اخبار

Surat Matiyus

الكاتبabdulrahman-mustafaتاريخ النشر
Surat Matiyus

Ini bukan cerita tentang seorang anak lelaki yang, bahkan sejak sebelum lahir, telah didatangi pertanda-pertanda ganjil dari laut dan angin timur. Tiga hari sebelum ibunya melahirkan, rumah panggung kecil milik Matlatun, neneknya, tak pernah kehilangan bau melati.

Bau itu melekat di dinding bambu, di tikar pandan, bahkan di kandang kambing yang biasanya amis oleh air kencing dan lumpur. Orang-orang kampung percaya, hanya ada dua kemungkinan bagi anak yang lahir bersama bau bunga semacam itu: kelak ia membawa kemuliaan besar, atau justru bencana yang panjang.

Malam sebelum ia lahir, Matlatun bermimpi melihat laut naik ke daratan tanpa suara. Ikan-ikan berenang di jalan kampung, sementara dari arah timur terdengar orang-orang membaca salawat dengan suara seperti desir pasir. Ketika bangun, Matlatun segera meminta rumah kecil untuk cucunya dibangun menghadap ke timur.

”Rumah tak boleh menghadap ke timur. Cahaya matahari terlalu nanar. Anak bisa tak betah tinggal,” kata seorang tetangga yang sehari-hari bekerja sebagai tukang rias pengantin dan gemar mengomentari apa saja.

”Ia bukan anak biasa. Ia satu di antara anak-anak dari timur yang kelak membawa nama harum kampung. Nama desa.” Matlatun berpaling. Tempias pasir berhamburan dari sela-sela tumitnya yang renta.

Tak ada yang berani membantah ucapan perempuan yang, sejak kecil dikenal dapat mendengar suara ombak meski laut sedang surut berhari-hari. Orang-orang percaya Matlatun mewarisi pendengaran ganjil dari leluhurnya yang dahulu menanam ari-ari anak-anak mereka di pesisir agar nasib mereka tak jauh dari laut.

Ibunya pun hanya diam. Percuma membantah perempuan yang dapat mengetahui musim kematian dari bau angin subuh. Ia lahir dan tumbuh di antara semerbak kembang, asap dupa, dan mantra-mantra.

Sejak masih dalam kandungan, orang-orang telah menyiapkan banyak hal untuk dirinya. Mereka yakin anak itu seorang lelaki, sebab setiap malam ibunya bermimpi melihat seekor ikan terbang menubruk pintu rumah lalu berubah menjadi cahaya kecil yang mengendap di bawah ranjang.

”Ia seorang lelaki.”

Kalimat itu diulang-ulang seperti mantra.

Ia tak hanya disiapkan rumah, tetapi juga seorang calon pendamping hidup. Ia ditunangkan bahkan sebelum benar-benar lahir, tepat ketika usia kandungan memasuki bulan ketujuh.

”Bulan yang membawa keberuntungan,” ujar Matlatun sambil mengunyah sirih dan pinang hingga bibirnya merah seperti darah segar.

Hari ketika ia dilahirkan, ayahnya pergi menating perahu kecil ke tengah laut. Orang-orang kampung melihat lelaki itu berdiri lama di atas perahu sambil berbicara sendiri kepada ombak. Ia meminta ikan-ikan agar tak memanggil anaknya bermain terlalu jauh. Sebab di kampung itu dipercaya, anak lelaki yang terlalu sering dipanggil laut akan tumbuh liar dan sulit pulang.

Neneknya, Matlatun, mulai membacakan mantra-mantra dari lembaran kertas kusam yang selama puluhan tahun disembunyikan di dalam ruas bambu tua di dapur belakang. Setiap kali bambu itu dibuka, tercium bau tanah basah dan asap damar, seolah lembaran-lembaran itu baru saja digali dari kuburan leluhur. Namun, Matlatun selalu memintanya agar tak mengamalkan mantra. ”Bukalah sewaktu-waktu agar kamu tak buta huruf,” pesannya sambil membuka halaman kitab mantra, pelan-pelan. 

Matlatun mulai menuturkan kisah-kisah lama yang tak pernah diketahui siapa pun, bahkan oleh ibunya sendiri. Kisah tentang lelaki-lelaki yang dapat mendengar ombak dari dalam sumur, tentang perempuan yang berubah bisu setelah membaca macapat hingga bait terakhir, dan tentang orang-orang yang namanya hilang setelah terlalu lama mengembara. Baru saat itulah ia tahu, neneknya diam-diam masih menyimpan warisan ayahnya: lembaran-lembaran macapat tua yang konon hanya dibacakan ketika sebuah keluarga akan kehilangan satu nama dari garis keturunannya.

”Ibu, ia masih bayi.”

”Biarlah ia menjadi yang berbeda.”

Malam itu ikan-ikan muncul mengambang di pesisir hingga subuh. Tak seorang  nelayan pun berani melaut. Mereka percaya laut sedang mendengar nama seorang anak disebut untuk pertama kali.

Sekali lagi, ini bukan cerita tentang semua pertanda itu. Ini bukan pula cerita tentang seorang anak lelaki yang sejak lahir diarak ke tengah halaman rumah, lalu bersama nenek dan embuknya didudukkan di atas kursi rotan tua. Sanak famili berdatangan. Tetangga berkumpul. Satu demi satu memandikannya dengan ciduk dari batok kelapa muda.

Setiap orang yang selesai menyiramkan air selalu menyemplungkan uang recehan ke baskom besar. Katanya, anak lelaki harus tahu cara mencari uang sebelum ia mengenal cara menangis.

Pyur.

Bunyi uang jatuh ke air dipercaya dapat mengusir nasib buruk dari tubuh bayi.

Ya, ketahuilah, ini hanya cerita kecil tentang seorang lelaki yang ketika berusia tiga belas tahun mengganti namanya dengan nama yang membuatnya terusir dan terasing dari lingkungan yang diharapkan ayahnya: pesantren.

Tak ada yang tahu, bahkan dirinya sendiri, kenapa ia mulai menuliskan namanya sebagai Matiyus. Saat itu hari-hari dipenuhi berita tentang api. Api menjalar dari langgar ke langgar seperti wabah yang dapat berpindah melalui bisik-bisik manusia. Orang-orang mulai takut pada tetangganya sendiri. Bahkan ayam yang berkokok terlalu malam bisa dianggap pertanda ilmu hitam sedang berjalan di udara.

Enam bulan Madura didekap gelap akibat pemadaman panjang. Di kampung-kampung, malam turun terlalu cepat. Aroma angin subuh menyeruakkan bau mayat yang membusuk di pematang sawah, di semak-semak, di bawah pohon siwalan, dan geladak perahu.

Orang-orang mulai menutup pintu rapat bahkan sebelum matahari benar-benar tenggelam. Seusai maghrib, kampung seperti ditelan tanah. Tak ada suara lesung, tak ada anak-anak berlari di jalan, hanya angin yang mondar-mandir membawa kabar pincang dari langgar ke langgar: guru ngaji tak lagi bertaji.

”Ia dukun!”

Kalimat itu lebih cepat menyebar dibanding api. Debu beterbangan. Riap merah api membubung ke langit seperti lidah raksasa yang menjilat atap-atap rumah.

”Siapa yang mati?”

Hening.

Di Madura saat itu, nama orang mati sering hilang lebih dulu sebelum tubuhnya ditemukan.

Tak ada yang berani menjawab. Di Madura saat itu, nama orang mati sering hilang lebih dulu sebelum tubuhnya ditemukan. Hanya debur ombak dan buncahan buih yang berserpihan di udara hampa pulau garam itu.

Teman-teman sepantarannya lebih sibuk mengamalkan ilmu hizib agar tubuh kebal dan dapat terbang daripada belajar pelajaran pesantren. Mereka melakukan ritual di atas genting, mereka percaya tanah sedang lapar dan dapat memanggil nama orang-orang tertentu pada malam hari.

Situasi genting. Kegiatan pesantren berkali-kali diliburkan. Orang-orang datang dan pergi dengan mata cekung dan wajah kurang tidur. Di sela-sela kekacauan itulah, ia yang selalu memilih duduk di tepi kuburan masyayikh, dan entah apa yang terlintas di dalam benaknya ketika tiba-tiba ia mengganti namanya Matlawi menjadi Matiyus.

Kuburan para masyayikh itu dipercaya tak pernah benar-benar sunyi. Kadang menjelang subuh terdengar suara orang mengaji dari bawah tanah. Kadang lampu minyak yang diletakkan peziarah menyala sendiri meski tak ada api. Tetapi baginya tempat itu justru terasa tenang. Di sana hanya ada angin, bau tanah basah, dan suara daun kamboja jatuh satu per satu.

Ia memutuskan mengganti nama setelah membaca majalah yang memuat berita tentang kematian, pembakaran, dan seorang guru ngaji yang dituduh memiliki ilmu santet lalu digantung di tengah jalan seperti bangkai rusa hasil buruan.

Di lembar koran itu pula, ia menemukan sebuah kolom kecil pengumuman: siapa pun yang ingin memiliki buku dapat segera mengirim surat permohonan. Ia pun menulis surat atas nama Matiyus, lengkap dengan alamat pondok pesantren tempat ia mengaji, agar dikirimi buku-buku bacaan ringan tentang petualangan dan pengetahuan keagamaan.

Seperti saya singgung di atas, ia sendiri tak pernah tahu dari mana nama itu datang. Namun sejak kecil, Matlatun—neneknya—sering membacakan mantra dan kisah-kisah dari lembaran kusam yang disimpan di dalam bambu tua. Di sela suara serak dan bau sirih yang memenuhi malam, perempuan itu pernah berkata: ada nama-nama tertentu yang sesungguhnya telah lama berjalan di udara, berkeliling dari kampung ke kampung, sebelum akhirnya memilih tubuh seseorang untuk ditinggali.

Begitulah, setiap hari Jumat ia mendapatkan paket buku dari Yayasan Al-Kitab Jakarta. Anehnya, paket itu selalu tiba tepat sebelum azan ashar, bahkan ketika hujan besar membuat jalan-jalan kampung tenggelam lumpur. Tak pernah sekali pun kiriman itu terlambat.

Setiap kali paket datang, ia segera membukanya dengan tangan gemetar, lalu membaca buku-buku itu lahap-lahap di kuburan masyayikh, ditemani desir angin dan bau tanah basah.

Ya, ia tak melibatkan dirinya dengan teman-teman santri lain yang lebih banyak menghabiskan waktu di atas genting sambil menghafal hizib kesaktian dan ilmu terbang. Ia juga tak benar-benar tekun membaca kitab sebagai pelajaran utama pesantren.

Dan setiap kali membaca berita-berita itu, ia merasa nama Matiyus tumbuh diam-diam di dalam tubuhnya seperti akar pohon yang merambat di bawah tanah.

Selain membaca buku kiriman Yayasan Al-Kitab, ia lebih sering menyelinap keluar pesantren untuk membaca koran-koran bekas di gardu ronda dan warung kopi. Berita yang dibacanya selalu sama: pembantaian guru mengaji, pembakaran, pemburuan dukun santet yang menjalar dari Banyuwangi, Tasikmalaya, hingga konflik panjang antara Sampit dan Madura.

Dan setiap kali membaca berita-berita itu, ia merasa nama Matiyus tumbuh diam-diam di dalam tubuhnya seperti akar pohon yang merambat di bawah tanah.

Hari itu udara Madura terasa aneh. Tak ada bau bangkai dari arah sawah, tak ada kabar rumah dibakar, bahkan langgar kecil di ujung kampung kembali menyalakan pengeras suara yang telah lama diam. Orang-orang mulai duduk di gardu tanpa berbisik. Tepat ketika suasana terasa terlalu tenang itulah, paket untuk Matiyus datang. Kepada Matiyus, di Pondok Pesantren.

Surat itu diterima langsung oleh pengasuh pesantren, gurunya sendiri.

Orang-orang percaya nama yang salah tulis dapat mengubah nasib seseorang.

Orang-orang percaya nama yang salah tulis dapat mengubah nasib seseorang. Dan sejak sore itu, namanya seperti benar-benar berubah menjadi orang lain. Ia pun dipanggil agar segera menghadap.

”Panggil santri yang bernama Matiyus.”

Suara itu terdengar panjang seperti datang dari sumur tua.

Dengan kepala tertunduk ia beringsut pelan menuju ndalem. Dadanya berdebar keras seperti beduk dipukul menjelang magrib.

”Saya, Kiai.”

”Kamu yang bernama Matiyus, Nak, bukan Matius, kan?”

Ia tak segera menjawab. Tenggorokannya tercekat. Ia hanya mengangguk kecil, takut suara dari mulutnya akan terdengar asing bagi dirinya sendiri.

”Matiyus, Kiai, bukan Matius.”

”Pakai huruf ya, kan?”

Ia mengangguk. Raut wajahnya gelisah. Ia tak berani menggeser posisinya. Dan entah apa yang terjadi, tiba-tiba, sambil menyerahkan paket kiainya itu tersenyum geli.

”Ini kiriman untuk kamu, Nak Matiyus.” Diulurkannya paket dari Yayasan Al-Kitab itu, ”Benar Matiyus, kan?”

Hening.

Di luar ndalem, angin petang terdengar seperti seseorang sedang membaca doa untuk orang mati.

”Nak, berdirilah.”

Kiai yang selama ini begitu ditakutinya merentangkan tangan, lalu memeluknya erat.

Matiyus tak berani menatap wajah kiainya. Lututnya semakin gemetar. Rasa malu membuatnya tak sanggup berdiri tegak, apalagi beranjak dari hadapan orang yang paling ia takuti itu.

Tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang hangat mengalir di kakinya. Sarung yang dikenakannya mulai basah. Wajahnya seketika memerah.

Ya, tanpa disadarinya, ia telah mengencingi sarungnya sendiri.

”Berdiri, Nak. Sini.”

Dengan tubuh lemas dan sarung bagian depan yang masih basah, Matiyus perlahan berdiri. Ia menunduk, tak sanggup menatap wajah kiainya. Namun pada saat itulah sesuatu yang tak pernah ia bayangkan terjadi.

Kiai yang selama ini begitu ditakutinya merentangkan tangan, lalu memeluknya erat. Sesudah itu, ia mengelus lembut kepala Matiyus.

Yogyakarta, Juni 2026

 

Mahwi Air Tawar menulis puisi dan cerpen. Beberapa bukunya yang sudah terbit, antara lain, Mata Blater (cerpen-2010), Taneyan (puisi-2015), Karapan Laut (cerpen-2016), Puisi, Pengembaraan, Perjumpaan (Puisi-2018), Musyawarah Para Pencuri (cerpen-2021). Ia juga menerima sejumlah penghargaan. Saat ini, ia tinggal dan bergiat di komunitas adakopi.

Rahardi Handining, lahir di Semarang, Jawa Tengah, 27 Februari. Tinggal di Jakarta. Tahun 2004-2018 bekerja sebagai desainer grafis dan ilustrator di Harian Kompas. Aktif mengikuti kegiatan seni sampai sekarang. Mendapatkan beberapa penghargaan dari dalam dan luar negeri, antara lain The 4th Shanghai International Contemporary Art, China, pada 2019, dan Special Prize Mellow Art Award, Japan, 2020.

Ini bukan cerita tentang seorang anak lelaki yang, bahkan sejak sebelum lahir, telah didatangi pertanda-pertanda ganjil dari laut dan angin timur. Tiga hari sebelum ibunya melahirkan, rumah panggung kecil milik Matlatun, neneknya, tak pernah kehilangan bau melati.

Bau itu melekat di dinding bambu, di tikar pandan, bahkan di kandang kambing yang biasanya amis oleh air kencing dan lumpur. Orang-orang kampung percaya, hanya ada dua kemungkinan bagi anak yang lahir bersama bau bunga semacam itu: kelak ia membawa kemuliaan besar, atau justru bencana yang panjang.

Malam sebelum ia lahir, Matlatun bermimpi melihat laut naik ke daratan tanpa suara. Ikan-ikan berenang di jalan kampung, sementara dari arah timur terdengar orang-orang membaca salawat dengan suara seperti desir pasir. Ketika bangun, Matlatun segera meminta rumah kecil untuk cucunya dibangun menghadap ke timur.

-

”Rumah tak boleh menghadap ke timur. Cahaya matahari terlalu nanar. Anak bisa tak betah tinggal,” kata seorang tetangga yang sehari-hari bekerja sebagai tukang rias pengantin dan gemar mengomentari apa saja.

”Ia bukan anak biasa. Ia satu di antara anak-anak dari timur yang kelak membawa nama harum kampung. Nama desa.” Matlatun berpaling. Tempias pasir berhamburan dari sela-sela tumitnya yang renta.

Tak ada yang berani membantah ucapan perempuan yang, sejak kecil dikenal dapat mendengar suara ombak meski laut sedang surut berhari-hari. Orang-orang percaya Matlatun mewarisi pendengaran ganjil dari leluhurnya yang dahulu menanam ari-ari anak-anak mereka di pesisir agar nasib mereka tak jauh dari laut.

Ibunya pun hanya diam. Percuma membantah perempuan yang dapat mengetahui musim kematian dari bau angin subuh. Ia lahir dan tumbuh di antara semerbak kembang, asap dupa, dan mantra-mantra.

Baca JugaSimpon
dan Penonton Terakhir

Sejak masih dalam kandungan, orang-orang telah menyiapkan banyak hal untuk dirinya. Mereka yakin anak itu seorang lelaki, sebab setiap malam ibunya bermimpi melihat seekor ikan terbang menubruk pintu rumah lalu berubah menjadi cahaya kecil yang mengendap di bawah ranjang.

”Ia seorang lelaki.”

Kalimat itu diulang-ulang seperti mantra.

Ia tak hanya disiapkan rumah, tetapi juga seorang calon pendamping hidup. Ia ditunangkan bahkan sebelum benar-benar lahir, tepat ketika usia kandungan memasuki bulan ketujuh.

”Bulan yang membawa keberuntungan,” ujar Matlatun sambil mengunyah sirih dan pinang hingga bibirnya merah seperti darah segar.

Hari ketika ia dilahirkan, ayahnya pergi menating perahu kecil ke tengah laut. Orang-orang kampung melihat lelaki itu berdiri lama di atas perahu sambil berbicara sendiri kepada ombak. Ia meminta ikan-ikan agar tak memanggil anaknya bermain terlalu jauh. Sebab di kampung itu dipercaya, anak lelaki yang terlalu sering dipanggil laut akan tumbuh liar dan sulit pulang.

Neneknya, Matlatun, mulai membacakan mantra-mantra dari lembaran kertas kusam yang selama puluhan tahun disembunyikan di dalam ruas bambu tua di dapur belakang. Setiap kali bambu itu dibuka, tercium bau tanah basah dan asap damar, seolah lembaran-lembaran itu baru saja digali dari kuburan leluhur. Namun, Matlatun selalu memintanya agar tak mengamalkan mantra. ”Bukalah sewaktu-waktu agar kamu tak buta huruf,” pesannya sambil membuka halaman kitab mantra, pelan-pelan. 

Matlatun mulai menuturkan kisah-kisah lama yang tak pernah diketahui siapa pun, bahkan oleh ibunya sendiri. Kisah tentang lelaki-lelaki yang dapat mendengar ombak dari dalam sumur, tentang perempuan yang berubah bisu setelah membaca macapat hingga bait terakhir, dan tentang orang-orang yang namanya hilang setelah terlalu lama mengembara. Baru saat itulah ia tahu, neneknya diam-diam masih menyimpan warisan ayahnya: lembaran-lembaran macapat tua yang konon hanya dibacakan ketika sebuah keluarga akan kehilangan satu nama dari garis keturunannya.

”Ibu, ia masih bayi.”

”Biarlah ia menjadi yang berbeda.”

Malam itu ikan-ikan muncul mengambang di pesisir hingga subuh. Tak seorang  nelayan pun berani melaut. Mereka percaya laut sedang mendengar nama seorang anak disebut untuk pertama kali.

Sekali lagi, ini bukan cerita tentang semua pertanda itu. Ini bukan pula cerita tentang seorang anak lelaki yang sejak lahir diarak ke tengah halaman rumah, lalu bersama nenek dan embuknya didudukkan di atas kursi rotan tua. Sanak famili berdatangan. Tetangga berkumpul. Satu demi satu memandikannya dengan ciduk dari batok kelapa muda.

Setiap orang yang selesai menyiramkan air selalu menyemplungkan uang recehan ke baskom besar. Katanya, anak lelaki harus tahu cara mencari uang sebelum ia mengenal cara menangis.

Pyur.

Bunyi uang jatuh ke air dipercaya dapat mengusir nasib buruk dari tubuh bayi.

Ya, ketahuilah, ini hanya cerita kecil tentang seorang lelaki yang ketika berusia tiga belas tahun mengganti namanya dengan nama yang membuatnya terusir dan terasing dari lingkungan yang diharapkan ayahnya: pesantren.

Tak ada yang tahu, bahkan dirinya sendiri, kenapa ia mulai menuliskan namanya sebagai Matiyus. Saat itu hari-hari dipenuhi berita tentang api. Api menjalar dari langgar ke langgar seperti wabah yang dapat berpindah melalui bisik-bisik manusia. Orang-orang mulai takut pada tetangganya sendiri. Bahkan ayam yang berkokok terlalu malam bisa dianggap pertanda ilmu hitam sedang berjalan di udara.

Baca JugaKolonel

Enam bulan Madura didekap gelap akibat pemadaman panjang. Di kampung-kampung, malam turun terlalu cepat. Aroma angin subuh menyeruakkan bau mayat yang membusuk di pematang sawah, di semak-semak, di bawah pohon siwalan, dan geladak perahu.

Orang-orang mulai menutup pintu rapat bahkan sebelum matahari benar-benar tenggelam. Seusai maghrib, kampung seperti ditelan tanah. Tak ada suara lesung, tak ada anak-anak berlari di jalan, hanya angin yang mondar-mandir membawa kabar pincang dari langgar ke langgar: guru ngaji tak lagi bertaji.

”Ia dukun!”

Kalimat itu lebih cepat menyebar dibanding api. Debu beterbangan. Riap merah api membubung ke langit seperti lidah raksasa yang menjilat atap-atap rumah.

”Siapa yang mati?”

Hening.

Di Madura saat itu, nama orang mati sering hilang lebih dulu sebelum tubuhnya ditemukan.

Tak ada yang berani menjawab. Di Madura saat itu, nama orang mati sering hilang lebih dulu sebelum tubuhnya ditemukan. Hanya debur ombak dan buncahan buih yang berserpihan di udara hampa pulau garam itu.

Teman-teman sepantarannya lebih sibuk mengamalkan ilmu hizib agar tubuh kebal dan dapat terbang daripada belajar pelajaran pesantren. Mereka melakukan ritual di atas genting, mereka percaya tanah sedang lapar dan dapat memanggil nama orang-orang tertentu pada malam hari.

Situasi genting. Kegiatan pesantren berkali-kali diliburkan. Orang-orang datang dan pergi dengan mata cekung dan wajah kurang tidur. Di sela-sela kekacauan itulah, ia yang selalu memilih duduk di tepi kuburan masyayikh, dan entah apa yang terlintas di dalam benaknya ketika tiba-tiba ia mengganti namanya Matlawi menjadi Matiyus.

Kuburan para masyayikh itu dipercaya tak pernah benar-benar sunyi. Kadang menjelang subuh terdengar suara orang mengaji dari bawah tanah. Kadang lampu minyak yang diletakkan peziarah menyala sendiri meski tak ada api. Tetapi baginya tempat itu justru terasa tenang. Di sana hanya ada angin, bau tanah basah, dan suara daun kamboja jatuh satu per satu.

Ia memutuskan mengganti nama setelah membaca majalah yang memuat berita tentang kematian, pembakaran, dan seorang guru ngaji yang dituduh memiliki ilmu santet lalu digantung di tengah jalan seperti bangkai rusa hasil buruan.

Di lembar koran itu pula, ia menemukan sebuah kolom kecil pengumuman: siapa pun yang ingin memiliki buku dapat segera mengirim surat permohonan. Ia pun menulis surat atas nama Matiyus, lengkap dengan alamat pondok pesantren tempat ia mengaji, agar dikirimi buku-buku bacaan ringan tentang petualangan dan pengetahuan keagamaan.

Seperti saya singgung di atas, ia sendiri tak pernah tahu dari mana nama itu datang. Namun sejak kecil, Matlatun—neneknya—sering membacakan mantra dan kisah-kisah dari lembaran kusam yang disimpan di dalam bambu tua. Di sela suara serak dan bau sirih yang memenuhi malam, perempuan itu pernah berkata: ada nama-nama tertentu yang sesungguhnya telah lama berjalan di udara, berkeliling dari kampung ke kampung, sebelum akhirnya memilih tubuh seseorang untuk ditinggali.

Begitulah, setiap hari Jumat ia mendapatkan paket buku dari Yayasan Al-Kitab Jakarta. Anehnya, paket itu selalu tiba tepat sebelum azan ashar, bahkan ketika hujan besar membuat jalan-jalan kampung tenggelam lumpur. Tak pernah sekali pun kiriman itu terlambat.

Setiap kali paket datang, ia segera membukanya dengan tangan gemetar, lalu membaca buku-buku itu lahap-lahap di kuburan masyayikh, ditemani desir angin dan bau tanah basah.

Ya, ia tak melibatkan dirinya dengan teman-teman santri lain yang lebih banyak menghabiskan waktu di atas genting sambil menghafal hizib kesaktian dan ilmu terbang. Ia juga tak benar-benar tekun membaca kitab sebagai pelajaran utama pesantren.

Dan setiap kali membaca berita-berita itu, ia merasa nama Matiyus tumbuh diam-diam di dalam tubuhnya seperti akar pohon yang merambat di bawah tanah.

Selain membaca buku kiriman Yayasan Al-Kitab, ia lebih sering menyelinap keluar pesantren untuk membaca koran-koran bekas di gardu ronda dan warung kopi. Berita yang dibacanya selalu sama: pembantaian guru mengaji, pembakaran, pemburuan dukun santet yang menjalar dari Banyuwangi, Tasikmalaya, hingga konflik panjang antara Sampit dan Madura.

Dan setiap kali membaca berita-berita itu, ia merasa nama Matiyus tumbuh diam-diam di dalam tubuhnya seperti akar pohon yang merambat di bawah tanah.

Hari itu udara Madura terasa aneh. Tak ada bau bangkai dari arah sawah, tak ada kabar rumah dibakar, bahkan langgar kecil di ujung kampung kembali menyalakan pengeras suara yang telah lama diam. Orang-orang mulai duduk di gardu tanpa berbisik. Tepat ketika suasana terasa terlalu tenang itulah, paket untuk Matiyus datang. Kepada Matiyus, di Pondok Pesantren.

Surat itu diterima langsung oleh pengasuh pesantren, gurunya sendiri.

Orang-orang percaya nama yang salah tulis dapat mengubah nasib seseorang.

Orang-orang percaya nama yang salah tulis dapat mengubah nasib seseorang. Dan sejak sore itu, namanya seperti benar-benar berubah menjadi orang lain. Ia pun dipanggil agar segera menghadap.

”Panggil santri yang bernama Matiyus.”

Suara itu terdengar panjang seperti datang dari sumur tua.

Dengan kepala tertunduk ia beringsut pelan menuju ndalem. Dadanya berdebar keras seperti beduk dipukul menjelang magrib.

”Saya, Kiai.”

”Kamu yang bernama Matiyus, Nak, bukan Matius, kan?”

Ia tak segera menjawab. Tenggorokannya tercekat. Ia hanya mengangguk kecil, takut suara dari mulutnya akan terdengar asing bagi dirinya sendiri.

”Matiyus, Kiai, bukan Matius.”

”Pakai huruf ya, kan?”

Ia mengangguk. Raut wajahnya gelisah. Ia tak berani menggeser posisinya. Dan entah apa yang terjadi, tiba-tiba, sambil menyerahkan paket kiainya itu tersenyum geli.

”Ini kiriman untuk kamu, Nak Matiyus.” Diulurkannya paket dari Yayasan Al-Kitab itu, ”Benar Matiyus, kan?”

Hening.

Di luar ndalem, angin petang terdengar seperti seseorang sedang membaca doa untuk orang mati.

”Nak, berdirilah.”

Kiai yang selama ini begitu ditakutinya merentangkan tangan, lalu memeluknya erat.

Matiyus tak berani menatap wajah kiainya. Lututnya semakin gemetar. Rasa malu membuatnya tak sanggup berdiri tegak, apalagi beranjak dari hadapan orang yang paling ia takuti itu.

Tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang hangat mengalir di kakinya. Sarung yang dikenakannya mulai basah. Wajahnya seketika memerah.

Ya, tanpa disadarinya, ia telah mengencingi sarungnya sendiri.

”Berdiri, Nak. Sini.”

Dengan tubuh lemas dan sarung bagian depan yang masih basah, Matiyus perlahan berdiri. Ia menunduk, tak sanggup menatap wajah kiainya. Namun pada saat itulah sesuatu yang tak pernah ia bayangkan terjadi.

Kiai yang selama ini begitu ditakutinya merentangkan tangan, lalu memeluknya erat. Sesudah itu, ia mengelus lembut kepala Matiyus.

Yogyakarta, Juni 2026

 

Mahwi Air Tawar menulis puisi dan cerpen. Beberapa bukunya yang sudah terbit, antara lain, Mata Blater (cerpen-2010), Taneyan (puisi-2015), Karapan Laut (cerpen-2016), Puisi, Pengembaraan, Perjumpaan (Puisi-2018), Musyawarah Para Pencuri (cerpen-2021). Ia juga menerima sejumlah penghargaan. Saat ini, ia tinggal dan bergiat di komunitas adakopi.

Rahardi Handining, lahir di Semarang, Jawa Tengah, 27 Februari. Tinggal di Jakarta. Tahun 2004-2018 bekerja sebagai desainer grafis dan ilustrator di Harian Kompas. Aktif mengikuti kegiatan seni sampai sekarang. Mendapatkan beberapa penghargaan dari dalam dan luar negeri, antara lain The 4th Shanghai International Contemporary Art, China, pada 2019, dan Special Prize Mellow Art Award, Japan, 2020.