Bentuknya menyerupai corong silinder berongga. Berbagai jenis serangga, seperti semut, lalat, dan lebah kerap bermain di lubang tersebut dan tak jarang terjebak di dalamnya. Secara umum, tumbuhan ini dikenal sebagai kantong semar, tumbuhan karnivora yang jamak ditemui di hutan Kalimantan.
Efta Daud (52), warga Kecamatan Krayan, Kalimantan utara, mengatakan, kantong semar sudah dekat dengan kehidupan warga di kampungnya yang terletak di dataran tinggi Krayan, di Kabupaten Nunukan. Warga setempat kerap memanfaatkannya untuk memasak beras ketan atau menanak beras khas Krayan.
Ia tak mengetahui jenis kantong semar yang tersebar di sana. Yang jelas, ukurannya kecil hingga sedang, berdiameter sekitar 10 centimeter. Untuk menanak beras ketan, kantong semar digunakan sebagai wadah sekaligus kemasan.
Setelah air dan beras dimasukkan ke dalam kantong semar, warga akan menatanya di dalam alat kukus. Setelah masak, warga tak perlu wadah untuk mengonsumsinya lantaran kantong semar berfungsi layaknya daun pisang pada kue nagasari.
“Kami menyebut kantong semar dalam bahasa Dayak Lun Dayeh sebagai sok ngang,” ujar Efta, dihubungi dari Balikpapan, Minggu (28/6/2026).
Krayan adalah dataran tinggi yang terletak sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut. Efta menyebut, sejumlah warga kerap menjumpai tumbuhan unik tersebut di ladang atau hutan. Beberapa warga membudidayakannya di halaman rumah sebagai tanaman hias dan keperluan memasak.

Hal itu juga bisa ditemui di Desa Wisata Sahan, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Warga membudidayakan kantong semar sebagai daya tarik wisata kuliner, yakni untuk membuat nasi lemang kantong semar.
Kantong semar atau Nepenthes adalah genus tumbuhan karnivora tropis yang termasuk dalam famili Nepenthaceae. Sebarannya mulai dari China hingga asia tenggara. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencatat, Indonesia saat ini menjadi pusat keanekaragaman kantong semar di dunia.
Dari 211 spesies yang telah ditemukan di dunia, sekitar 39 persen atau 83 jenis berada di Indonesia. Sebarannya meliputi Sumatera (39 jenis), Kalimantan (24 jenis), Sulawesi (14 jenis), Papua (13 jenis), Maluku (5 jenis), dan Jawa (3 jenis).
Perburuan liar
Dalam laman Kementerian Kehutanan, terdapat 59 jenis kantong semar yang dilindungi di seluruh Indonesia. Lantaran bentuk dan karakteristik uniknya, perburuan tumbuhan ini pernah merajalela di Kalimantan.
Pada 2007, setiap akhir pekan terjadi pembelian puluhan anggrek hutan dan kantong semar di Kalimantan Barat yang kemudian dibawa ke Malaysia secara ilegal. Di Kalimantan Tengah, perburuan kantong semar marak terjadi di Hutan Hampangin, Kecamatan Katingan Ilir, Kabupaten Katingan (Kompas, 24/10/2007).
Ancaman kantong semar di alam juga datang dari berbagai izin yang membolehkan pembukaan hutan dalam skala luas. Pada tahun 1990-an, misalnya, marak perusahaan kayu di Kalimantan yang kemudian bersalin menjadi kebun sawit dan tambang batu bara.
Sebenarnya, tumbuhan dilindungi bukan berarti tak boleh dimanfaatkan sama sekali. Untuk memanfaatkannya di luar habitat aslinya, seseorang atau lembaga mesti mengurus izin ke balai konservasi sumber daya alam (BKSDA) di setiap provinsi.
Pemanfaatannya bisa meliputi budidaya, tujuan komersial, atau dikembangkan untuk penelitian, pendidikan, dan konservasi. Pengambilan bibitnya pun diatur ketat dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No 18 Tahun 2024.
Khusus untuk kantong semar, beberapa cara yang aman untuk penangkaran adalah dengan mengambil biji, setek, dan memisahkan anakan dari induknya. Pemisahan anakan harus dilakukan hati-hati agar tidak melukai dan merusak batang indukan yang bisa menyebabkan kematian.
Di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, belasan jenis kantong semar bisa ditemui di Kebun Raya Balikpapan. Terdapat area Koridor Kantong Semar yang memajang koleksi kantong semar hidup di dalam pot.
“Pengunjung juga bisa melihat papan infografis untuk mengetahui lebih dalam tumbuhan ini,” ujar Rudi, petugas Kebun Raya Balikpapan.
Peran kantong semar
Kantong semar merupakan jenis flora yang dapat hidup pada tanah yang miskin unsur hara. Hariyadi dari Universitas Terbuka Palangka Raya dalam artikel ilmiah “Inventarisasi Tumbuhan Kantung Semar (Nepenthes spp.) di Lahan Gambut Bukit Rawi, Kalimatan Tengah” yang terbit dalam jurnal Biospecies Volume 6 Nomor 1, Januari 2013, mengatakan, Nepenthes mengembangkan kantongnya sebagai alat untuk memenuhi kekurangan suplai unsur hara, terutama nitrogen dan fosfor. Kemampuannya memangsa serangga merupakan mekanisme untuk mengatasi keterbatasan hara.
Para serangga akan mendekat ke kantong semar karena ia memproduksi nektar, cairan manis dan harum yang menjadi makanan favorit serangga. Serangga yang mendekat karena mencium aroma manis nektar yang diproduksi di sekitar bibir dan tutup kantong.
Bibir kantong dilapisi semacam lilin yang sangat licin. Kondisi tersebut akan membuat serangga terpeleset dan jatuh ke dalam cairan di dasar kantong. Serangga yang terjebak sulit keluar dari cairan, ditambah terdapat rambut-rambut halus yang menghadap ke bawah di dalam kantong.

Di dalam cairan kantong, terdapat enzim khusus yang berfungsi melarutkan tubuh dan kerangka keras serangga. Proses itulah yang membuat kantong semar bertahan hidup, selain memanfaatkan unsur hara di dalam tanah. Karakteristik unik ini yang membuatnya punya peran dalam mengontrol jumlah serangga di alam.
Muhammad Mansur dari BRIN menyebut, flora berkantung ini bahkan punya manfaat ekologis yang melebihi dari perannya sebagai pemangsa serangga. Di Halmahera Tengah, kata dia, Nepenthes weda mampu mengakumulasi logam berat.
”Beberapa jenis Nepenthes mampu mengakumulasi unsur logam berat, seperti timbal, mangan, besi, nikel, kobalt, tembaga, dan timah, sehingga berpotensi digunakan sebagai biomonitoring kondisi lingkungan,” katanya (Kompas, 24/6/2026).
Bentuknya menyerupai corong silinder berongga. Berbagai jenis serangga, seperti semut, lalat, dan lebah kerap bermain di lubang tersebut dan tak jarang terjebak di dalamnya. Secara umum, tumbuhan ini dikenal sebagai kantong semar, tumbuhan karnivora yang jamak ditemui di hutan Kalimantan.
Efta Daud (52), warga Kecamatan Krayan, Kalimantan utara, mengatakan, kantong semar sudah dekat dengan kehidupan warga di kampungnya yang terletak di dataran tinggi Krayan, di Kabupaten Nunukan. Warga setempat kerap memanfaatkannya untuk memasak beras ketan atau menanak beras khas Krayan.
Ia tak mengetahui jenis kantong semar yang tersebar di sana. Yang jelas, ukurannya kecil hingga sedang, berdiameter sekitar 10 centimeter. Untuk menanak beras ketan, kantong semar digunakan sebagai wadah sekaligus kemasan.

Setelah air dan beras dimasukkan ke dalam kantong semar, warga akan menatanya di dalam alat kukus. Setelah masak, warga tak perlu wadah untuk mengonsumsinya lantaran kantong semar berfungsi layaknya daun pisang pada kue nagasari.
“Kami menyebut kantong semar dalam bahasa Dayak Lun Dayeh sebagai sok ngang,” ujar Efta, dihubungi dari Balikpapan, Minggu (28/6/2026).
Krayan adalah dataran tinggi yang terletak sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut. Efta menyebut, sejumlah warga kerap menjumpai tumbuhan unik tersebut di ladang atau hutan. Beberapa warga membudidayakannya di halaman rumah sebagai tanaman hias dan keperluan memasak.

Hal itu juga bisa ditemui di Desa Wisata Sahan, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Warga membudidayakan kantong semar sebagai daya tarik wisata kuliner, yakni untuk membuat nasi lemang kantong semar.
Kantong semar atau Nepenthes adalah genus tumbuhan karnivora tropis yang termasuk dalam famili Nepenthaceae. Sebarannya mulai dari China hingga asia tenggara. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencatat, Indonesia saat ini menjadi pusat keanekaragaman kantong semar di dunia.
Dari 211 spesies yang telah ditemukan di dunia, sekitar 39 persen atau 83 jenis berada di Indonesia. Sebarannya meliputi Sumatera (39 jenis), Kalimantan (24 jenis), Sulawesi (14 jenis), Papua (13 jenis), Maluku (5 jenis), dan Jawa (3 jenis).
Perburuan liar
Dalam laman Kementerian Kehutanan, terdapat 59 jenis kantong semar yang dilindungi di seluruh Indonesia. Lantaran bentuk dan karakteristik uniknya, perburuan tumbuhan ini pernah merajalela di Kalimantan.
Pada 2007, setiap akhir pekan terjadi pembelian puluhan anggrek hutan dan kantong semar di Kalimantan Barat yang kemudian dibawa ke Malaysia secara ilegal. Di Kalimantan Tengah, perburuan kantong semar marak terjadi di Hutan Hampangin, Kecamatan Katingan Ilir, Kabupaten Katingan (Kompas, 24/10/2007).
Ancaman kantong semar di alam juga datang dari berbagai izin yang membolehkan pembukaan hutan dalam skala luas. Pada tahun 1990-an, misalnya, marak perusahaan kayu di Kalimantan yang kemudian bersalin menjadi kebun sawit dan tambang batu bara.
Sebenarnya, tumbuhan dilindungi bukan berarti tak boleh dimanfaatkan sama sekali. Untuk memanfaatkannya di luar habitat aslinya, seseorang atau lembaga mesti mengurus izin ke balai konservasi sumber daya alam (BKSDA) di setiap provinsi.
Pemanfaatannya bisa meliputi budidaya, tujuan komersial, atau dikembangkan untuk penelitian, pendidikan, dan konservasi. Pengambilan bibitnya pun diatur ketat dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No 18 Tahun 2024.
Baca JugaKantong Semar Punya Manfaat Ekologis, Bukan Cuma Pemangsa Serangga
Khusus untuk kantong semar, beberapa cara yang aman untuk penangkaran adalah dengan mengambil biji, setek, dan memisahkan anakan dari induknya. Pemisahan anakan harus dilakukan hati-hati agar tidak melukai dan merusak batang indukan yang bisa menyebabkan kematian.
Di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, belasan jenis kantong semar bisa ditemui di Kebun Raya Balikpapan. Terdapat area Koridor Kantong Semar yang memajang koleksi kantong semar hidup di dalam pot.
“Pengunjung juga bisa melihat papan infografis untuk mengetahui lebih dalam tumbuhan ini,” ujar Rudi, petugas Kebun Raya Balikpapan.
Peran kantong semar
Kantong semar merupakan jenis flora yang dapat hidup pada tanah yang miskin unsur hara. Hariyadi dari Universitas Terbuka Palangka Raya dalam artikel ilmiah “Inventarisasi Tumbuhan Kantung Semar (Nepenthes spp.) di Lahan Gambut Bukit Rawi, Kalimatan Tengah” yang terbit dalam jurnal Biospecies Volume 6 Nomor 1, Januari 2013, mengatakan, Nepenthes mengembangkan kantongnya sebagai alat untuk memenuhi kekurangan suplai unsur hara, terutama nitrogen dan fosfor. Kemampuannya memangsa serangga merupakan mekanisme untuk mengatasi keterbatasan hara.
Para serangga akan mendekat ke kantong semar karena ia memproduksi nektar, cairan manis dan harum yang menjadi makanan favorit serangga. Serangga yang mendekat karena mencium aroma manis nektar yang diproduksi di sekitar bibir dan tutup kantong.
Bibir kantong dilapisi semacam lilin yang sangat licin. Kondisi tersebut akan membuat serangga terpeleset dan jatuh ke dalam cairan di dasar kantong. Serangga yang terjebak sulit keluar dari cairan, ditambah terdapat rambut-rambut halus yang menghadap ke bawah di dalam kantong.

Di dalam cairan kantong, terdapat enzim khusus yang berfungsi melarutkan tubuh dan kerangka keras serangga. Proses itulah yang membuat kantong semar bertahan hidup, selain memanfaatkan unsur hara di dalam tanah. Karakteristik unik ini yang membuatnya punya peran dalam mengontrol jumlah serangga di alam.
Muhammad Mansur dari BRIN menyebut, flora berkantung ini bahkan punya manfaat ekologis yang melebihi dari perannya sebagai pemangsa serangga. Di Halmahera Tengah, kata dia, Nepenthes weda mampu mengakumulasi logam berat.
”Beberapa jenis Nepenthes mampu mengakumulasi unsur logam berat, seperti timbal, mangan, besi, nikel, kobalt, tembaga, dan timah, sehingga berpotensi digunakan sebagai biomonitoring kondisi lingkungan,” katanya (Kompas, 24/6/2026).
Baca JugaWaktunya Melindungi Kantong Semar Lereng Gunung Slamet