Saat menginjakkan kaki di Amerika Serikat untuk meliput Piala Dunia 2026, kekhawatiran pertama adalah saat menghadapi imigrasi. Begitu banyak berita negatif menjelang ajang akbar itu terkait pembatasan perjalanan dan razia ICE (Immigration and Customs Enforcement). Ditambah lagi soal konflik geopolitik yang memanas, semuanya serba tidak pasti.
Ternyata, kekhawatiran itu sejauh ini tidak terbukti. Sejauh pengamatan saya sepanjang fase grup, Piala Dunia 2026 telah menjadi perayaan penuh gairah, drama, dan sepak bola yang tidak terlupakan.
Penonton sangat antusias datang ke stadion atau pusat-pusat keramaian di AS, baik di New York, New Jersey, maupun Philadelphia di negara bagian Pennsylvania.
Saya tidak melihat petugas ICE yang menjadi salah satu momok di stadion, baik di MetLife maupun di Lincoln Financial. Media-media lokal sebelumnya memberitakan bahwa agen ICE akan hadir di setiap stadion untuk membantu pengamanan.
Stadion pun dipenuhi oleh pendukung dari sejumlah negara yang memiliki jumlah imigran atau diaspora besar di AS. Di New Jersey, pendukung Ekuador dengan jersei kuning mendominasi Stadion MetLife yang berkapasitas 82.000 penonton ketika timnas mereka mengalahkan Jerman, 2-1, pada babak penyisihan grup.
Menurut laman biro sensus AS, sekitar 290.000 diaspora Ekuador tinggal di New York-New Jersey. Bahkan, kawasan Queens di New York sering disebut ”Little Ecuador”.
Di Stadion Lincoln Financial, Philadelphia, ribuan pendukung Haiti juga hadir, meskipun tak sebanyak suporter Brasil. Demikian juga pendukung Maroko ketika mereka menghadapi Brasil di MetLife.
Sementara di pusat kota Manhattan, pendukung Meksiko, Panama, Pantai Gading, dan suporter negara lain, juga bebas berpesta di kawasan Times Square dengan kehadiran aparat polisi yang tidak terlalu mencolok.
Dari semua laga yang saya liput, semua stadion “full house” alias terisi penuh. Tidak terlihat kursi kosong seperti dikhawatirkan karena kebijakan harga tiket dinamis yang membuat harganya melambung tinggi.
Saya menjadi bagian dari 5.230 jurnalis terakreditasi dari seluruh penjuru dunia yang meliput babak penyisihan grup dengan rata-rata 445 awak media per pertandingan. Selama fase grup, FIFA telah menggelar sebanyak 218 konferensi pers resmi, yang dilakukan sehari sebelum laga dan selepas pertandingan.
Belum pernah terjadi sebelumnya ada lebih dari dua negara Afrika yang mencapai babak gugur dalam satu edisi Piala Dunia.
Jurnalis juga diberi kesempatan untuk menyaksikan latihan tim, meskipun hanya 15 menit pertama. Maka, tak banyak insight yang bisa didapatkan dari latihan itu, kecuali foto maupun video.
Menuju babak gugur Piala Dunia setelah 17 hari laga penyisihan grup dengan jumlah 78 pertandingan di 16 kota tuan rumah, FIFA mengklaim sebanyak 4,64 juta penonton memadati stadion.
Jumlah ini jauh melampaui rekor total penonton yang tercipta pada Piala Dunia 1994 yang juga diselenggarakan di AS sebanyak 3,5 juta penonton. “Setiap laga stadion rata-rata terisi 99,7 persen dari kapasitas kursi yang tersedia. Rata-rata penonton adalah 64.508 per perttandingan,” bunyi pernyataan FIFA.
Tiket pertandingan yang paling banyak diminati di antara seluruh 104 laga turnamen adalah laga Portugal versus Kolombia (Miami, 27 Juni), Meksiko vs Republik Korea (Guadalajara, 18 Juni), dan laga final di (New York-New Jersey, 19 Juli). Negara pembeli tiket terbanyak adalah AS, Kanada, Meksiko, Inggris, Jerman, Kolombia, Brasil, Argentina, Australia, dan Perancis.
Rekor tim
Sederet rekor juga tercipta di dalam lapangan pertandingan. Ekspansi Piala Dunia menjadi 48 tim membuat jumlah pemain yang terlibat melonjak. Piala Dunia kali ini melibatkan 1.248 pemain dengan 999 di antaranya sudah merasakan tampil di fase grup.
Memasuki babak gugur, sayangnya, wakil Asia sudah berguguran hingga hanya tinggal menyisakan dua tim saja dari sembilan wakil, yaitu Jepang dan Australia. Piala Dunia kali ini memang tidak ramah dengan wakil AFC. Jepang pun sudah dipastikan harus pulang setelah kalah 1-2 dari Brasil pada babak 32 besar, Senin (29/6/2026).
Dari 32 tim di fase gugur, selain dua dari AFC, sebanyak 13 tim berasal dari UEFA, sembilan dari CAF, lima dari CONMEBOL, dan tiga CONCACAF. Belum pernah terjadi sebelumnya ada lebih dari dua negara Afrika yang mencapai babak gugur dalam satu edisi Piala Dunia.
Pada tahun 2014, terdapat dua tim CAF (Aljazair dan Nigeria), lalu pada 2022 juga terdapat dua tim (Maroko dan Senegal). Sementara perwakilan CONCACAF di babak gugur hanya pernah mencapai tiga tim dalam satu kesempatan sebelumnya, yaitu pada tahun 2014 ketika Kosta Rika, Meksiko, dan AS lolos dari grup masing-masing.
Tahun ini, Bosnia dan Herzegovina, Tanjung Verde, Kanada, RD Kongo, Pantai Gading, Mesir, dan Afrika Selatan, lolos ke fase gugur Piala Dunia untuk pertama kalinya.
Tanjung Verde menjadi satu-satunya dari empat tim debutan yang tidak terkalahkan di babak penyisihan grup Piala Dunia 2026 dan lolos ke fase gugur. Kevin Pina mencetak gol pertama Tanjung Verde sepanjang sejarah Piala Dunia saat melawan Uruguay.

Sebanyak 215 gol tercipta selama babak penyisihan grup—dengan rata-rata tiga gol per pertandingan—yang mencatatkan rekor baru dalam sejarah Piala Dunia. Sebagai perbandingan, hanya ada 172 gol yang tercipta secara total pada Piala Dunia Qatar 2022.
Kenaikan jumlah gol itu tentu karena jumlah pertandingan kini jauh lebih banyak karena ekspansi 48 tim. Perancis, Jerman, dan Belanda, memimpin daftar tim paling produktif dengan masing-masing mencetak 10 gol.
Total 1.774 tembakan tercatat (rata-rata 24,6 per laga) dengan Belgia menorehkan angka tertinggi dengan 73 kali percobaan. Dari 48 negara, 47 di antaranya berhasil mencetak gol di babak penyisihan grup dan hanya Panama yang gagal melakukannya. Secara total, hingga selesainya babak grup, sudah ada 2.935 gol yang tercipta sepanjang sejarah Piala Dunia.
Rekor individual
Sementara dari rekor individu, legenda Argentina, Lionel Messi, mengukir sejarah dengan menjadi pemain pertama yang mencetak gol dalam tujuh pertandingan Piala Dunia secara berturut-turut. Ia juga menobatkan diri sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa turnamen dengan 19 gol.
Kendati demikian, posisi ini masih bisa berubah di turnamen yang sedang berjalan, mengingat striker Perancis Kylian Mbappe—yang merupakan pemenang Sepatu Emas di Qatar—membayangi dengan koleksi 16 gol.
Messi juga menjadi pemain tertua yang mencetak hattrick dalam sejarah turnamen pada usia 38 tahun 357 hari, melampaui rekor penyerang Portugal Cristiano Ronaldo yang berusia 33 tahun 130 hari saat mencetak tiga gol ke gawang Spanyol pada 2018.

Ronaldo kini telah mengoleksi 10 gol, menjadikannya pencetak gol terbanyak sepanjang masa Portugal di Piala Dunia, melampaui rekor Eusébio yang mengemas sembilan gol.
Harry Kane, pemenang Sepatu Emas Piala Dunia Rusia 2018, sekarang menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang masa Inggris di sejarah Piala Dunia FIFA dengan 11 gol, melewati pencapaian Gary Lineker dengan 10 gol.
Sementara bagi tuan rumah AS, kemenangan 4-1 atas Paraguay menjadi momen pertama kalinya bagi mereka mencetak empat gol dalam satu pertandingan Piala Dunia.
Di sisi lain, Ismael Saibari (Maroko) menjadi pemain Afrika pertama yang mencetak gol dalam tiga pertandingan berturut-turut di ajang global ini. Adapun kemenangan 4-0 Jepang atas Tunisia merupakan pertandingan ke-1.000 dalam sejarah Piala Dunia sekaligus menjadi kemenangan terbesar yang pernah diraih oleh tim AFC di ajang akbar ini.
Salah satu kisah paling inspiratif datang dari Tanjung Verde, negara dengan populasi hanya 500.000 jiwa yang mampu menjungkirbalikkan prediksi lewat keberhasilan bersejarah mereka melaju ke babak 32 Besar. Mereka akan menantang Argentina di Miami.
Pergantian pemain
Dari 1.248 pemain yang mengisi skuad 48 negara, sebanyak 354 di antaranya pernah bermain di turnamen edisi sebelumnya. Sementara 894 pemain tercatat mewakili negara mereka di ajang Piala Dunia untuk pertama kalinya.

Sejauh ini, sebanyak 999 di antaranya tampil setidaknya dalam satu laga. Dari jumlah pemain yang merumput itu, 687 berstatus sebagai pemain pengganti.
“Rata-rata pergantian pemain yang digunakan oleh 48 tim berada di angka 4,77, menunjukkan bahwa tim-tim memanfaatkan secara maksimal penambahan kuota pergantian pemain. Tiga tim (Irak, Meksiko, dan Norwegia) memainkan hingga 25 pemain atau hampir seluruh anggota skuad mereka,” ungkap FIFA.
Tim-tim menyelesaikan 68.162 umpan selama babak penyisihan grup dengan rata-rata 946,7 umpan per pertandingan. Spanyol memimpin kompetisi dengan 2.191 umpan, 2.013 di antaranya adalah umpan sukses. Sebanyak 2.359 umpan silang sukses tercatat selama fase grup dengan Kanada menempati posisi teratas lewat raihan 117 umpan silang.
Dari sisi kedisiplinan, pemain melakukan rata-rata 22,3 pelanggaran per pertandingan selama babak penyisihan grup, dengan total mencapai 1.604 pelanggaran. Haiti mencatatkan pelanggaran terbanyak (55).
Wasit mengeluarkan rata-rata 2,5 kartu kuning per pertandingan dengan total keseluruhan 180 kartu. Paraguay mengoleksi kartu terbanyak (delapan). Sepuluh kartu merah juga telah dikeluarkan, termasuk dua kartu merah untuk Afrika Selatan.
Pelatih tertua
Di jajaran pelatih, Pelatih Curaçao Dick Advocaat mencatatkan rekor baru sebagai pelatih tertua dalam sejarah turnamen pada usia 78 tahun 271 hari. Sementara Pelatih Afrika Selatan Hugo Broos menjadi pelatih tertua yang memenangkan pertandingan dalam sejarah Piala Dunia pada usia 74 tahun 75 hari.

Catatan ini melampaui rekor yang sebelumnya yang dibuat oleh Carlos Queiroz, yaitu dalam usia 73 tahun 108 hari saat membawa Ghana menang atas Panama di awal turnamen ini.
Dari sisi kuliner, makanan di stadion yang terbilang mahal juga diserbu. “Sebanyak 300.000 hot dog dikonsumsi. Sebagai gambaran, jika semua hot dog yang terjual tersebut disejajarkan ujung ke ujung, panjangnya akan membentang sekitar 28 mil (45 kilometer) atau setara jarak antara Stadion New York New Jersey (MetLife) dan Bandara Internasional JFK,” bunyi klaim FIFA.
Hampir satu juta botol air minum juga ludes. Menu populer bervariasi di setiap negara tuan rumah. Bir dan keripik kentang menjadi yang paling populer di Kanada, hot dog memimpin di AS, sedangkan piza dan kentang goreng menempati posisi teratas menu di Meksiko.
Sementara jersei nasional tim Meksiko menjadi kaus dengan penjualan terbaik untuk jenama Adidas selama babak penyisihan grup turnamen. Hingga saat ini, Adidas melaporkan penjualan terkait ajang ini telah mencapai lebih dari 1,13 miliar dollar AS.
Rekor-rekor itu dipastikan akan kembali terpecahkan karena laga fase gugur baru saja dimulai. Hanya saja, salah satu tim favorit, Jerman sudah pulang lebih dulu setelah disingkirkan oleh Paraguay lewat adu penalti, 3-4, di Boston. Harapan Asia, Jepang, juga harus mengucap sayonara karena kalah 1-2 dari Brasil.
Saat menginjakkan kaki di Amerika Serikat untuk meliput Piala Dunia 2026, kekhawatiran pertama adalah saat menghadapi imigrasi. Begitu banyak berita negatif menjelang ajang akbar itu terkait pembatasan perjalanan dan razia ICE (Immigration and Customs Enforcement). Ditambah lagi soal konflik geopolitik yang memanas, semuanya serba tidak pasti.
Ternyata, kekhawatiran itu sejauh ini tidak terbukti. Sejauh pengamatan saya sepanjang fase grup, Piala Dunia 2026 telah menjadi perayaan penuh gairah, drama, dan sepak bola yang tidak terlupakan.
Penonton sangat antusias datang ke stadion atau pusat-pusat keramaian di AS, baik di New York, New Jersey, maupun Philadelphia di negara bagian Pennsylvania.
Saya tidak melihat petugas ICE yang menjadi salah satu momok di stadion, baik di MetLife maupun di Lincoln Financial. Media-media lokal sebelumnya memberitakan bahwa agen ICE akan hadir di setiap stadion untuk membantu pengamanan.
Stadion pun dipenuhi oleh pendukung dari sejumlah negara yang memiliki jumlah imigran atau diaspora besar di AS. Di New Jersey, pendukung Ekuador dengan jersei kuning mendominasi Stadion MetLife yang berkapasitas 82.000 penonton ketika timnas mereka mengalahkan Jerman, 2-1, pada babak penyisihan grup.
Baca JugaPerancis Waspadai Semangat ”Underdog” Swedia
Menurut laman biro sensus AS, sekitar 290.000 diaspora Ekuador tinggal di New York-New Jersey. Bahkan, kawasan Queens di New York sering disebut ”Little Ecuador”.
Di Stadion Lincoln Financial, Philadelphia, ribuan pendukung Haiti juga hadir, meskipun tak sebanyak suporter Brasil. Demikian juga pendukung Maroko ketika mereka menghadapi Brasil di MetLife.

Sementara di pusat kota Manhattan, pendukung Meksiko, Panama, Pantai Gading, dan suporter negara lain, juga bebas berpesta di kawasan Times Square dengan kehadiran aparat polisi yang tidak terlalu mencolok.
Dari semua laga yang saya liput, semua stadion “full house” alias terisi penuh. Tidak terlihat kursi kosong seperti dikhawatirkan karena kebijakan harga tiket dinamis yang membuat harganya melambung tinggi.
Saya menjadi bagian dari 5.230 jurnalis terakreditasi dari seluruh penjuru dunia yang meliput babak penyisihan grup dengan rata-rata 445 awak media per pertandingan. Selama fase grup, FIFA telah menggelar sebanyak 218 konferensi pers resmi, yang dilakukan sehari sebelum laga dan selepas pertandingan.
Belum pernah terjadi sebelumnya ada lebih dari dua negara Afrika yang mencapai babak gugur dalam satu edisi Piala Dunia.
Jurnalis juga diberi kesempatan untuk menyaksikan latihan tim, meskipun hanya 15 menit pertama. Maka, tak banyak insight yang bisa didapatkan dari latihan itu, kecuali foto maupun video.
Menuju babak gugur Piala Dunia setelah 17 hari laga penyisihan grup dengan jumlah 78 pertandingan di 16 kota tuan rumah, FIFA mengklaim sebanyak 4,64 juta penonton memadati stadion.
Jumlah ini jauh melampaui rekor total penonton yang tercipta pada Piala Dunia 1994 yang juga diselenggarakan di AS sebanyak 3,5 juta penonton. “Setiap laga stadion rata-rata terisi 99,7 persen dari kapasitas kursi yang tersedia. Rata-rata penonton adalah 64.508 per perttandingan,” bunyi pernyataan FIFA.
Tiket pertandingan yang paling banyak diminati di antara seluruh 104 laga turnamen adalah laga Portugal versus Kolombia (Miami, 27 Juni), Meksiko vs Republik Korea (Guadalajara, 18 Juni), dan laga final di (New York-New Jersey, 19 Juli). Negara pembeli tiket terbanyak adalah AS, Kanada, Meksiko, Inggris, Jerman, Kolombia, Brasil, Argentina, Australia, dan Perancis.
Rekor tim
Sederet rekor juga tercipta di dalam lapangan pertandingan. Ekspansi Piala Dunia menjadi 48 tim membuat jumlah pemain yang terlibat melonjak. Piala Dunia kali ini melibatkan 1.248 pemain dengan 999 di antaranya sudah merasakan tampil di fase grup.
Memasuki babak gugur, sayangnya, wakil Asia sudah berguguran hingga hanya tinggal menyisakan dua tim saja dari sembilan wakil, yaitu Jepang dan Australia. Piala Dunia kali ini memang tidak ramah dengan wakil AFC. Jepang pun sudah dipastikan harus pulang setelah kalah 1-2 dari Brasil pada babak 32 besar, Senin (29/6/2026).
Dari 32 tim di fase gugur, selain dua dari AFC, sebanyak 13 tim berasal dari UEFA, sembilan dari CAF, lima dari CONMEBOL, dan tiga CONCACAF. Belum pernah terjadi sebelumnya ada lebih dari dua negara Afrika yang mencapai babak gugur dalam satu edisi Piala Dunia.
Baca JugaDag-Dig-Dug Adu Penalti di Babak Gugur, Hoki atau Keterampilan?
Pada tahun 2014, terdapat dua tim CAF (Aljazair dan Nigeria), lalu pada 2022 juga terdapat dua tim (Maroko dan Senegal). Sementara perwakilan CONCACAF di babak gugur hanya pernah mencapai tiga tim dalam satu kesempatan sebelumnya, yaitu pada tahun 2014 ketika Kosta Rika, Meksiko, dan AS lolos dari grup masing-masing.
Tahun ini, Bosnia dan Herzegovina, Tanjung Verde, Kanada, RD Kongo, Pantai Gading, Mesir, dan Afrika Selatan, lolos ke fase gugur Piala Dunia untuk pertama kalinya.
Tanjung Verde menjadi satu-satunya dari empat tim debutan yang tidak terkalahkan di babak penyisihan grup Piala Dunia 2026 dan lolos ke fase gugur. Kevin Pina mencetak gol pertama Tanjung Verde sepanjang sejarah Piala Dunia saat melawan Uruguay.

Sebanyak 215 gol tercipta selama babak penyisihan grup—dengan rata-rata tiga gol per pertandingan—yang mencatatkan rekor baru dalam sejarah Piala Dunia. Sebagai perbandingan, hanya ada 172 gol yang tercipta secara total pada Piala Dunia Qatar 2022.
Kenaikan jumlah gol itu tentu karena jumlah pertandingan kini jauh lebih banyak karena ekspansi 48 tim. Perancis, Jerman, dan Belanda, memimpin daftar tim paling produktif dengan masing-masing mencetak 10 gol.
Total 1.774 tembakan tercatat (rata-rata 24,6 per laga) dengan Belgia menorehkan angka tertinggi dengan 73 kali percobaan. Dari 48 negara, 47 di antaranya berhasil mencetak gol di babak penyisihan grup dan hanya Panama yang gagal melakukannya. Secara total, hingga selesainya babak grup, sudah ada 2.935 gol yang tercipta sepanjang sejarah Piala Dunia.
Rekor individual
Sementara dari rekor individu, legenda Argentina, Lionel Messi, mengukir sejarah dengan menjadi pemain pertama yang mencetak gol dalam tujuh pertandingan Piala Dunia secara berturut-turut. Ia juga menobatkan diri sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa turnamen dengan 19 gol.
Baca JugaTanda Tanya Konspirasi ”Jalan Tol” Argentina di Piala Dunia
Kendati demikian, posisi ini masih bisa berubah di turnamen yang sedang berjalan, mengingat striker Perancis Kylian Mbappe—yang merupakan pemenang Sepatu Emas di Qatar—membayangi dengan koleksi 16 gol.
Messi juga menjadi pemain tertua yang mencetak hattrick dalam sejarah turnamen pada usia 38 tahun 357 hari, melampaui rekor penyerang Portugal Cristiano Ronaldo yang berusia 33 tahun 130 hari saat mencetak tiga gol ke gawang Spanyol pada 2018.

Ronaldo kini telah mengoleksi 10 gol, menjadikannya pencetak gol terbanyak sepanjang masa Portugal di Piala Dunia, melampaui rekor Eusébio yang mengemas sembilan gol.
Harry Kane, pemenang Sepatu Emas Piala Dunia Rusia 2018, sekarang menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang masa Inggris di sejarah Piala Dunia FIFA dengan 11 gol, melewati pencapaian Gary Lineker dengan 10 gol.
Sementara bagi tuan rumah AS, kemenangan 4-1 atas Paraguay menjadi momen pertama kalinya bagi mereka mencetak empat gol dalam satu pertandingan Piala Dunia.
Di sisi lain, Ismael Saibari (Maroko) menjadi pemain Afrika pertama yang mencetak gol dalam tiga pertandingan berturut-turut di ajang global ini. Adapun kemenangan 4-0 Jepang atas Tunisia merupakan pertandingan ke-1.000 dalam sejarah Piala Dunia sekaligus menjadi kemenangan terbesar yang pernah diraih oleh tim AFC di ajang akbar ini.
Baca JugaBagaimana Strategi Para “Underdog” Piala Dunia Meredam Tim Papan Atas?
Salah satu kisah paling inspiratif datang dari Tanjung Verde, negara dengan populasi hanya 500.000 jiwa yang mampu menjungkirbalikkan prediksi lewat keberhasilan bersejarah mereka melaju ke babak 32 Besar. Mereka akan menantang Argentina di Miami.
Pergantian pemain
Dari 1.248 pemain yang mengisi skuad 48 negara, sebanyak 354 di antaranya pernah bermain di turnamen edisi sebelumnya. Sementara 894 pemain tercatat mewakili negara mereka di ajang Piala Dunia untuk pertama kalinya.

Sejauh ini, sebanyak 999 di antaranya tampil setidaknya dalam satu laga. Dari jumlah pemain yang merumput itu, 687 berstatus sebagai pemain pengganti.
“Rata-rata pergantian pemain yang digunakan oleh 48 tim berada di angka 4,77, menunjukkan bahwa tim-tim memanfaatkan secara maksimal penambahan kuota pergantian pemain. Tiga tim (Irak, Meksiko, dan Norwegia) memainkan hingga 25 pemain atau hampir seluruh anggota skuad mereka,” ungkap FIFA.
Tim-tim menyelesaikan 68.162 umpan selama babak penyisihan grup dengan rata-rata 946,7 umpan per pertandingan. Spanyol memimpin kompetisi dengan 2.191 umpan, 2.013 di antaranya adalah umpan sukses. Sebanyak 2.359 umpan silang sukses tercatat selama fase grup dengan Kanada menempati posisi teratas lewat raihan 117 umpan silang.
Dari sisi kedisiplinan, pemain melakukan rata-rata 22,3 pelanggaran per pertandingan selama babak penyisihan grup, dengan total mencapai 1.604 pelanggaran. Haiti mencatatkan pelanggaran terbanyak (55).
Baca JugaDari ”Viking Row” hingga Kilt, Warna-warni Suporter di Piala Dunia 2026
Wasit mengeluarkan rata-rata 2,5 kartu kuning per pertandingan dengan total keseluruhan 180 kartu. Paraguay mengoleksi kartu terbanyak (delapan). Sepuluh kartu merah juga telah dikeluarkan, termasuk dua kartu merah untuk Afrika Selatan.
Pelatih tertua
Di jajaran pelatih, Pelatih Curaçao Dick Advocaat mencatatkan rekor baru sebagai pelatih tertua dalam sejarah turnamen pada usia 78 tahun 271 hari. Sementara Pelatih Afrika Selatan Hugo Broos menjadi pelatih tertua yang memenangkan pertandingan dalam sejarah Piala Dunia pada usia 74 tahun 75 hari.

Catatan ini melampaui rekor yang sebelumnya yang dibuat oleh Carlos Queiroz, yaitu dalam usia 73 tahun 108 hari saat membawa Ghana menang atas Panama di awal turnamen ini.
Dari sisi kuliner, makanan di stadion yang terbilang mahal juga diserbu. “Sebanyak 300.000 hot dog dikonsumsi. Sebagai gambaran, jika semua hot dog yang terjual tersebut disejajarkan ujung ke ujung, panjangnya akan membentang sekitar 28 mil (45 kilometer) atau setara jarak antara Stadion New York New Jersey (MetLife) dan Bandara Internasional JFK,” bunyi klaim FIFA.
Hampir satu juta botol air minum juga ludes. Menu populer bervariasi di setiap negara tuan rumah. Bir dan keripik kentang menjadi yang paling populer di Kanada, hot dog memimpin di AS, sedangkan piza dan kentang goreng menempati posisi teratas menu di Meksiko.
Sementara jersei nasional tim Meksiko menjadi kaus dengan penjualan terbaik untuk jenama Adidas selama babak penyisihan grup turnamen. Hingga saat ini, Adidas melaporkan penjualan terkait ajang ini telah mencapai lebih dari 1,13 miliar dollar AS.
Rekor-rekor itu dipastikan akan kembali terpecahkan karena laga fase gugur baru saja dimulai. Hanya saja, salah satu tim favorit, Jerman sudah pulang lebih dulu setelah disingkirkan oleh Paraguay lewat adu penalti, 3-4, di Boston. Harapan Asia, Jepang, juga harus mengucap sayonara karena kalah 1-2 dari Brasil.