اخبار

Anton Prijatno, “Pejuang” Universitas Surabaya Berpulang

الكاتبabdulrahman-mustafaتاريخ النشر
Anton Prijatno, “Pejuang” Universitas Surabaya Berpulang

Keluarga Besar Universitas Surabaya atau Ubaya, Jawa Timur, berduka atas kepergian salah satu putra terbaiknya, Anton Prijatno. Ketua Umum Yayasan Ubaya itu meninggal dunia di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura, Sabtu (27/6/2026), pukul 18.21 WIB.

Anton wafat setelah menjalani perawatan akibat sakit dalam usia 77 tahun. Kepergiannya menjadi kehilangan besar bagi Ubaya mengingat perjuangan dan dedikasinya sejak masih menjadi mahasiswa. Anton menjabat sebagai Rektor Ubaya selama dua periode, yakni 1994-1999 dan 1999-2003. Setelah purna tugas sebagai rektor ketiga, sejak 2007 hingga akhir hayatnya, Anton dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Umum Yayasan Ubaya.

Mengutip arsip.ubaya.ac.id, pada masa kepemimpinan Anton sebagai rektor, Ubaya berkembang menjadi perguruan tinggi swasta yang semakin dikenal di tingkat nasional maupun internasional. Anton juga menjadi salah satu tokoh yang membidani lahirnya Forum Rektor. Selain itu, ia aktif di Association of Universities of Asia and the Pacific (AUAP), organisasi yang memiliki status konsultatif di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (Unesco).

Di era kepemimpinannya, Ubaya membentuk dan mengembangkan sejumlah pusat studi, antara lain Pusat Studi Hak Asasi Manusia (1995), Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan (Pusbangdaya) (1995), Pusat Studi Lingkungan (1995), Pusat Pembinaan (Pusbin) (1995), Pusat Informasi Obat dan Layanan Kefarmasian (PIOLK) (1999), serta Pusat Informasi dan Pengembangan Obat Tradisional (PIPOT) (2001).

Gedung perpustakaan enam lantai yang mulai dibangun pada 1989 mulai dioperasikan pada 1995. Pada masa Reformasi 1998, Anton bersama sivitas akademika Ubaya turut mengawal gerakan yang mengakhiri pemerintahan Presiden Ke-2 RI Soeharto. Pada 2002, ia juga menginisiasi pendirian Pusat Arsip dan Museum Ubaya sebagai upaya melestarikan sejarah perjalanan kampus yang berakar sejak embrionya pada 1960.

Dalam keterangan resmi, Rektor Ubaya Benny Lianto menyatakan Anton, yang lahir pada 17 Mei 1949, merupakan tokoh penting dalam perjalanan dan perkembangan kampus tersebut. Menurut Benny, Anton adalah mahaguru yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk kemajuan Ubaya.

“Visi luhur dan dedikasi beliau terhadap pemajuan Ubaya akan selalu kami kenang dan terus hidup dalam perjalanan institusi ini,” ujar Benny.

Anton merupakan alumnus Ubaya. Semasa kuliah, ia dikenal sebagai Ketua Dewan Mahasiswa yang memiliki semangat menjadi aktivis sosial-politik. Setelah lulus, Anton mengabdikan diri di Ubaya sebagai dosen. Kariernya kemudian berkembang menjadi sekretaris, pembantu rektor, rektor, hingga Ketua Umum Yayasan Ubaya. Perjalanan pengabdiannya mencerminkan dedikasi yang utuh bagi almamaternya.

Berdasarkan informasi dari Direktorat Marketing dan Public Relations Ubaya, jenazah Anton telah diterbangkan dari Singapura ke Surabaya. Mendiang disemayamkan di Rumah Duka Adi Jasa. Misa Requiem akan dilaksanakan pada Selasa (30/6/2026) pukul 19.00 WIB dan Rabu (1/7/2026) pukul 19.00 WIB.

Sehari kemudian, Kamis (2/7/2026) pukul 08.00 WIB, akan dilaksanakan ibadah pemberangkatan jenazah. Selanjutnya, jenazah akan dibawa ke Kampus Tenggilis untuk mendapat penghormatan terakhir dari sivitas akademika. Prosesi penghormatan dan pelepasan akan berlangsung di Lantai 1 Gedung Perpustakaan Ubaya pukul 09.00 WIB.

Dari Kampus Ubaya, jenazah Anton akan diberangkatkan menuju tempat peristirahatan terakhir di Puncak Nirwana Memorial Park, Lawang, Kabupaten Malang. Selamat jalan, Pak Anton.

Keluarga Besar Universitas Surabaya atau Ubaya, Jawa Timur, berduka atas kepergian salah satu putra terbaiknya, Anton Prijatno. Ketua Umum Yayasan Ubaya itu meninggal dunia di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura, Sabtu (27/6/2026), pukul 18.21 WIB.

Anton wafat setelah menjalani perawatan akibat sakit dalam usia 77 tahun. Kepergiannya menjadi kehilangan besar bagi Ubaya mengingat perjuangan dan dedikasinya sejak masih menjadi mahasiswa. Anton menjabat sebagai Rektor Ubaya selama dua periode, yakni 1994-1999 dan 1999-2003. Setelah purna tugas sebagai rektor ketiga, sejak 2007 hingga akhir hayatnya, Anton dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Umum Yayasan Ubaya.

Mengutip arsip.ubaya.ac.id, pada masa kepemimpinan Anton sebagai rektor, Ubaya berkembang menjadi perguruan tinggi swasta yang semakin dikenal di tingkat nasional maupun internasional. Anton juga menjadi salah satu tokoh yang membidani lahirnya Forum Rektor. Selain itu, ia aktif di Association of Universities of Asia and the Pacific (AUAP), organisasi yang memiliki status konsultatif di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (Unesco).

Di era kepemimpinannya, Ubaya membentuk dan mengembangkan sejumlah pusat studi, antara lain Pusat Studi Hak Asasi Manusia (1995), Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan (Pusbangdaya) (1995), Pusat Studi Lingkungan (1995), Pusat Pembinaan (Pusbin) (1995), Pusat Informasi Obat dan Layanan Kefarmasian (PIOLK) (1999), serta Pusat Informasi dan Pengembangan Obat Tradisional (PIPOT) (2001).

Gedung perpustakaan enam lantai yang mulai dibangun pada 1989 mulai dioperasikan pada 1995. Pada masa Reformasi 1998, Anton bersama sivitas akademika Ubaya turut mengawal gerakan yang mengakhiri pemerintahan Presiden Ke-2 RI Soeharto. Pada 2002, ia juga menginisiasi pendirian Pusat Arsip dan Museum Ubaya sebagai upaya melestarikan sejarah perjalanan kampus yang berakar sejak embrionya pada 1960.

Baca JugaUbaya Terima Penghargaan Standar Nasional Indonesia Kelima KaliBaca JugaUniversitas Surabaya

Dalam keterangan resmi, Rektor Ubaya Benny Lianto menyatakan Anton, yang lahir pada 17 Mei 1949, merupakan tokoh penting dalam perjalanan dan perkembangan kampus tersebut. Menurut Benny, Anton adalah mahaguru yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk kemajuan Ubaya.

“Visi luhur dan dedikasi beliau terhadap pemajuan Ubaya akan selalu kami kenang dan terus hidup dalam perjalanan institusi ini,” ujar Benny.

Anton merupakan alumnus Ubaya. Semasa kuliah, ia dikenal sebagai Ketua Dewan Mahasiswa yang memiliki semangat menjadi aktivis sosial-politik. Setelah lulus, Anton mengabdikan diri di Ubaya sebagai dosen. Kariernya kemudian berkembang menjadi sekretaris, pembantu rektor, rektor, hingga Ketua Umum Yayasan Ubaya. Perjalanan pengabdiannya mencerminkan dedikasi yang utuh bagi almamaternya.

Ketua Umum Yayasan Ubaya Anton Prijatno yang juga Rektor Ubaya 1994-1999 dan 1999-2003 semasa hidup.

Berdasarkan informasi dari Direktorat Marketing dan Public Relations Ubaya, jenazah Anton telah diterbangkan dari Singapura ke Surabaya. Mendiang disemayamkan di Rumah Duka Adi Jasa. Misa Requiem akan dilaksanakan pada Selasa (30/6/2026) pukul 19.00 WIB dan Rabu (1/7/2026) pukul 19.00 WIB.

Sehari kemudian, Kamis (2/7/2026) pukul 08.00 WIB, akan dilaksanakan ibadah pemberangkatan jenazah. Selanjutnya, jenazah akan dibawa ke Kampus Tenggilis untuk mendapat penghormatan terakhir dari sivitas akademika. Prosesi penghormatan dan pelepasan akan berlangsung di Lantai 1 Gedung Perpustakaan Ubaya pukul 09.00 WIB.

Dari Kampus Ubaya, jenazah Anton akan diberangkatkan menuju tempat peristirahatan terakhir di Puncak Nirwana Memorial Park, Lawang, Kabupaten Malang. Selamat jalan, Pak Anton.

Baca JugaRS Ubaya Membuka Fasilitas Perawatan Warga Lansia Saat Libur LebaranBaca JugaNugget Daun Kelor Karya Mahasiswa Ubaya