Penambahan peserta Piala Dunia 2026 menjadi 48 tim membuka kesempatan bagi tim-tim peringkat bawah untuk berpartisipasi. Nama-nama negara yang asing bagi sebagian penggemar sepak bola pun ambil bagian.
Banyak yang pesimis dengan aturan baru ini. Tim-tim kecil bakal jadi samsak bagi para raksasa dunia. Kekhawatiran itu terjadi, tetapi tidak seluruhnya. Sejumlah underdog justru mampu mematahkan prediksi.
Kami telah menunjukkan bahwa tidak ada yang mustahil.
Tanjung Verde, Curacao, dan RD Kongo, yang masing-masing saat bertanding berada di peringkat ke-67, ke-82, dan ke-46 rangking dunia FIFA, sanggup meraih poin dari Spanyol (ke-2), Ekuador (ke-23), dan Portugal (ke-5).
Nama lain-lain yang jadi underdog dari lawannya, seperti Ghana (ke-73) dan Afrika Selatan (ke-60), juga mampu mengambil poin dari lawan dengan peringkat lebih tinggi, yaitu Inggris (ke-4) dan Korea Selatan (ke-25).
Bagi sebagian underdog, poin yang mereka dapat dari tim unggulan berdampak signifikan pada kelolosan mereka. Tim debutan Tanjung Verde, misalnya, jadi satu-satunya tim yang tidak pernah menang di fase grup, tetapi lolos ke babak 32 besar sebagai runner up Grup H dengan tiga poin.
“Kami telah menunjukkan bahwa tidak ada yang mustahil,” kata Pelatih Tanjung Verde, Bubista, usai pertandingan lawan Arab Saudi, dikutip dari Reuters.
Selanjutnya, ada RD Kongo dan Ghana. Satu poin dari tim unggulan membantu mereka lolos via jalur peringkat tiga grup terbaik. Afrika Selatan bahkan jadi runner up berkat kemenangan 1-0 atas Korea Selatan.
Apakah kejutan-kejutan tersebut sebatas keberuntungan? Atau berkat taktik dan eksekusi yang cerdas?
Laporan BBC Sport mengungkap sejumlah pola umum dalam keberhasilan para underdog tersebut.
Jangan terpancing
Hasil imbang 0-0 Tanjung Verde melawan Spanyol mungkin jadi kejutan terbesar di turnamen sejauh ini. Secara taktik, penampilan negara terkecil ketiga dalam sejarah Piala Dunia ini juga mengesankan.
Tanjung Verde berhasil membungkam Spanyol melalui formasi defensif 4-5-1. Kunci keberhasilan mereka adalah jarak antara lini tengah dan lini pertahanan sangat kecil.
Menghadapi minimnya celah, tim yang menguasai bola cenderung mengoper bola ke belakang. Harapannya akan memancing lawan untuk maju.
Akan tetapi, saat Spanyol menerapkan itu, dengan harapan menarik para gelandang dan menciptakan ruangan dengan para bek, Tanjung Verde tidak terpancing. Mereka mempertahankan formasi tetap rapat.
Para bek Spanyol kemudian membawa bola ke depan dengan harapan memicu reaksi. Namun, sekali lagi, para pemain Tanjung Verde disiplin dengan formasi mereka hingga akhir pertandingan.
Spanyol pun gagal mencetak gol meski melepaskan 27 tembakan dengan tujuh di antaranya tepat sasaran dan menguasai bola 74 persen.
Pola serupa terlihat pula pada formasi pertahanan Ghana saat berhadapan dengan Inggris.

Dalam membongkar pertahanan Ghana, Inggris yang diasuh Thomas Tuchel menekankan strategi bertahan untuk memancing tekanan. Jika lawan terpancing, para pemain melakukan serangan cepat ke ruang terbuka.
Penyerang Ghana, Jordan Ayew, memang mengambil posisi lebih tinggi di lapangan untuk menjaga ketat gelandang Elliot Anderson. Namun, para pemain lainnya, seperti yang diterapkan Tanjung Verde, bermain dalam dua baris di luar kotak penalti mereka tanpa memberi ruang di antara kedua baris itu.
Penolakan para pemain Tanjung Verde dan Ghana untuk memberikan tekanan pada lawan mereka tampak pada angka PPDA, singkatan dari opposition passes allowed per defensive action atau jumlah operan lawan yang diizinkan per aksi defensif. Semakin tinggi angkanya, semakin sedikit tim itu mampu mengganggu permainan lawan.
Rata-rata PPDA Tanjung Verde saat melawan Spanyol adalah 51,2, sedangkan Spanyol 5,9. Adapun Ghana pada 15 menit pertama laga melawan Inggris, angka PPDA-nya 62.
Kedua tim nonunggulan itu bersikap pasif dan memang sengaja bersikap demikian. Seiring berjalanannya pertandingan, mereka kemudian meningkatkan tekanan untuk merebut kemenangan di akhir pertandingan. Ghana mengambil inisiatif dan risiko tersebut.

Menutupi lebar lapangan
Tim underdog lain juga berupaya tampil “parkir bus” saat melawan raksasa, tetapi kenapa mendapatkan hasil berbeda? Kekalahan telak Arab Saudi dengan skor 4-0 dari Spanyol dapat jadi contoh.
Sekilas, lima pemain bertahan seharusnya membuat tim lebih siap dalam bertahan, tetapi yang terjadi justru sebaliknya.
Arab Saudi tidak memiliki kejelasan dalam formasi lima pemain bek mereka dan terlalu sering terfokus pada pemain yang menguasai bola.
Meski bertahan rapat, empat gelandang Arab bergeser lebih ke sisi lapangan. Hal tersebut semestinya tidak dilakukan dan berarti mereka gagal menutup lebar lapangan.
Menyadari hal tersebut, Spanyol mengoper bola dengan baik, terutama dari kiri ke kanan.
Pada proses gol ketiga, misalnya, Lamine Yamal dan Pedro Porro berada dalam situasi dua lawan satu melawan bek kiri Arab Saudi. Keunggulan jumlah pemain ini berujung gol.
Dalam situasi tersebut, gelandang kiri Arab yang tertarik pada bola kesulitan kembali ke posisi semula dan memberikanan tekanan pada Porro saat bek kanan Spanyol itu menerima bola. Bek kiri juga tidak bisa maju menghentikan Porro karena tahu Yamal akan bebas jika itu dilakukan.
Porro yang punya waktu dan ruang cukup saat menguasai bola kemudian mengirimkan umpan silang ke tiang jauh. Bola kemudian diteruskan rekannya ke arah tengah sehingga Mikel Oyarzabal dapat dengan mudah menyelesaikannya.

Pancing tekanan, lancarkan serangan balik
Tim underdog tak perlu banyak menguasai bola dalam menghadapi lawan yang lebih kuat. Kondisi ini terjadi saat Afrika Selatan membungkam 1-0 Korea Selatan di laga pamungkas.
Dalam laga tersebut, Afrika Selatan hanya menguasai bola 13 persen, tetapi mampu melepaskan tembakan lebih banyak daripada Korea Selatan, yaitu 14 tembakan berbanding tujuh tembakan.
Afrika Selatan, meski kalah dalam penguasaan bola, mampu mengalirkan bola ke depan dengan terencana. Jadi, mereka tidak sekadar melepaskan umpan panjang dari kiper.
Umumnya tim-tim underdog, yang berhasil, memainkan umpan pendek dari tendangan gawang. Cara tersebut memancing tekanan dari tim-tim besar yang cederung bermain dengan tekanan tinggi. Saat lawan terpancing, mereka melambungkan bola ke arah sekelompok pemain di ruang kosong untuk serangan balik.
Tim-tim nonunggulan seperti Tanjung Verde dan Afrika Selatan menggunakan tendangan gawang pendek. Menariknya, para pemain saling berjauhan.
Dengan jarak besar antarpemain, lawan yang ingin melakukan tekanan man-to-man akan kesulitan menutup ruang gerak karena harus berlari jauh. Dalam momen itu, para bek dapat mencari gelandang dan penyerang di ruang kosong.
Membangun serangan dari belakang sambil menjaga jarak lebar antarpemain memang sangat berisiko kehilangan bola di area berbahaya. Afrika Selatan saat melawan Meksiko kebobolan dari situasi itu.
Meski demikian, Afrika Selatan juga menciptakan banyak peluang bagus dan penyelesaian yang baik bisa saja mengubah jalan pertandingan.
Ketika Korea Selatan terus menekan Afrika Selatan, tim ”Bafana Bafana” tetap pada prinsip mereka memainkan bola ke depan dengan lebih akurat. Setelah sampai di depan, mereka menyerang dengan cepat dan mencetak gol yang memastikan mereka lolos ke babak 32 besar.

Pragmatisme ala RD Kongo
Sementara itu, RD Kongo bermain secara pragmatis. Saat melawan tim unggulan, mereka tampil bertahan dengan formasi 5-3-2. Namun, saat melawan tim yang relatif mudah dihadapi, mereka bisa main mendominasi untuk memenangi pertandingan.
Saat melawan Portugal, RD Kongo kebobolan cepat pada menit ke-6 oleh gol Joao Neves. Namun, situasi tersebut tak membuat mereka terpancing untuk segera menyamakan kedudukan.
Para pemain RD Kongo disiplin bertahan menutup ruang serangan dari kedua sisi. Bila diperlukan, bek sayap Kongo bisa lebih agresif maju mencegat lawan. Para bek tengah dan gelandang secara kompak melakukan penjagaan man to man.
Bek sayap RD Kongo tidak hanya disiplin dalam bertahan, tetapi kecepatannya dapat diandalkan dalam melancarkan serangan balik cepat. Kemudian, skema bola mati juga tidak dianggap sepele.
Gol penyeimbang RD Kongo di ujung babak pertama hadir dari skema bola mati. Tendangan sudut digunakan untuk umpan pendek, kemudian dilanjutkan dengan umpan lambung ke kotak penalti yang berujung gol sundulan Yoane Wissa.
Saat melawan Uzbekistan (peringkat ke-50), RD Kongo yang butuh menang untuk lolos menampilkan wajah yang berbeda. Mereka bermain dengan formasi 4-4-2 dan tampil dominasi dengan penguasaan bola 57,6 persen. Mereka menang 3-1 meski sempat tertinggal lebih dulu.
“Kami mencintai tim nasional kami. Kami mencintai apa yang kami wakili. Saya pikir malam ini kami telah menunjukkan apa artinya bagi kami, yaitu berjuang apa pun yang terjadi,” kata penyerang RD Kongo, Yoane Wissa, usai pertandingan melawan Uzbekistan, dikutip dari Reuters.

Keahlian pemain
Para tim underdog itu menunjukkan bagaimana taktik yang tepat dapat memberikan hasil bagus. Bahkan, dengan kualitas pemain lebih rendah, mereka dapat berbicara lebih banyak ketika bermain dengan cara tepat dan kompak.
Meski demikian, kadang skill tersembunyi pemain juga membantu mereka mendapatkan hasil yang diharapkan.
Kiper veteran Tanjung Verde, Vozinha (40), misalnya, memikat hati banyak orang berkat penampilan gemilang dalam menahan tembakan Spanyol dengan tujuh penyelamatan.
Sementara itu, kiper Curacao, Eloy Room (37), menyamai rekor Piala Dunia untuk jumlah penyelamatan terbanyak dalam satu laga, yaitu 15 penyelamatan, dalam menahan gempuran Ekuador untuk hasil imbang 0-0.
Taktik dapat membantu negara-negara kecil untuk memperkecil kesenjangan dan bermain sesuai keinginan sendiri, tetapi aura Piala Dunia sepertinya memunculkan tingkat performa sejumlah pemain yang mungkin tidak mereka sadari sebelumnya. (BBC)
Penambahan peserta Piala Dunia 2026 menjadi 48 tim membuka kesempatan bagi tim-tim peringkat bawah untuk berpartisipasi. Nama-nama negara yang asing bagi sebagian penggemar sepak bola pun ambil bagian.
Banyak yang pesimis dengan aturan baru ini. Tim-tim kecil bakal jadi samsak bagi para raksasa dunia. Kekhawatiran itu terjadi, tetapi tidak seluruhnya. Sejumlah underdog justru mampu mematahkan prediksi.
Kami telah menunjukkan bahwa tidak ada yang mustahil.
Tanjung Verde, Curacao, dan RD Kongo, yang masing-masing saat bertanding berada di peringkat ke-67, ke-82, dan ke-46 rangking dunia FIFA, sanggup meraih poin dari Spanyol (ke-2), Ekuador (ke-23), dan Portugal (ke-5).
Nama lain-lain yang jadi underdog dari lawannya, seperti Ghana (ke-73) dan Afrika Selatan (ke-60), juga mampu mengambil poin dari lawan dengan peringkat lebih tinggi, yaitu Inggris (ke-4) dan Korea Selatan (ke-25).
Bagi sebagian underdog, poin yang mereka dapat dari tim unggulan berdampak signifikan pada kelolosan mereka. Tim debutan Tanjung Verde, misalnya, jadi satu-satunya tim yang tidak pernah menang di fase grup, tetapi lolos ke babak 32 besar sebagai runner up Grup H dengan tiga poin.
Baca JugaBagaimana Persaingan Menjadi 8 Tim Peringkat Ketiga Terbaik di Piala Dunia?
“Kami telah menunjukkan bahwa tidak ada yang mustahil,” kata Pelatih Tanjung Verde, Bubista, usai pertandingan lawan Arab Saudi, dikutip dari Reuters.
Selanjutnya, ada RD Kongo dan Ghana. Satu poin dari tim unggulan membantu mereka lolos via jalur peringkat tiga grup terbaik. Afrika Selatan bahkan jadi runner up berkat kemenangan 1-0 atas Korea Selatan.
Apakah kejutan-kejutan tersebut sebatas keberuntungan? Atau berkat taktik dan eksekusi yang cerdas?
Laporan BBC Sport mengungkap sejumlah pola umum dalam keberhasilan para underdog tersebut.

Jangan terpancing
Hasil imbang 0-0 Tanjung Verde melawan Spanyol mungkin jadi kejutan terbesar di turnamen sejauh ini. Secara taktik, penampilan negara terkecil ketiga dalam sejarah Piala Dunia ini juga mengesankan.
Tanjung Verde berhasil membungkam Spanyol melalui formasi defensif 4-5-1. Kunci keberhasilan mereka adalah jarak antara lini tengah dan lini pertahanan sangat kecil.
Menghadapi minimnya celah, tim yang menguasai bola cenderung mengoper bola ke belakang. Harapannya akan memancing lawan untuk maju.
Akan tetapi, saat Spanyol menerapkan itu, dengan harapan menarik para gelandang dan menciptakan ruangan dengan para bek, Tanjung Verde tidak terpancing. Mereka mempertahankan formasi tetap rapat.
Para bek Spanyol kemudian membawa bola ke depan dengan harapan memicu reaksi. Namun, sekali lagi, para pemain Tanjung Verde disiplin dengan formasi mereka hingga akhir pertandingan.
Baca Juga”Mentalitas Underdog” Jepang Bisa Saja Kejutkan Brasil
Spanyol pun gagal mencetak gol meski melepaskan 27 tembakan dengan tujuh di antaranya tepat sasaran dan menguasai bola 74 persen.
Pola serupa terlihat pula pada formasi pertahanan Ghana saat berhadapan dengan Inggris.

Dalam membongkar pertahanan Ghana, Inggris yang diasuh Thomas Tuchel menekankan strategi bertahan untuk memancing tekanan. Jika lawan terpancing, para pemain melakukan serangan cepat ke ruang terbuka.
Penyerang Ghana, Jordan Ayew, memang mengambil posisi lebih tinggi di lapangan untuk menjaga ketat gelandang Elliot Anderson. Namun, para pemain lainnya, seperti yang diterapkan Tanjung Verde, bermain dalam dua baris di luar kotak penalti mereka tanpa memberi ruang di antara kedua baris itu.
Baca JugaLaga Ajaib Aljazair dan Austria
Penolakan para pemain Tanjung Verde dan Ghana untuk memberikan tekanan pada lawan mereka tampak pada angka PPDA, singkatan dari opposition passes allowed per defensive action atau jumlah operan lawan yang diizinkan per aksi defensif. Semakin tinggi angkanya, semakin sedikit tim itu mampu mengganggu permainan lawan.
Rata-rata PPDA Tanjung Verde saat melawan Spanyol adalah 51,2, sedangkan Spanyol 5,9. Adapun Ghana pada 15 menit pertama laga melawan Inggris, angka PPDA-nya 62.
Kedua tim nonunggulan itu bersikap pasif dan memang sengaja bersikap demikian. Seiring berjalanannya pertandingan, mereka kemudian meningkatkan tekanan untuk merebut kemenangan di akhir pertandingan. Ghana mengambil inisiatif dan risiko tersebut.

Menutupi lebar lapangan
Tim underdog lain juga berupaya tampil “parkir bus” saat melawan raksasa, tetapi kenapa mendapatkan hasil berbeda? Kekalahan telak Arab Saudi dengan skor 4-0 dari Spanyol dapat jadi contoh.
Sekilas, lima pemain bertahan seharusnya membuat tim lebih siap dalam bertahan, tetapi yang terjadi justru sebaliknya.
Arab Saudi tidak memiliki kejelasan dalam formasi lima pemain bek mereka dan terlalu sering terfokus pada pemain yang menguasai bola.
Meski bertahan rapat, empat gelandang Arab bergeser lebih ke sisi lapangan. Hal tersebut semestinya tidak dilakukan dan berarti mereka gagal menutup lebar lapangan.
Menyadari hal tersebut, Spanyol mengoper bola dengan baik, terutama dari kiri ke kanan.
Pada proses gol ketiga, misalnya, Lamine Yamal dan Pedro Porro berada dalam situasi dua lawan satu melawan bek kiri Arab Saudi. Keunggulan jumlah pemain ini berujung gol.
Baca JugaDongeng RD Kongo Tercipta, Mimpi Buruk Korsel Tiba Juga
Dalam situasi tersebut, gelandang kiri Arab yang tertarik pada bola kesulitan kembali ke posisi semula dan memberikanan tekanan pada Porro saat bek kanan Spanyol itu menerima bola. Bek kiri juga tidak bisa maju menghentikan Porro karena tahu Yamal akan bebas jika itu dilakukan.
Porro yang punya waktu dan ruang cukup saat menguasai bola kemudian mengirimkan umpan silang ke tiang jauh. Bola kemudian diteruskan rekannya ke arah tengah sehingga Mikel Oyarzabal dapat dengan mudah menyelesaikannya.

Pancing tekanan, lancarkan serangan balik
Tim underdog tak perlu banyak menguasai bola dalam menghadapi lawan yang lebih kuat. Kondisi ini terjadi saat Afrika Selatan membungkam 1-0 Korea Selatan di laga pamungkas.
Dalam laga tersebut, Afrika Selatan hanya menguasai bola 13 persen, tetapi mampu melepaskan tembakan lebih banyak daripada Korea Selatan, yaitu 14 tembakan berbanding tujuh tembakan.
Afrika Selatan, meski kalah dalam penguasaan bola, mampu mengalirkan bola ke depan dengan terencana. Jadi, mereka tidak sekadar melepaskan umpan panjang dari kiper.
Umumnya tim-tim underdog, yang berhasil, memainkan umpan pendek dari tendangan gawang. Cara tersebut memancing tekanan dari tim-tim besar yang cederung bermain dengan tekanan tinggi. Saat lawan terpancing, mereka melambungkan bola ke arah sekelompok pemain di ruang kosong untuk serangan balik.
Baca JugaSejumlah Negara Lolos lewat Peringkat Ketiga Terbaik, Bagaimana Kansnya di Fase Gugur?
Tim-tim nonunggulan seperti Tanjung Verde dan Afrika Selatan menggunakan tendangan gawang pendek. Menariknya, para pemain saling berjauhan.
Dengan jarak besar antarpemain, lawan yang ingin melakukan tekanan man-to-man akan kesulitan menutup ruang gerak karena harus berlari jauh. Dalam momen itu, para bek dapat mencari gelandang dan penyerang di ruang kosong.
Membangun serangan dari belakang sambil menjaga jarak lebar antarpemain memang sangat berisiko kehilangan bola di area berbahaya. Afrika Selatan saat melawan Meksiko kebobolan dari situasi itu.
Meski demikian, Afrika Selatan juga menciptakan banyak peluang bagus dan penyelesaian yang baik bisa saja mengubah jalan pertandingan.
Ketika Korea Selatan terus menekan Afrika Selatan, tim ”Bafana Bafana” tetap pada prinsip mereka memainkan bola ke depan dengan lebih akurat. Setelah sampai di depan, mereka menyerang dengan cepat dan mencetak gol yang memastikan mereka lolos ke babak 32 besar.

Pragmatisme ala RD Kongo
Sementara itu, RD Kongo bermain secara pragmatis. Saat melawan tim unggulan, mereka tampil bertahan dengan formasi 5-3-2. Namun, saat melawan tim yang relatif mudah dihadapi, mereka bisa main mendominasi untuk memenangi pertandingan.
Saat melawan Portugal, RD Kongo kebobolan cepat pada menit ke-6 oleh gol Joao Neves. Namun, situasi tersebut tak membuat mereka terpancing untuk segera menyamakan kedudukan.
Para pemain RD Kongo disiplin bertahan menutup ruang serangan dari kedua sisi. Bila diperlukan, bek sayap Kongo bisa lebih agresif maju mencegat lawan. Para bek tengah dan gelandang secara kompak melakukan penjagaan man to man.
Bek sayap RD Kongo tidak hanya disiplin dalam bertahan, tetapi kecepatannya dapat diandalkan dalam melancarkan serangan balik cepat. Kemudian, skema bola mati juga tidak dianggap sepele.
Baca JugaBagaimana Peluang Tim Asia di Fase Gugur Piala Dunia?
Gol penyeimbang RD Kongo di ujung babak pertama hadir dari skema bola mati. Tendangan sudut digunakan untuk umpan pendek, kemudian dilanjutkan dengan umpan lambung ke kotak penalti yang berujung gol sundulan Yoane Wissa.
Saat melawan Uzbekistan (peringkat ke-50), RD Kongo yang butuh menang untuk lolos menampilkan wajah yang berbeda. Mereka bermain dengan formasi 4-4-2 dan tampil dominasi dengan penguasaan bola 57,6 persen. Mereka menang 3-1 meski sempat tertinggal lebih dulu.
“Kami mencintai tim nasional kami. Kami mencintai apa yang kami wakili. Saya pikir malam ini kami telah menunjukkan apa artinya bagi kami, yaitu berjuang apa pun yang terjadi,” kata penyerang RD Kongo, Yoane Wissa, usai pertandingan melawan Uzbekistan, dikutip dari Reuters.

Keahlian pemain
Para tim underdog itu menunjukkan bagaimana taktik yang tepat dapat memberikan hasil bagus. Bahkan, dengan kualitas pemain lebih rendah, mereka dapat berbicara lebih banyak ketika bermain dengan cara tepat dan kompak.
Meski demikian, kadang skill tersembunyi pemain juga membantu mereka mendapatkan hasil yang diharapkan.
Kiper veteran Tanjung Verde, Vozinha (40), misalnya, memikat hati banyak orang berkat penampilan gemilang dalam menahan tembakan Spanyol dengan tujuh penyelamatan.
Sementara itu, kiper Curacao, Eloy Room (37), menyamai rekor Piala Dunia untuk jumlah penyelamatan terbanyak dalam satu laga, yaitu 15 penyelamatan, dalam menahan gempuran Ekuador untuk hasil imbang 0-0.
Taktik dapat membantu negara-negara kecil untuk memperkecil kesenjangan dan bermain sesuai keinginan sendiri, tetapi aura Piala Dunia sepertinya memunculkan tingkat performa sejumlah pemain yang mungkin tidak mereka sadari sebelumnya. (BBC)