Kesepian kian menjadi masalah serius di kalangan generasi muda. Meski sering dianggap sebagai masalah pribadi, data menunjukkan kesepian menjadi fenomena sosial yang semakin meluas dan berdampak pada kesehatan mental anak muda.
Fenomena ini bahkan mencuat di tengah era keterhubungan digital, ketika seseorang bisa memiliki banyak teman atau pengikut di media sosial, tetapi tetap merasa sendirian.
Pengalaman Una Tata (23) menggambarkan situasi tersebut. Mahasiswa profesi psikologi di Surabaya ini mengaku didera kesepian sejak SMA. Perasaan semakin berat ketika kuliah, terutama saat mengerjakan skripsi karena ketiadaan dukungan dari lingkungan sekitar.
Tekanan akademik dan tuntutan keluarga membuatnya merasa berjuang sendirian hingga muncul pikiran untuk mengakhiri hidup. Kondisinya lalu membaik, tetapi ia masih harus tetap berjuang mengatasi rasa sepinya.
Kesepian yang dialami Una juga dialami banyak orang. Analisis Tim Jurnalisme Data Harian Kompas terhadap survei Litbang Kompas menunjukkan, hampir satu dari lima orang Indonesia (19,97 persen) mengaku merasa kesepian setidaknya sekali dalam sepekan. Sepertiga di antaranya bahkan mengalaminya hampir setiap hari. Survei digelar 16-19 Juni 2025 terhadap 512 responden.
Temuan ini sejalan dengan laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) 2025 yang menunjukkan prevalensi kesepian di Asia Tenggara mencapai 18,3 persen.
Negara perlu menyediakan ruang sosial yang inklusif dan masyarakat perlu saling dukung karena kesehatan mental adalah tanggung jawab bersama.
Tingkat kesepian tertinggi dialami kelompok usia 13–17 tahun (20,9 persen) dan 18-29 tahun (17,4 persen), diikuti kelompok dewasa 30-59 tahun (15,1 persen) dan warga lansia (11,8 persen).
Generasi muda di Yogyakarta yang dikenal sebagai kota pendidikan yang ramah bahkan tak luput dari fenomena ini. Tingginya jumlah mahasiswa perantau yang tinggal sendiri membuat kota ini menempati posisi tertinggi dalam indeks kota rentan kesepian. Menyusul Yogyakarta adalah Jakarta Pusat.
Pentingnya penanganan masalah ini sejak dini ditegaskan lewat hasil analisis Tim Jurnalisme Data Harian Kompas (Kompas.id) terhadap data Global School-based Health Survey (GSHS) hasil kerja sama WHO dan Kementerian Kesehatan RI.
Dalam kurun 2007–2023, proporsi remaja Indonesia (13-15 tahun) yang merasa kesepian meningkat dari 8,7 persen menjadi 19 persen. Proporsi remaja yang tidak memiliki teman dekat juga melonjak 150 persen.
Pada periode yang sama, persentase pelajar yang pernah serius mempertimbangkan bunuh diri juga naik dua kali lipat lebih, dari 4 persen menjadi 8,5 persen.
Para ahli menilai, kesepian di kalangan generasi muda tidak cukup ditangani sebagai persoalan individu. Perubahan struktur sosial, menyempitnya ruang interaksi, dan lemahnya koneksi sosial turut berkontribusi.
Karena itu, kampus, keluarga, masyarakat, dan negara perlu bersama-sama menciptakan ruang yang inklusif, mendukung kesehatan mental, serta membantu anak muda membangun hubungan sosial yang bermakna.
Kesepian pada generasi muda bukan sekadar rasa hampa, melainkan tantangan sosial yang dapat memengaruhi kualitas hidup, produktivitas, dan kohesi sosial di masa depan.
”Negara perlu menyediakan ruang sosial yang inklusif dan masyarakat perlu saling dukung karena kesehatan mental adalah tanggung jawab bersama,” kata sosiolog dari Universitas Gadjah Mada, Wahyu Kustiningsih (Kompas, 3/11/2025).
Kesepian kian menjadi masalah serius di kalangan generasi muda. Meski sering dianggap sebagai masalah pribadi, data menunjukkan kesepian menjadi fenomena sosial yang semakin meluas dan berdampak pada kesehatan mental anak muda.
Fenomena ini bahkan mencuat di tengah era keterhubungan digital, ketika seseorang bisa memiliki banyak teman atau pengikut di media sosial, tetapi tetap merasa sendirian.




Serial Artikel



:quality(80)/https://cdn-dam.kompas.id/images/2025/07/26/5252bc103cd5d22dc48bb1b92a57b97c-20250726ronM.jpg)
Baca Artikel
Pengalaman Una Tata (23) menggambarkan situasi tersebut. Mahasiswa profesi psikologi di Surabaya ini mengaku didera kesepian sejak SMA. Perasaan semakin berat ketika kuliah, terutama saat mengerjakan skripsi karena ketiadaan dukungan dari lingkungan sekitar.
Tekanan akademik dan tuntutan keluarga membuatnya merasa berjuang sendirian hingga muncul pikiran untuk mengakhiri hidup. Kondisinya lalu membaik, tetapi ia masih harus tetap berjuang mengatasi rasa sepinya.

Kesepian yang dialami Una juga dialami banyak orang. Analisis Tim Jurnalisme Data Harian Kompas terhadap survei Litbang Kompas menunjukkan, hampir satu dari lima orang Indonesia (19,97 persen) mengaku merasa kesepian setidaknya sekali dalam sepekan. Sepertiga di antaranya bahkan mengalaminya hampir setiap hari. Survei digelar 16-19 Juni 2025 terhadap 512 responden.
Temuan ini sejalan dengan laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) 2025 yang menunjukkan prevalensi kesepian di Asia Tenggara mencapai 18,3 persen.
Negara perlu menyediakan ruang sosial yang inklusif dan masyarakat perlu saling dukung karena kesehatan mental adalah tanggung jawab bersama.
Tingkat kesepian tertinggi dialami kelompok usia 13–17 tahun (20,9 persen) dan 18-29 tahun (17,4 persen), diikuti kelompok dewasa 30-59 tahun (15,1 persen) dan warga lansia (11,8 persen).
Generasi muda di Yogyakarta yang dikenal sebagai kota pendidikan yang ramah bahkan tak luput dari fenomena ini. Tingginya jumlah mahasiswa perantau yang tinggal sendiri membuat kota ini menempati posisi tertinggi dalam indeks kota rentan kesepian. Menyusul Yogyakarta adalah Jakarta Pusat.
Pentingnya penanganan masalah ini sejak dini ditegaskan lewat hasil analisis Tim Jurnalisme Data Harian Kompas (Kompas.id) terhadap data Global School-based Health Survey (GSHS) hasil kerja sama WHO dan Kementerian Kesehatan RI.
Dalam kurun 2007–2023, proporsi remaja Indonesia (13-15 tahun) yang merasa kesepian meningkat dari 8,7 persen menjadi 19 persen. Proporsi remaja yang tidak memiliki teman dekat juga melonjak 150 persen.
Pada periode yang sama, persentase pelajar yang pernah serius mempertimbangkan bunuh diri juga naik dua kali lipat lebih, dari 4 persen menjadi 8,5 persen.
Para ahli menilai, kesepian di kalangan generasi muda tidak cukup ditangani sebagai persoalan individu. Perubahan struktur sosial, menyempitnya ruang interaksi, dan lemahnya koneksi sosial turut berkontribusi.
Karena itu, kampus, keluarga, masyarakat, dan negara perlu bersama-sama menciptakan ruang yang inklusif, mendukung kesehatan mental, serta membantu anak muda membangun hubungan sosial yang bermakna.





Serial Artikel





Baca Artikel
Kesepian pada generasi muda bukan sekadar rasa hampa, melainkan tantangan sosial yang dapat memengaruhi kualitas hidup, produktivitas, dan kohesi sosial di masa depan.
”Negara perlu menyediakan ruang sosial yang inklusif dan masyarakat perlu saling dukung karena kesehatan mental adalah tanggung jawab bersama,” kata sosiolog dari Universitas Gadjah Mada, Wahyu Kustiningsih (Kompas, 3/11/2025).