اخبار

Album Kedua Bernadya Lahir dari Kondisi Serba Takut

الكاتبabdulrahman-mustafaتاريخ النشر
Album Kedua Bernadya Lahir dari Kondisi Serba Takut

Berangkat dari kegelisahan yang unik, Bernadya Ribka Jayakusuma (22) kembali merilis album penuh kedua terbarunya. Album bertajuk Semoga Hanya di Mimpi itu berisi 10 trek lagu dan direkam di bawah bendera label rekaman Juni Records.

Bernadya selama ini dikenal sebagai penyanyi pop belia berprestasi, yang pernah menyabet tiga penghargaan bergengsi di AMI Awards 2024. Ketiganya untuk kategori Pencipta Lagu Pop Terbaik, Album of the Year, dan Album Pop Terbaik.

Berbeda dengan album solo pertamanya dahulu, kali ini Bernadya menempuh proses kreatif yang terbilang unik. Lagu-lagunya muncul dari kondisi serba takut, yang selalu dia rasakan. Gadis asal Surabaya, Jawa Timur, itu mengaku sangat takut akan berbagai hal normal biasa.

Dia juga ketakutan pada berbagai kejadian dan kondisi, yang seharusnya justru tak perlu dicemaskan. Semua itu dia paparkan, baik dalam siaran pers maupun acara bincang-bincang, yang digelarnya di salah satu restoran di pusat belanja di Jakarta Selatan, Jumat (26/6/2026).

Dalam acara itu Bernadya mengundang sejumlah jurnalis, tetapi tanpa sesi tanya jawab.

”Hidupku selama ini sedang normal dan biasa-biasa saja. (Album) Semoga Hanya di Mimpi lahir dari ketakutanku akan rasa tenang. Pemikiran yang aneh, memang. Tapi, bagiku, tenang sama dengan tanda bahaya,” papar Bernadya secara tertulis.

Dalam siaran persnya itu, Bernadya juga bercerita dirinya pertama kali menemukan kalimat, yang lantas menjadi tajuk album terbarunya sekarang, dalam sebuah artikel tentang cherophobia. Istilah klinis itu mengacu pada satu bentuk fobia akan kebahagiaan.

Orang yang menderita fobia itu akan selalu merasa cemas dan ketakutan jika di balik kebahagiaan, yang tengah dirasakannya, akan menyusul terjadi berbagai hal buruk. Selain kebahagiaan dan kondisi normal, beberapa hal lain juga memicu ketakutan Bernadya macam cinta, ketenangan, dan kebahagiaan.

Rilis Album Bernadya "Semoga Hanya di Mimpi", Jumat (26/6/2026), yang digelar Cilandak Town Square dan dihadiri sejumlah musisi terlibat dalam proses penulisan lagu seperti Rendy Pandugo, penyanyi solo Hindia, Baskara Putra, dan trio band Perunggu. (Arsip Foto Juni Records)

Ketika berproses menggarap salah satu dari 10 trek lagu di albumnya kali ini, Bernadya bahkan sampai merasa harus mengganti salah satu liriknya. Di lagu ”Laut yang Tenang” itu, dia merasa ketakutan kalau liriknya bisa menjadi doa, yang menyebabkan hal-hal buruk jadi kenyataan alias jinx.

Sepanjang proses pembuatan lagu-lagu di album kedua, yang dalam bincang-bincang diceritakan memakan waktu beberapa tahun dan melibatkan sejumlah pihak (musisi lain) serta beberapa kali workshop, Bernadya memastikan dirinya sedang dalam kondisi baik-baik saja.

Bernadya bahkan menyebut dirinya sedang tidak menghadapi momen besar atau peristiwa istimewa apa pun. Segala sesuatu yang dia alami juga berjalan rutin, normal, dan serba baik-baik saja. Akan tetapi, lagi-lagi semua itu diakui justru selalu membuatnya ketakutan.

”Justru di saat seharusnya (aku) bisa menikmati ketenangan dan bahagia dengan apa yang kudapat dan kucapai dari usahaku, entah kenapa rasanya selalu waswas karena ini berarti pertanda akan terjadi sesuatu yang besar dan enggak aku inginkan,” ujarnya kembali menjelaskan.

Kolaborasi album kedua

Lebih lanjut dalam acara bincang-bincang berpemandu pada Jumat sore lalu, Bernadya juga mengikutsertakan sejumlah musisi pendukung lain, yang ikut terlibat dalam pembuatan lagu-lagu dalam albumnya kali ini.

Mereka antara lain Rendy Pandugo, penyanyi solo Hindia alias Baskara Putra, dan trio band Perunggu. Secara bergantian, mereka bercerita tentang trek-trek lagu yang dikerjasamakan pembuatannya bersama Bernadya sekaligus seputar proses kreatif mereka.

Rilis Album Bernadya "Semoga Hanya di Mimpi", Jumat (26/6/2026), yang digelar Cilandak Town Square dan dihadiri sejumlah musisi terlibat dalam proses penulisan lagu seperti Rendy Pandugo, penyanyi solo Hindia, Baskara Putra, dan trio band Perunggu. (Arsip Foto Juni Records)

Selain rasa takut sebagai pemicu proses kreatifnya, album kedua kali ini diklaim Bernadya juga mengambil nuansa bertema era 2000-an, yang baginya masa-masa menarik. Oleh karena itu, di album ini dia juga berkolaborasi dengan para musisi yang mengalami dan menjalani langsung era tersebut.

”Aku penasaran dengan era itu, apalagi ada sedikit nuansa musik 2000-an di lagu ’Untungnya, Hidup Harus Tetap Berjalan’ dan banyak yang suka. Selama bikin (album) Semoga Hanya di Mimpi, aku juga sering dengar album 18 dari Audy,” paparnya tertulis.

Semua musisi kolaborator di album Bernadya sekarang turut berperan mewujudkan estetika bunyi, yang terpengaruh musik Indonesia awal 2000-an, dengan menonjolkan suara instrumen organik ditambah sedikit sentuhan elektronik.

Sementara itu, terkait kolaborasi yang dilakukan, Bernadya bercerita saat bincang-bincang, dirinya banyak berinteraksi dan beradaptasi. Hal itu terutama terkait cara kerja di setiap lagu dengan setiap musisi alias produser saat mereka menggelar workshop penulisan lagu.

Bernadya saat tampil di pertunjukan babak penutup Untungnya, Untungnya, Jumat (21/6/2025) di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

”Ini pertama kalinya bekerja dengan banyak produser baru dan harus menulis lagu dari nol. Aku harus menyesuaikan gaya penulisanku dengan cara kerja mereka, dan mereka juga harus menyesuaikan dengan caraku menulis dan bekerja,” tulis Bernadya.

”Kalau dengan Mas Petra dan Mas Rendy, aku sudah mengerti cara kerja mereka dan bahwa proses kreatif kadang tak bisa dipaksakan. Tapi, dengan Perunggu, entah apa karena mereka dulu orang kantoran, cara menulisnya kayak enggak ada jeda. Mereka selalu punya ide, dan lagunya selesai dalam dua jam.”

Proses pembuatan Semoga Hanya di Mimpi melibatkan beberapa produser dan penulis lagu yang berkarya dengan Bernadya untuk pertama kali, seperi Enrico Octaviano yang menggarap lagu ”Sebelum Jadi Panjang” dan ”Laut yang Tenang”. Di lagu ”Laut yang Tenang”, Baskara Putra juga ikut terlibat dalam penulisan.

Selain itu, ada Dennis Ferdinand, yang mendampingi grup Perunggu untuk kolaborasi di lagu ”Peluk Aku Sekarang!”. Sementara Vega Antares, yang juga sesama anak Surabaya dengan Bernadya, mengerjakan lagu ”Menyenangkan Mengenalmu”.

”Waktu awal (proses penulisan lagu), dia (Bernadya) bilang enggak tahu mau tulis apa. Oh, ya sudah, gue minta ya, itu saja lo tulis tentang enggak tahu mau apa karena sebetulnya hidup lo lagi sangat tenang. Tapi terus dia bilang lagi takut itu jadi jinx lalu ada musibah,” ujar Baskara.

Bernadya

Dari frasa ”hidup tenang” itu, Baskara mengusulkan metafora yang sesuai dan belakangan disepakati terwakili dalam kata ”laut”, yang kemudian berkaitan dengan ketakutan Bernadya sehingga kemudian muncullah kalimat, ”Laut yang tenang patut dicurigai”. Dari sanalah akhirnya trek lagu pertama terbentuk dan menjadi fokus utama (album).

Menurut rencana, bulan depan Bernadya juga akan menggelar konser showcase album keduanya di Tennis Indoor Senayan. Di konser ini drumer band Seringai, Edy Khemod, didapuk menjadi creative director untuk mengemas aksi panggung Bernadya.

Kolaborasi perdana antara Bernadya dan Edy Khemod diklaim pihak Juni Records dan Juni Concert bakal menjanjikan sebuah pertunjukan, yang secara konsep dikembangkan dari lagu-lagu terbaru Bernadya dalam album Semoga Hanya di Mimpi.

Berangkat dari kegelisahan yang unik, Bernadya Ribka Jayakusuma (22) kembali merilis album penuh kedua terbarunya. Album bertajuk Semoga Hanya di Mimpi itu berisi 10 trek lagu dan direkam di bawah bendera label rekaman Juni Records.

Bernadya

Bernadya selama ini dikenal sebagai penyanyi pop belia berprestasi, yang pernah menyabet tiga penghargaan bergengsi di AMI Awards 2024. Ketiganya untuk kategori Pencipta Lagu Pop Terbaik, Album of the Year, dan Album Pop Terbaik.

Berbeda dengan album solo pertamanya dahulu, kali ini Bernadya menempuh proses kreatif yang terbilang unik. Lagu-lagunya muncul dari kondisi serba takut, yang selalu dia rasakan. Gadis asal Surabaya, Jawa Timur, itu mengaku sangat takut akan berbagai hal normal biasa.

Dia juga ketakutan pada berbagai kejadian dan kondisi, yang seharusnya justru tak perlu dicemaskan. Semua itu dia paparkan, baik dalam siaran pers maupun acara bincang-bincang, yang digelarnya di salah satu restoran di pusat belanja di Jakarta Selatan, Jumat (26/6/2026).

Dalam acara itu Bernadya mengundang sejumlah jurnalis, tetapi tanpa sesi tanya jawab.

”Hidupku selama ini sedang normal dan biasa-biasa saja. (Album) Semoga Hanya di Mimpi lahir dari ketakutanku akan rasa tenang. Pemikiran yang aneh, memang. Tapi, bagiku, tenang sama dengan tanda bahaya,” papar Bernadya secara tertulis.

Dalam siaran persnya itu, Bernadya juga bercerita dirinya pertama kali menemukan kalimat, yang lantas menjadi tajuk album terbarunya sekarang, dalam sebuah artikel tentang cherophobia. Istilah klinis itu mengacu pada satu bentuk fobia akan kebahagiaan.

Orang yang menderita fobia itu akan selalu merasa cemas dan ketakutan jika di balik kebahagiaan, yang tengah dirasakannya, akan menyusul terjadi berbagai hal buruk. Selain kebahagiaan dan kondisi normal, beberapa hal lain juga memicu ketakutan Bernadya macam cinta, ketenangan, dan kebahagiaan.

Rilis Album Bernadya "Semoga Hanya di Mimpi", Jumat (26/6/2026), yang digelar Cilandak Town Square dan dihadiri sejumlah musisi terlibat dalam proses penulisan lagu seperti Rendy Pandugo, penyanyi solo Hindia, Baskara Putra, dan trio band Perunggu. (Arsip Foto Juni Records)

Ketika berproses menggarap salah satu dari 10 trek lagu di albumnya kali ini, Bernadya bahkan sampai merasa harus mengganti salah satu liriknya. Di lagu ”Laut yang Tenang” itu, dia merasa ketakutan kalau liriknya bisa menjadi doa, yang menyebabkan hal-hal buruk jadi kenyataan alias jinx.

Sepanjang proses pembuatan lagu-lagu di album kedua, yang dalam bincang-bincang diceritakan memakan waktu beberapa tahun dan melibatkan sejumlah pihak (musisi lain) serta beberapa kali workshop, Bernadya memastikan dirinya sedang dalam kondisi baik-baik saja.

Bernadya bahkan menyebut dirinya sedang tidak menghadapi momen besar atau peristiwa istimewa apa pun. Segala sesuatu yang dia alami juga berjalan rutin, normal, dan serba baik-baik saja. Akan tetapi, lagi-lagi semua itu diakui justru selalu membuatnya ketakutan.

”Justru di saat seharusnya (aku) bisa menikmati ketenangan dan bahagia dengan apa yang kudapat dan kucapai dari usahaku, entah kenapa rasanya selalu waswas karena ini berarti pertanda akan terjadi sesuatu yang besar dan enggak aku inginkan,” ujarnya kembali menjelaskan.

Kolaborasi album kedua

Lebih lanjut dalam acara bincang-bincang berpemandu pada Jumat sore lalu, Bernadya juga mengikutsertakan sejumlah musisi pendukung lain, yang ikut terlibat dalam pembuatan lagu-lagu dalam albumnya kali ini.

Mereka antara lain Rendy Pandugo, penyanyi solo Hindia alias Baskara Putra, dan trio band Perunggu. Secara bergantian, mereka bercerita tentang trek-trek lagu yang dikerjasamakan pembuatannya bersama Bernadya sekaligus seputar proses kreatif mereka.

Rilis Album Bernadya "Semoga Hanya di Mimpi", Jumat (26/6/2026), yang digelar Cilandak Town Square dan dihadiri sejumlah musisi terlibat dalam proses penulisan lagu seperti Rendy Pandugo, penyanyi solo Hindia, Baskara Putra, dan trio band Perunggu. (Arsip Foto Juni Records)

Selain rasa takut sebagai pemicu proses kreatifnya, album kedua kali ini diklaim Bernadya juga mengambil nuansa bertema era 2000-an, yang baginya masa-masa menarik. Oleh karena itu, di album ini dia juga berkolaborasi dengan para musisi yang mengalami dan menjalani langsung era tersebut.

”Aku penasaran dengan era itu, apalagi ada sedikit nuansa musik 2000-an di lagu ’Untungnya, Hidup Harus Tetap Berjalan’ dan banyak yang suka. Selama bikin (album) Semoga Hanya di Mimpi, aku juga sering dengar album 18 dari Audy,” paparnya tertulis.

Semua musisi kolaborator di album Bernadya sekarang turut berperan mewujudkan estetika bunyi, yang terpengaruh musik Indonesia awal 2000-an, dengan menonjolkan suara instrumen organik ditambah sedikit sentuhan elektronik.

Sementara itu, terkait kolaborasi yang dilakukan, Bernadya bercerita saat bincang-bincang, dirinya banyak berinteraksi dan beradaptasi. Hal itu terutama terkait cara kerja di setiap lagu dengan setiap musisi alias produser saat mereka menggelar workshop penulisan lagu.

Bernadya saat tampil di pertunjukan babak penutup Untungnya, Untungnya, Jumat (21/6/2025) di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

”Ini pertama kalinya bekerja dengan banyak produser baru dan harus menulis lagu dari nol. Aku harus menyesuaikan gaya penulisanku dengan cara kerja mereka, dan mereka juga harus menyesuaikan dengan caraku menulis dan bekerja,” tulis Bernadya.

”Kalau dengan Mas Petra dan Mas Rendy, aku sudah mengerti cara kerja mereka dan bahwa proses kreatif kadang tak bisa dipaksakan. Tapi, dengan Perunggu, entah apa karena mereka dulu orang kantoran, cara menulisnya kayak enggak ada jeda. Mereka selalu punya ide, dan lagunya selesai dalam dua jam.”

Proses pembuatan Semoga Hanya di Mimpi melibatkan beberapa produser dan penulis lagu yang berkarya dengan Bernadya untuk pertama kali, seperi Enrico Octaviano yang menggarap lagu ”Sebelum Jadi Panjang” dan ”Laut yang Tenang”. Di lagu ”Laut yang Tenang”, Baskara Putra juga ikut terlibat dalam penulisan.

Selain itu, ada Dennis Ferdinand, yang mendampingi grup Perunggu untuk kolaborasi di lagu ”Peluk Aku Sekarang!”. Sementara Vega Antares, yang juga sesama anak Surabaya dengan Bernadya, mengerjakan lagu ”Menyenangkan Mengenalmu”.

”Waktu awal (proses penulisan lagu), dia (Bernadya) bilang enggak tahu mau tulis apa. Oh, ya sudah, gue minta ya, itu saja lo tulis tentang enggak tahu mau apa karena sebetulnya hidup lo lagi sangat tenang. Tapi terus dia bilang lagi takut itu jadi jinx lalu ada musibah,” ujar Baskara.

Bernadya

Dari frasa ”hidup tenang” itu, Baskara mengusulkan metafora yang sesuai dan belakangan disepakati terwakili dalam kata ”laut”, yang kemudian berkaitan dengan ketakutan Bernadya sehingga kemudian muncullah kalimat, ”Laut yang tenang patut dicurigai”. Dari sanalah akhirnya trek lagu pertama terbentuk dan menjadi fokus utama (album).

Menurut rencana, bulan depan Bernadya juga akan menggelar konser showcase album keduanya di Tennis Indoor Senayan. Di konser ini drumer band Seringai, Edy Khemod, didapuk menjadi creative director untuk mengemas aksi panggung Bernadya.

Kolaborasi perdana antara Bernadya dan Edy Khemod diklaim pihak Juni Records dan Juni Concert bakal menjanjikan sebuah pertunjukan, yang secara konsep dikembangkan dari lagu-lagu terbaru Bernadya dalam album Semoga Hanya di Mimpi.