اخبار

Tim Iran Pulang Tanpa Dendam

الكاتبabdulrahman-mustafaتاريخ النشر
Tim Iran Pulang Tanpa Dendam

Tim Iran sudah tersingkir di fase grup Piala Dunia 2026. Keberuntungan tidak memihak ”Tim Melli”. Mereka pulang dengan tangan hampa, tetapi Mehdi Taremi dan kawan-kawan meninggalkan kenang-kenangan yang indah dan sangat menyentuh.

Kenang-kenangan itu berupa pesan pada secarik kertas yang ditinggalkan di ruang ganti Stadion Los Angeles setelah pertandingan Grup G antara Belgia dan Iran, Senin (22/6/2026) dini hari WIB. Pertandingan kedua bagi tim Iran di Piala Dunia 2026 itu berakhir seri, 0-0.

Mengutip laman ESPN, pesan yang ditulis dengan tangan tersebut disebarluaskan oleh Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI). Isi pesan tersebut adalah sebagai berikut:

”Dari Persia kuno ribuan tahun yang lalu hingga Iran yang beradab saat ini, semangat Iran tetap hidup dan teguh. Kami datang ke Los Angeles dengan bangga, bertanding dengan terhormat, dan pergi dengan bermartabat”.

”Terima kasih, Los Angeles, atas keramahan Anda. Dan, terima kasih kepada setiap warga Iran yang telah memberikan hati, suara, dan jiwa mereka untuk Iran selama 180 menit ini. Semoga perdamaian, rasa hormat, dan persahabatan terjalin di antara semua bangsa”.

Seperti diketahui, tim Iran menghadapi rintangan yang sangat berat untuk bisa tampil di Piala Dunia yang digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada itu. Gara-gara perang AS-Isreal dengan Iran, tim Iran dipersulit untuk bisa masuk wilayah AS. Bahkan, Iran terpaksa memindahkan markas tim dari Tucson, Arizona, AS, ke Tijuana, Meksiko, gara-gara terhambat visa.

Setelah menimbulkan protes keras, Pemerintah AS melunak. Timnas Iran hanya dibolehkan masuk ke AS dalam 24 jam sebelum pertandingan dan harus keluar dari AS pada hari yang sama. Perlakuan tidak adil itu menyebabkan pemain Iran melakukan perjalanan bolak-balik yang membuat persiapan dan pemulihan fisik pemain tidak maksimal.

Akibatnya bisa ditebak, dalam tiga laga Grup G, Iran tidak pernah menang. Pada laga pertama melawan Selandia Baru, Iran menahan imbang 2-2 dan 0-0 melawan Belgia. Pada laga terakhir Grup G, Iran kembali bermain seri melawan Mesir, 1-1.

Iran mengantongi tiga poin yang membuatnya tidak langsung tersingkir karena masih berpeluang menjadi tim peringkat ketiga terbaik, tetapi nasib Iran tergantung pada hasil pertandingan tim lain. Salah satu hasil laga paling berpengaruh adalah pertandingan Grup J antara Aljazair dan Austria. Jika Aljazair atau Austria menang, Iran akan masuk sebagai salah satu tim peringkat ketiga terbaik.

Takdir tim Iran sudah digariskan. Laga Aljazair dan Austria berakhir imbang 3-3, walaupun Aljazair sempat unggul, 3-2, sebelum Austria menyamakan skor pada menit ke-90+6. Iran pun tersingkir, sedangkan Austria dan Aljazair lolos ke babak 32 besar. Puluhan ribu pendukung Iran di Teheran yang menyaksikan dari layar televisi cuma bisa menahan kecewa.

Siapa yang mestinya bertanggung jawab? FIFA. Mereka seharusnya menyelesaikan setiap masalah di sini, tetapi celakanya mereka tidak mampu melakukannya dari awal.

Mengutip laman Al-Jazeera, ada pihak yang menduga pertandingan itu ”sudah diatur”. Pelatih kepala Austria Ralf Rangnick membantah tuduhan itu. ”Jika Alfred Hitchcock (penulis cerita detektif dan sutradara film horor) menulis drama seperti itu, saya mungkin akan mengatakan dia benar-benar gila,” kata Rangnick.

Beberapa jam sebelum pertandingan, Javad Khiabani, seorang presenter olahraga yang terkenal kontroversial, merilis pesan video dalam bahasa Arab, yang ditujukan kepada ”saudara-saudara Muslim di Aljazair”. Ia meminta Aljazir mengalahkan Austria agar Iran, negara mayoritas Muslim yang telah menderita perang, untuk lolos.

Iran's Ramin Rezaeian (23) battles for the ball with Egypt's Trezeguet (7) during the World Cup Group G soccer match between Egypt and Iran in Seattle, Friday, June 26, 2026. (AP Photo/Lindsey Wasson)

Selalu dikenang

Pihak media tim Iran menyatakan, Tim Melli akan pulang pada Senin (29/6/2026) petang waktu Tijuana, Meksiko, atau Selasa (30/6/2026) pagi WIB. Pihak media tim Iran belum memberikan pernyataan apa pun selain jadwal kepulangan tim.

Sebelumnya, Pelatih Iran Amir Ghalenoei mengungkapkan, sangat banyak kesulitan yang dihadapi timnya di Piala Dunia kali ini. Kesulitan itu adalah ruwetnya urusan visa untuk memasuki AS serta kurangnya waktu persiapan sebelum turnamen dimulai. Akibat perang, timnas Iran harus melakukan latihan di Turki. Ia juga dengan keras menyebut Iran sebagai ”tim yang paling tertindas di seluruh Piala Dunia”.

Kapten Iran Mehdi Taremi mengamini pernyataan Ghalenoei. Ia berkata singkat setelah laga melawan Mesir, ”Ini adalah bencana Piala Dunia. Sebuah bencana.”

”Siapa yang mestinya bertanggung jawab? FIFA. Mereka seharusnya menyelesaikan setiap masalah di sini, tetapi celakanya mereka tidak mampu melakukannya dari awal,” ujarnya melanjutkan.

Tim Iran telah tersingkir dari Piala Dunia, tetapi mereka bukan tim pecundang. Mereka sudah memenangi simpati dari jutaan warga dunia yang mendambakan perdamaian dan kesetaraan di muka bumi ini.

Suporter mengibarkan bendera Iran selama pertandingan sepak bola Grup G Piala Dunia antara Iran dan Selandia Baru di Inglewood, California, Los Angeles, Senin (15/6/ 2026) 

(AP Photo/Mark J. Terrill)

Farhad, seorang warga Teheran, mengatakan kepada Al Jazeera, beberapa dekade dari sekarang, orang-orang barangkali akan mengingat Tim Melli bukan hanya sebagai perwakilan Republik Islam Iran, melainkan juga karena warisan sejarah sepak bola yang ditinggalkannya.

”Secara pribadi, saya lebih suka jika mereka lolos, tetapi saya tidak hancur karena mereka tidak lolos,” katanya.

Tim Iran meninggalkan Piala Dunia tanpa menyimpan dendam meskipun AS baru-baru ini kembali menyerang Iran setelah upaya gencatan senjata menemui jalan buntu. Semoga perdamaian sejati akan terwujud, seperti harapan yang ditinggalkan dalam secarik kertas di ruang ganti Stadion Los Angeles itu. (AFP)

Tim Iran sudah tersingkir di fase grup Piala Dunia 2026. Keberuntungan tidak memihak ”Tim Melli”. Mereka pulang dengan tangan hampa, tetapi Mehdi Taremi dan kawan-kawan meninggalkan kenang-kenangan yang indah dan sangat menyentuh.

Kenang-kenangan itu berupa pesan pada secarik kertas yang ditinggalkan di ruang ganti Stadion Los Angeles setelah pertandingan Grup G antara Belgia dan Iran, Senin (22/6/2026) dini hari WIB. Pertandingan kedua bagi tim Iran di Piala Dunia 2026 itu berakhir seri, 0-0.

Mengutip laman ESPN, pesan yang ditulis dengan tangan tersebut disebarluaskan oleh Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI). Isi pesan tersebut adalah sebagai berikut:

”Dari Persia kuno ribuan tahun yang lalu hingga Iran yang beradab saat ini, semangat Iran tetap hidup dan teguh. Kami datang ke Los Angeles dengan bangga, bertanding dengan terhormat, dan pergi dengan bermartabat”.

”Terima kasih, Los Angeles, atas keramahan Anda. Dan, terima kasih kepada setiap warga Iran yang telah memberikan hati, suara, dan jiwa mereka untuk Iran selama 180 menit ini. Semoga perdamaian, rasa hormat, dan persahabatan terjalin di antara semua bangsa”.

Baca JugaAS Longgarkan Pembatasan Iran, Ghalenoei: Ini Hak Kami yang Dirampas

Seperti diketahui, tim Iran menghadapi rintangan yang sangat berat untuk bisa tampil di Piala Dunia yang digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada itu. Gara-gara perang AS-Isreal dengan Iran, tim Iran dipersulit untuk bisa masuk wilayah AS. Bahkan, Iran terpaksa memindahkan markas tim dari Tucson, Arizona, AS, ke Tijuana, Meksiko, gara-gara terhambat visa.

Iranian fans celebrate after Iran appeared to score against Egypt, before the goal was later disallowed by VAR, while watching a live broadcast of the teams' World Cup Group G match at the Book Garden bookstore converted into a World Cup viewing venue in Tehran, Iran, Saturday, June 27, 2026. (AP Photo/Vahid Salemi)

Setelah menimbulkan protes keras, Pemerintah AS melunak. Timnas Iran hanya dibolehkan masuk ke AS dalam 24 jam sebelum pertandingan dan harus keluar dari AS pada hari yang sama. Perlakuan tidak adil itu menyebabkan pemain Iran melakukan perjalanan bolak-balik yang membuat persiapan dan pemulihan fisik pemain tidak maksimal.

Akibatnya bisa ditebak, dalam tiga laga Grup G, Iran tidak pernah menang. Pada laga pertama melawan Selandia Baru, Iran menahan imbang 2-2 dan 0-0 melawan Belgia. Pada laga terakhir Grup G, Iran kembali bermain seri melawan Mesir, 1-1.

Iran mengantongi tiga poin yang membuatnya tidak langsung tersingkir karena masih berpeluang menjadi tim peringkat ketiga terbaik, tetapi nasib Iran tergantung pada hasil pertandingan tim lain. Salah satu hasil laga paling berpengaruh adalah pertandingan Grup J antara Aljazair dan Austria. Jika Aljazair atau Austria menang, Iran akan masuk sebagai salah satu tim peringkat ketiga terbaik.

Baca JugaPiala Dunia 2026: Iran di Antara Jebakan Amerika Serikat dan FIFA

Takdir tim Iran sudah digariskan. Laga Aljazair dan Austria berakhir imbang 3-3, walaupun Aljazair sempat unggul, 3-2, sebelum Austria menyamakan skor pada menit ke-90+6. Iran pun tersingkir, sedangkan Austria dan Aljazair lolos ke babak 32 besar. Puluhan ribu pendukung Iran di Teheran yang menyaksikan dari layar televisi cuma bisa menahan kecewa.

Siapa yang mestinya bertanggung jawab? FIFA. Mereka seharusnya menyelesaikan setiap masalah di sini, tetapi celakanya mereka tidak mampu melakukannya dari awal.

Mengutip laman Al-Jazeera, ada pihak yang menduga pertandingan itu ”sudah diatur”. Pelatih kepala Austria Ralf Rangnick membantah tuduhan itu. ”Jika Alfred Hitchcock (penulis cerita detektif dan sutradara film horor) menulis drama seperti itu, saya mungkin akan mengatakan dia benar-benar gila,” kata Rangnick.

Beberapa jam sebelum pertandingan, Javad Khiabani, seorang presenter olahraga yang terkenal kontroversial, merilis pesan video dalam bahasa Arab, yang ditujukan kepada ”saudara-saudara Muslim di Aljazair”. Ia meminta Aljazir mengalahkan Austria agar Iran, negara mayoritas Muslim yang telah menderita perang, untuk lolos.

Iran's Ramin Rezaeian (23) battles for the ball with Egypt's Trezeguet (7) during the World Cup Group G soccer match between Egypt and Iran in Seattle, Friday, June 26, 2026. (AP Photo/Lindsey Wasson)

Selalu dikenang

Pihak media tim Iran menyatakan, Tim Melli akan pulang pada Senin (29/6/2026) petang waktu Tijuana, Meksiko, atau Selasa (30/6/2026) pagi WIB. Pihak media tim Iran belum memberikan pernyataan apa pun selain jadwal kepulangan tim.

Sebelumnya, Pelatih Iran Amir Ghalenoei mengungkapkan, sangat banyak kesulitan yang dihadapi timnya di Piala Dunia kali ini. Kesulitan itu adalah ruwetnya urusan visa untuk memasuki AS serta kurangnya waktu persiapan sebelum turnamen dimulai. Akibat perang, timnas Iran harus melakukan latihan di Turki. Ia juga dengan keras menyebut Iran sebagai ”tim yang paling tertindas di seluruh Piala Dunia”.

Baca JugaKeajaiban Iran di Tengah Ketidakadilan

Kapten Iran Mehdi Taremi mengamini pernyataan Ghalenoei. Ia berkata singkat setelah laga melawan Mesir, ”Ini adalah bencana Piala Dunia. Sebuah bencana.”

”Siapa yang mestinya bertanggung jawab? FIFA. Mereka seharusnya menyelesaikan setiap masalah di sini, tetapi celakanya mereka tidak mampu melakukannya dari awal,” ujarnya melanjutkan.

Tim Iran telah tersingkir dari Piala Dunia, tetapi mereka bukan tim pecundang. Mereka sudah memenangi simpati dari jutaan warga dunia yang mendambakan perdamaian dan kesetaraan di muka bumi ini.

Suporter mengibarkan bendera Iran selama pertandingan sepak bola Grup G Piala Dunia antara Iran dan Selandia Baru di Inglewood, California, Los Angeles, Senin (15/6/ 2026) 

(AP Photo/Mark J. Terrill)

Farhad, seorang warga Teheran, mengatakan kepada Al Jazeera, beberapa dekade dari sekarang, orang-orang barangkali akan mengingat Tim Melli bukan hanya sebagai perwakilan Republik Islam Iran, melainkan juga karena warisan sejarah sepak bola yang ditinggalkannya.

”Secara pribadi, saya lebih suka jika mereka lolos, tetapi saya tidak hancur karena mereka tidak lolos,” katanya.

Tim Iran meninggalkan Piala Dunia tanpa menyimpan dendam meskipun AS baru-baru ini kembali menyerang Iran setelah upaya gencatan senjata menemui jalan buntu. Semoga perdamaian sejati akan terwujud, seperti harapan yang ditinggalkan dalam secarik kertas di ruang ganti Stadion Los Angeles itu. (AFP)