ringan di China. Kecepatan jelajah pesawat itu maksimum 220 kilometer per jam dengan berat lepas landas maksimum 600 kilogram.
CNN menyebutkan pecahan kaca dan puing-puing pesawat berjatuhan ke jalan saat jam sibuk ketika para pekerja kantor pulang menjelang akhir pekan. Banyak pekerja yang dievakuasi dari gedung. Sementara mobil pemadam kebakaran, ambulans, dan mobil-mobil polisi memenuhi kawasan tersebut.

Namun, beberapa saat setelah kejadian, hampir seluruh informasi mengenai kecelakaan itu menghilang dari internet domestik China. CNN melaporkan pemerintah pada awalnya tidak mengaku insiden tersebut secara terbuka. Media pemerintah, termasuk CCTV yang kantornya tak jauh dari lokasi kejadian, juga tidak memberitakannya.
Pada hari yang sama, unggahan mengenai kecelakaan itu di media sosial China dihapus. Anna, warga Beijing, kepada CNN mengaku ia datang ke lokasi kejadian setelah melihat unggahan di media sosial sebelum akhirnya dihapus. “Saya lihat unggahan itu tetapi segera dihapus. Jadi, saya datang langsung saja ke lokasi,” ujarnya.
Keamanan paling ketat
Insiden ini memunculkan pertanyaan mengenai bagaimana pesawat ringan itu bisa terbang di atas Beijing. China dikenal memiliki salah satu sistem pengendalian wilayah udara paling ketat di dunia, khususnya di ibu kota yang menjadi tempat tinggal para elit Partai Komunis China. CNN menyebutkan untuk menerbangkan pesawat ringan di Beijing diperlukan izin dari Administrasi Penerbangan Sipil China dan Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat.

Pada Mei lalu, Beijing bahkan melarang pembelian, penyewaan, dan penerbangan pesawat nirawak tanpa izin. Sebelumnya, April, pemerintah juga mengumumkan pembatasan penjualan pesawat nirawak serta mewajibkan izin untuk seluruh penerbangan pesawat nirawak di Beijing.
Kecelakaan pesawat ini jarang terjadi di Beijing. Dalam 20 tahun terakhir hanya tercatat beberapa kecelakaan pesawat kecil dan helikopter, antara lain helikopter wisata yang jatuh pada 6 Juli 2022 dan menewaskan dua pilot. Ada juga helikopter sipil yang jatuh di Distrik Chaoyang pada 2018 dan melukai empat orang.
Di Waduk Miyan ada helikopter pelatihan yang jatuh pada 2015 dan menewaskan dua orang. Setahun sebelumnya, pesawat latih kecil yang jatuh di dekat Waduk Miyun. Pada 2011, ada helikopter polisi yang jatuh saat latihan dan menewaskan empat awak. Pada 2008, helikopter penyemprot pestisida jatuh di Distrik Pinggu dan menewaskan pilotnya.
CNN juga menyinggung pemerintah China yang sampai sekarang belum memberikan penjelasan resmi mengenai penyebab jatuhnya pesawat penumpang China Eastern Boeing 737-800 di Guangxi pada 2022 yang menewaskan 132 orang. Ini adalah salah satu kecelakaan udara paling mematikan di China dalam beberapa dekade terakhir. (REUTERS/AFP/AP)
BEIJING, SABTU – Sebuah pesawat sport ringan bermesin tunggal dengan dua kursi menabrak Menara CITIC atau China Zun, gedung pencakar langit tertinggi di Beijing, China, Jumat (26/6/2026) sore. Pilot pesawat itu tewas dan 13 orang yang berada di dekat gedung itu terluka. Belum diketahui penyebab kecelakaan itu.
Belum diketahui juga apakah korban yang terluka itu berada di dalam gedung atau tertimpa puing-puing pesawat. Insiden langka itu memunculkan pertanyaan mengenai keamanan wilayah udara Beijing yang selama ini dikenal sangat ketat.
Baca JugaPercuma Bersembunyi di China
Pemerintah Distrik Chaoyang, Beijing, dalam pernyataan resmi yang dirilis, Sabtu (27/6/2026), membenarkan ada pesawat yang menabrak gedung bertingkat di dekat Jalan Lingkar Ketiga Timur sekitar pukul 17.55 waktu setempat. “Hanya ada satu orang di dalam pesawat itu, yakni pilotnya, dan meninggal dunia. Sebanyak 13 orang lainnya mengalami luka-luka dan sudah dirawat,” sebut pernyataan tersebut.
Menara CITIC setinggi 528 meter itu merupakan bangunan tertinggi di Beijing sejak 2018. Gedung berlantai 108 itu berada di kawasan pusat bisnis Beijing, sekitar enam kilometer dari Kota Terlarang dan hanya sekitar 20 menit berkendara dari Zhongnanhai atau kompleks yang menjadi pusat kepemimpinan tertinggi China.

Dari foto-foto yang diunggah kantor berita Associated Press (AP) terlihat ada lubang pada fasad kaca salah satu sisi gedung akibat hilangnya dua panel kaca besar. Kerusakan itu sudah ditutup sementara, Sabtu.
Dari situs Flightradar24, penyedia layanan pelacakan penerbangan global, diketahui pesawat itu merupakan Sunward SA60L Aurora yang lepas landas dari Bandara Shifosi, sekitar 50 kilometer di timur Beijing. Data penerbangan menunjukkan pesawat bergerak ke arah barat sebelum lintasannya berakhir tepat di lokasi kecelakaan.
Baca JugaHasil FBI dan Teka-teki Seputar 9/11
Pesawat itu, menurut CNN, dioperasikan oleh Shuangyue General Aviation atau Dongshi Shuangyue (Beijing) General Aviation, perusahaan pelatihan pilot pribadi, wisata udara, hingga fotografi udara. Pesawat SA60L merupakan produk Starair Aircraft yang berbasis di Provinsi Hunan dan menguasai sekitar 70 persen pasar pesawat sport ringan di China. Kecepatan jelajah pesawat itu maksimum 220 kilometer per jam dengan berat lepas landas maksimum 600 kilogram.
CNN menyebutkan pecahan kaca dan puing-puing pesawat berjatuhan ke jalan saat jam sibuk ketika para pekerja kantor pulang menjelang akhir pekan. Banyak pekerja yang dievakuasi dari gedung. Sementara mobil pemadam kebakaran, ambulans, dan mobil-mobil polisi memenuhi kawasan tersebut.

Namun, beberapa saat setelah kejadian, hampir seluruh informasi mengenai kecelakaan itu menghilang dari internet domestik China. CNN melaporkan pemerintah pada awalnya tidak mengaku insiden tersebut secara terbuka. Media pemerintah, termasuk CCTV yang kantornya tak jauh dari lokasi kejadian, juga tidak memberitakannya.
Pada hari yang sama, unggahan mengenai kecelakaan itu di media sosial China dihapus. Anna, warga Beijing, kepada CNN mengaku ia datang ke lokasi kejadian setelah melihat unggahan di media sosial sebelum akhirnya dihapus. “Saya lihat unggahan itu tetapi segera dihapus. Jadi, saya datang langsung saja ke lokasi,” ujarnya.
Keamanan paling ketat
Insiden ini memunculkan pertanyaan mengenai bagaimana pesawat ringan itu bisa terbang di atas Beijing. China dikenal memiliki salah satu sistem pengendalian wilayah udara paling ketat di dunia, khususnya di ibu kota yang menjadi tempat tinggal para elit Partai Komunis China. CNN menyebutkan untuk menerbangkan pesawat ringan di Beijing diperlukan izin dari Administrasi Penerbangan Sipil China dan Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat.

Pada Mei lalu, Beijing bahkan melarang pembelian, penyewaan, dan penerbangan pesawat nirawak tanpa izin. Sebelumnya, April, pemerintah juga mengumumkan pembatasan penjualan pesawat nirawak serta mewajibkan izin untuk seluruh penerbangan pesawat nirawak di Beijing.
Kecelakaan pesawat ini jarang terjadi di Beijing. Dalam 20 tahun terakhir hanya tercatat beberapa kecelakaan pesawat kecil dan helikopter, antara lain helikopter wisata yang jatuh pada 6 Juli 2022 dan menewaskan dua pilot. Ada juga helikopter sipil yang jatuh di Distrik Chaoyang pada 2018 dan melukai empat orang.
Baca JugaBeijing Melarang Menerbangkan dan Memperjualbelikan ”Drone”
Di Waduk Miyan ada helikopter pelatihan yang jatuh pada 2015 dan menewaskan dua orang. Setahun sebelumnya, pesawat latih kecil yang jatuh di dekat Waduk Miyun. Pada 2011, ada helikopter polisi yang jatuh saat latihan dan menewaskan empat awak. Pada 2008, helikopter penyemprot pestisida jatuh di Distrik Pinggu dan menewaskan pilotnya.
CNN juga menyinggung pemerintah China yang sampai sekarang belum memberikan penjelasan resmi mengenai penyebab jatuhnya pesawat penumpang China Eastern Boeing 737-800 di Guangxi pada 2022 yang menewaskan 132 orang. Ini adalah salah satu kecelakaan udara paling mematikan di China dalam beberapa dekade terakhir. (REUTERS/AFP/AP)