Sejak dua gempa besar mengguncang, tim pencari dan warga mulai yakin tak ada tanda-tanda kehidupan di bawah reruntuhan bangunan di La Guaira, Venezuela. Kota itu terdampak paling parah terdampak gempa berkekuatan M 7,2 dan M 7,5 pada Rabu (24/6/2026).
Namun, pada Minggu (28/6/2026), tim penyelamat gabungan dari Amerika Serikat, Perancis, dan Venezuela berhasil menyelamatkan seorang pria dan anaknya yang terjebak reruntuhan selama empat hari. “Pelan, pelan, tenang, tenang,” kata penyelamat.
Perlahan mereka membawa sang ayah. Tubuhnya lemas, tetapi masih menggenggam ponselnya. Mereka membaringkan dia di atas terpal dan memberinya infus.
Tak lama putranya yang masih kecil berhasil ditarik. Ia tak memakai kaus dan hampir tak sadarkan diri.
Keberhasilan itu disambut tepuk tangan dari tim penyelamat dan warga yang telah beberapa hari berupaya mencari dan menyelamatkan korban. Hingga Minggu, otoritas melaporkan jumlah korban tewas mencapai 1.450 orang. Ribuan orang terluka, dan puluhan ribu orang dilaporkan hilang.
Laporan dua wartawan Associated Press (AP) menyebutkan, mereka tengah menyisir wilayah La Guaira ketika melihat penyelamatan ayah dan anak itu. “Pada tahap ini, banyak orang mulai kehilangan harapan. Anda bisa melihatnya di wajah mereka. Ketika seseorang berhasil keluar hidup-hidup, itu adalah harapan nyata bagi orang-orang,” ujar Juan Pablo Arraez, salah satu wartawan AP.
Ada jendela waktu sekitar tiga hari, 72 jam, dan kemungkinan setelah (jendela waktu) itu menurun untuk menyelamatkan orang hidup-hidup.
Tim penyelamat Kolombia menyelamatkan seorang anak laki-laki berusia 11 tahun, Moises. Ia terjebak sekitar 3 meter di bawah reruntuhan. Lengannya patah dan matanya mesti ditutup kain untuk melindungi dari sinar matahari. Ia selamat, tetapi kehilangan ibu dan saudarinya yang tewas.
Di tempat lain, seorang perempuan duduk di atas tandu. Ia meringis dan melambaikan tangan kepada kerumunan orang yang bersorak saat ia diangkut ke dalam ambulans. Ia bertahan selama 70 jam di bawah reruntuhan.
Seorang petugas pemadam kebakaran terlihat menuangkan air ke mulut seekor anjing yang tubuhnya terperangkap di bawah reruntuhan. Kepalanya mengintip lewat celah-celah beton yang hancur.
Sementara tim dari Swiss menemukan beberapa orang hidup di bawah reruntuhan berkat peringatan dari delapan anjing pelacak. Namun, mereka belum dapat menarik para korban keluar tepat waktu.
“Ada jendela waktu sekitar tiga hari, 72 jam, dan kemungkinan setelah (jendela waktu) itu menurun untuk menyelamatkan orang hidup-hidup,” kata Sebastian Eugster, pemimpin regu penyelamat Swiss.
Warga bersama tim penyelamat lokal dan internasional pun berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan sebanyak mungkin penyintas dari bawah reruntuhan. Presiden Interim Venezuela Delcy Rodriguez, Minggu malam, mengatakan, meski batas periode terlewati, pencarian korban selamat akan terus dilanjutkan. Setidaknya 33 orang berhasil ditarik dari bawah reruntuhan sepanjang akhir pekan lalu.

Mempertahankan harapan
Banyak warga Venezuela yang masih berjuang mempertahankan harapan di tengah situasi yang semakin membuat putus asa. Dilaporkan ada setidaknya 50.000 orang hilang. Belum jelas bagaimana bisa menemukan orang sebanyak itu setelah lebih dari empat hari gempa. Apalagi risiko kerusakan lebih lanjut tetap ada karena gempa susulan terus mengguncang Venezuela. Pada Minggu pagi waktu setempat dilaporkan terjadi gempa berkekuatan M 4,2 dan M 4,5.
Sekitar 2.600 petugas penyelamat dari berbagai negara di dunia telah tiba di Venezuela bersama anjing pelacak terlatih dan peralatan pendukung. “Ini pekerjaan yang sangat berat, tetapi kami terus berjuang. Kami tidak pernah kehilangan harapan,” ujar Jason Mercano, salah satu warga.
Ia berhasil berkomunikasi dengan keluarganya yang terkubur di bawah reruntuhan. Bersama tim penyelamat, ia berusaha menarik mereka keluar.
Di bagian lain La Guaira, Helen Guedez dan ibunya masih terguncang. Berhari-hari mereka berusaha menyelamatkan sang ayah, Jesus, dari apartemen mereka yang runtuh. Guedez merasa ada secercah harapan ketika tim penyelamat dari AS datang memeriksa bangunan dan memastikan ayahnya masih hidup di bawah reruntuhan. Namun, menurut tim penyelamat, gedung itu terlalu tidak stabil untuk dimasuki.
Guedez bertekad menyelamatkan ayahnya dengan atau tanpa bantuan tim penyelamat. Ia bekerja sama dengan relawan sipil dan penambang setempat untuk mengeluarkan ayahnya. “Kami tidak akan menyerah. Anggota tim lainnya bersedia melanjutkan. Mereka tahu ada cara lain untuk mengeluarkannya dan akan terus bekerja sampai akhir,” tuturnya.

Lapisan debu masih menyelimuti La Guaira, komunitas di pesisir Venezuela. Bau menyengat semakin menyebar sehingga banyak orang mengenakan masker.
Pihak berwenang mengatakan, lebih dari 770 bangunan runtuh seluruhnya atau sebagian akibat gempa. PBB mengatakan, sekitar 6,8 juta dari 30 juta penduduk Venezuela terdampak gempa.
Laporan di stasiun televisi milik pemerintah menyebutkan, lebih dari 14.000 anggota militer dan polisi berpatroli di La Guaira. Akses masuk ke wilayah itu dibatasi ketat dan perlu izin khusus untuk masuk.
Periode 48-72 jam pertama setelah bencana sangat penting untuk upaya penyelamatan. Setelah lewat periode itu, harapan korban akan bertahan hidup mulai memudar.
Namun, momen-momen kecil yang membangkitkan optimisme, solidaritas, dan kemanusiaan menembus kesedihan yang nyaris tak tertahankan. (AP/Reuters)
Sejak dua gempa besar mengguncang, tim pencari dan warga mulai yakin tak ada tanda-tanda kehidupan di bawah reruntuhan bangunan di La Guaira, Venezuela. Kota itu terdampak paling parah terdampak gempa berkekuatan M 7,2 dan M 7,5 pada Rabu (24/6/2026).
Namun, pada Minggu (28/6/2026), tim penyelamat gabungan dari Amerika Serikat, Perancis, dan Venezuela berhasil menyelamatkan seorang pria dan anaknya yang terjebak reruntuhan selama empat hari. “Pelan, pelan, tenang, tenang,” kata penyelamat.
Perlahan mereka membawa sang ayah. Tubuhnya lemas, tetapi masih menggenggam ponselnya. Mereka membaringkan dia di atas terpal dan memberinya infus.
Tak lama putranya yang masih kecil berhasil ditarik. Ia tak memakai kaus dan hampir tak sadarkan diri.

Keberhasilan itu disambut tepuk tangan dari tim penyelamat dan warga yang telah beberapa hari berupaya mencari dan menyelamatkan korban. Hingga Minggu, otoritas melaporkan jumlah korban tewas mencapai 1.450 orang. Ribuan orang terluka, dan puluhan ribu orang dilaporkan hilang.
Laporan dua wartawan Associated Press (AP) menyebutkan, mereka tengah menyisir wilayah La Guaira ketika melihat penyelamatan ayah dan anak itu. “Pada tahap ini, banyak orang mulai kehilangan harapan. Anda bisa melihatnya di wajah mereka. Ketika seseorang berhasil keluar hidup-hidup, itu adalah harapan nyata bagi orang-orang,” ujar Juan Pablo Arraez, salah satu wartawan AP.
Ada jendela waktu sekitar tiga hari, 72 jam, dan kemungkinan setelah (jendela waktu) itu menurun untuk menyelamatkan orang hidup-hidup.
Tim penyelamat Kolombia menyelamatkan seorang anak laki-laki berusia 11 tahun, Moises. Ia terjebak sekitar 3 meter di bawah reruntuhan. Lengannya patah dan matanya mesti ditutup kain untuk melindungi dari sinar matahari. Ia selamat, tetapi kehilangan ibu dan saudarinya yang tewas.
Di tempat lain, seorang perempuan duduk di atas tandu. Ia meringis dan melambaikan tangan kepada kerumunan orang yang bersorak saat ia diangkut ke dalam ambulans. Ia bertahan selama 70 jam di bawah reruntuhan.


Serial Artikel


Baca Artikel
Seorang petugas pemadam kebakaran terlihat menuangkan air ke mulut seekor anjing yang tubuhnya terperangkap di bawah reruntuhan. Kepalanya mengintip lewat celah-celah beton yang hancur.
Sementara tim dari Swiss menemukan beberapa orang hidup di bawah reruntuhan berkat peringatan dari delapan anjing pelacak. Namun, mereka belum dapat menarik para korban keluar tepat waktu.
“Ada jendela waktu sekitar tiga hari, 72 jam, dan kemungkinan setelah (jendela waktu) itu menurun untuk menyelamatkan orang hidup-hidup,” kata Sebastian Eugster, pemimpin regu penyelamat Swiss.
Warga bersama tim penyelamat lokal dan internasional pun berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan sebanyak mungkin penyintas dari bawah reruntuhan. Presiden Interim Venezuela Delcy Rodriguez, Minggu malam, mengatakan, meski batas periode terlewati, pencarian korban selamat akan terus dilanjutkan. Setidaknya 33 orang berhasil ditarik dari bawah reruntuhan sepanjang akhir pekan lalu.

Mempertahankan harapan
Banyak warga Venezuela yang masih berjuang mempertahankan harapan di tengah situasi yang semakin membuat putus asa. Dilaporkan ada setidaknya 50.000 orang hilang. Belum jelas bagaimana bisa menemukan orang sebanyak itu setelah lebih dari empat hari gempa. Apalagi risiko kerusakan lebih lanjut tetap ada karena gempa susulan terus mengguncang Venezuela. Pada Minggu pagi waktu setempat dilaporkan terjadi gempa berkekuatan M 4,2 dan M 4,5.
Sekitar 2.600 petugas penyelamat dari berbagai negara di dunia telah tiba di Venezuela bersama anjing pelacak terlatih dan peralatan pendukung. “Ini pekerjaan yang sangat berat, tetapi kami terus berjuang. Kami tidak pernah kehilangan harapan,” ujar Jason Mercano, salah satu warga.
Baca JugaVenezuela Darurat Nasional, AS dan China Bergegas Tawarkan Bantuan
Ia berhasil berkomunikasi dengan keluarganya yang terkubur di bawah reruntuhan. Bersama tim penyelamat, ia berusaha menarik mereka keluar.
Di bagian lain La Guaira, Helen Guedez dan ibunya masih terguncang. Berhari-hari mereka berusaha menyelamatkan sang ayah, Jesus, dari apartemen mereka yang runtuh. Guedez merasa ada secercah harapan ketika tim penyelamat dari AS datang memeriksa bangunan dan memastikan ayahnya masih hidup di bawah reruntuhan. Namun, menurut tim penyelamat, gedung itu terlalu tidak stabil untuk dimasuki.
Guedez bertekad menyelamatkan ayahnya dengan atau tanpa bantuan tim penyelamat. Ia bekerja sama dengan relawan sipil dan penambang setempat untuk mengeluarkan ayahnya. “Kami tidak akan menyerah. Anggota tim lainnya bersedia melanjutkan. Mereka tahu ada cara lain untuk mengeluarkannya dan akan terus bekerja sampai akhir,” tuturnya.

Lapisan debu masih menyelimuti La Guaira, komunitas di pesisir Venezuela. Bau menyengat semakin menyebar sehingga banyak orang mengenakan masker.
Pihak berwenang mengatakan, lebih dari 770 bangunan runtuh seluruhnya atau sebagian akibat gempa. PBB mengatakan, sekitar 6,8 juta dari 30 juta penduduk Venezuela terdampak gempa.
Laporan di stasiun televisi milik pemerintah menyebutkan, lebih dari 14.000 anggota militer dan polisi berpatroli di La Guaira. Akses masuk ke wilayah itu dibatasi ketat dan perlu izin khusus untuk masuk.
Baca JugaJepang Bertahan, Venezuela Hancur: Pelajaran dari Dua Gempa Besar Hari Ini
Periode 48-72 jam pertama setelah bencana sangat penting untuk upaya penyelamatan. Setelah lewat periode itu, harapan korban akan bertahan hidup mulai memudar.
Namun, momen-momen kecil yang membangkitkan optimisme, solidaritas, dan kemanusiaan menembus kesedihan yang nyaris tak tertahankan. (AP/Reuters)