اخبار

Danilla Menyapa dari Ruang Redaksi

الكاتبabdulrahman-mustafaتاريخ النشر
Danilla Menyapa dari Ruang Redaksi

Ruang redaksi Harian Kompas dan Kompas.id tak sekadar wadah pertemuan gagasan yang menghasilkan cerita dalam bentuk reportase. Ia juga bisa menjadi panggung karya musik yang juga hasil permenungan dan disiplin penulisan serupa. Danilla dan kawan-kawannya bernyanyi menyuguhkan karya mereka dalam program Konser Kubikel Kompas.

“Dulu waktu PKL (kerja lapangan) pas masih kuliah (penyiaran) aku sempat kunjungan ke percetakan Kompas, sekitar 2008. Sempat juga kirim CV ngelamar ke Kompas karena aku suka jurnalisme,” kata penyanyi bernama panjang Danilla Jelita Poetri Riyadi, Senin (29/6/2026) di Menara Kompas, Jakarta.

Dia baru saja menuntaskan set sebanyak “delapan setengah” lagu—nomor “Kiw” cuma dimainkan bagian refrain karena banyak yang minta. Lagu itu memang tak ada dalam daftar yang mereka mainkan siang itu. Di antara delapan lagu itu ada tiga nomor yang diambil dari album baru, Candramawa, yaitu “Pertunjukan Terakhir”, “Lembar Biru”, dan “Setitik”.

Album penuh keempat itu baru meluncur di awal Juni. Selepas itu, Danilla belum ada pentas lagi. Sepuluh Penelisik—sebutan kelompok penggemarnya—diundang untuk mendengar lagu itu secara langsung, barang kali untuk yang pertama kalinya. Ada juga sejumlah pelanggan Kompas yang datang. Sisanya, penontonnya adalah awak Kompas—baik yang sengaja masuk kantor, atau memang sif siang.

Kesan reflektif kuat menguar dari album Candramawa. Danilla mengakui itu. Dia bilang, judul albumnya bermakna warna putih bercorak hitam, atau hitam bercorak putih. Abu-abu. Itu sudah terdengar di lagu pertama “Pertunjukan Terakhir” yang dibilang Danilla merefleksikan titik paripurna pada hidup manusia.

Lagu “Setitik” yang menjadi nomor pamungkas juga berkedalaman rasa. Di album, lagu itu dinyanyikan bareng Sandrayati dan Rara Sekar—dua sahabat Danilla yang kini sama-sama bermukim di luar negeri. Danilla rindu pada mereka.

“Ini (lagunya) menjadi pengingat buat kita, manusia, yang selalu sibuk. Boleh sibuk, tapi kadang nggak perlu segitunya. Boleh, lho, istirahat. Semua makhluk hidup berhak atas istirahat,” kata Danilla. Penjelasan itu sepertinya mewakili larik “Hidup hanya sedetik/Bersemi dan romantik/Aral justru pemercantik.” Itu pengingat yang tepat bagi awak media, yang sehari-hari bergelut dengan ketergesaan dan hukum waktu tenggat.

Konser Kubikel Kompas mempersembahkan Danilla di Menara Kompas, Jakarta Pusat, Senin (29/6/2026). 

KOMPAS/AGUS SUSANTO
29-6-2026

Seperti biasanya, Danilla menyanyi penuh penghayatan. Musiknya mendukung itu. Dia menjaga ritme gitar. Di belakangnya, bunyi gitar dihias dengan isian dari Billy Saleh yang terasa mengawang-awang, juga dipertajam petikan gitaris Randy James. Bunyi sintetis dari keyboard dimunculkan Otta Tarega. Sementara ketukan drum Edward Manurung dan bas Galang Perdana ibarat bingkai yang anggun. Racikan itu jadi pondasi corak bergaya dream pop, yang sedang banyak digandrungi hari ini.

Satu persembahan istimewa lain yang dihadiahkan Danilla buat penonton siang itu adalah lagu “Ikatan Waktu Lampau” dari album Lintasan Waktu keluaran 2017. Lagu itu, katanya, jarang dibawakan di panggung. Lagu ini padahal tak kalah bagus dibanding nomor populer seperti “Senja di Ambang Pilu”. Warna album kedua itu adalah eksplorasi musikal Danilla dari pop jazzy menuju pop psikadelik.

“Lagu ini jarang kami bawakan di panggung, karena, ya jarang ada yang request. Ini spesial buat teman-teman Kompas,” ujarnya. Kami bertepuk senang. Dia jago buat orang ge-er. Durasi satu jam rasanya terlalu singkat, ingin berlama-lama lagi di dekatnya.

Relasi Danilla dengan Kompas tak sebatas pekerjaan idaman masa lampau saja. Kiprah penyanyi bersuara cenderung berat ini terjalin setidaknya sejak 2015, tak lama setelah dia memutuskan berkarir jadi penyanyi profesional menyanyikan karya cipta sendiri.

Konser Kubikel Kompas mempersembahkan Danilla di Menara Kompas, Jakarta Pusat, Senin (29/6/2026). 

KOMPAS/AGUS SUSANTO
29-6-2026

Eksplorasi musikal dia berulang kali dicatat Kompas. Kadang itu tak cuma urusan musik, tapi juga kepedulian dia pada makhluk hidup. Dia merawat binatang, tumbuhan, dan hubungan dengan kawan-kawannya seadil-adilnya—nilai yang juga diemban Kompas. Relasi ini tumbuh berbarengan.

“Media arus utama bisa memberi ulasan yang lebih luas, tak sekadar mengutip press release. Bisa wawancara one-on-one, itu yang sudah mulai jarang sekarang. Kami perlu juga ‘dikuliti’ ulasan teman media (arus utama),” ujarnya.

Redaksi terbuka

Penampilan Danilla di ruang kerja kami tak lepas dari rangkaian Ultah Kompas ke-61. Konser Kubikel Kompas pertama kali dihelat tahun lalu, juga memeringati ulang tahun koran ini. Saat itu, yang tampil adalah sederet penyanyi papan atas seperti Ariel “Noah”, Armand Maulana, Vina Panduwinata, Ruth Sahanaya, Yuni Shara, Yura Yunita, dan bintang muda Idgitaf. Mereka berbaur dengan awak redaksi, bahkan mengalami langsung proses penyuntingan berita.

Setelah itu, program konser ini bergulir secara berkala. Skalanya memang tak sebesar peringatan ulang tahun. Tapi pemusik tetap diberi kesempatan menceritakan pengalaman mereka yang tertuang dalam karya, sekaligus menyuguhkannya. Mereka yang pernah datang bercakap-cakap adalah NonaRia, Seringai, Perunggu, Thee Marloes, dan SimakDialog. Arsip pemberitaan dan rekamannya tersedia di Kompas.id dan kanal YouTube Harian Kompas.

Konser Kubikel Kompas mempersembahkan Danilla di Menara Kompas, Jakarta Pusat, Senin (29/6/2026). 

KOMPAS/AGUS SUSANTO
29-6-2026

Pertunjukan kecil para musikus itu mencairkan ruang redaksi yang selama ini terkesan beku dan dingin. Sejatinya tidak. Prinsipnya, pintu redaksi terbuka lebar. Ia mewakili nilai-nilai jurnalisme yang bebas dari sekat. Maka dialektika beraneka rupa menjadi niscaya. Terkadang kita membicarakan intrik politik, di waktu lain tentang sampah plastik. Sesekali mengobrol perihal lukisan, kadang soal album musik. Begitulah. Apa saja.

Musik adalah bagian dari dialektika itu. Betapa tidak, ia dicipta dari ruang-ruang permenungan, yang mungkin saja sudah dikumpulkan dari hasil obrolan atau pengamatan. Isinya disintesiskan dalam untaian nada dan bunyi. Musisi yang datang berkunjung menceritakan itu, membagikan proses kreativitas mereka, membagikan suasana dalam nada.

Audiens ada yang terinspirasi, tapi mungkin ada juga yang kurang peduli. Bukan masalah besar. Namanya juga diskursus. Yang penting, ada ruang yang terbuka untuk membicarakannya. Ruang itu yang patut dijaga, sebagai katalis demokrasi di negara yang, kata Danilla, “Banyak ketidakpastian.”

Ruang redaksi Harian Kompas dan Kompas.id tak sekadar wadah pertemuan gagasan yang menghasilkan cerita dalam bentuk reportase. Ia juga bisa menjadi panggung karya musik yang juga hasil permenungan dan disiplin penulisan serupa. Danilla dan kawan-kawannya bernyanyi menyuguhkan karya mereka dalam program Konser Kubikel Kompas.

“Dulu waktu PKL (kerja lapangan) pas masih kuliah (penyiaran) aku sempat kunjungan ke percetakan Kompas, sekitar 2008. Sempat juga kirim CV ngelamar ke Kompas karena aku suka jurnalisme,” kata penyanyi bernama panjang Danilla Jelita Poetri Riyadi, Senin (29/6/2026) di Menara Kompas, Jakarta.

Konser Kubikel Kompas mempersembahkan Danilla di Menara Kompas, Jakarta Pusat, Senin (29/6/2026). 

KOMPAS/AGUS SUSANTO
29-6-2026

Dia baru saja menuntaskan set sebanyak “delapan setengah” lagu—nomor “Kiw” cuma dimainkan bagian refrain karena banyak yang minta. Lagu itu memang tak ada dalam daftar yang mereka mainkan siang itu. Di antara delapan lagu itu ada tiga nomor yang diambil dari album baru, Candramawa, yaitu “Pertunjukan Terakhir”, “Lembar Biru”, dan “Setitik”.

Album penuh keempat itu baru meluncur di awal Juni. Selepas itu, Danilla belum ada pentas lagi. Sepuluh Penelisik—sebutan kelompok penggemarnya—diundang untuk mendengar lagu itu secara langsung, barang kali untuk yang pertama kalinya. Ada juga sejumlah pelanggan Kompas yang datang. Sisanya, penontonnya adalah awak Kompas—baik yang sengaja masuk kantor, atau memang sif siang.

Kesan reflektif kuat menguar dari album Candramawa. Danilla mengakui itu. Dia bilang, judul albumnya bermakna warna putih bercorak hitam, atau hitam bercorak putih. Abu-abu. Itu sudah terdengar di lagu pertama “Pertunjukan Terakhir” yang dibilang Danilla merefleksikan titik paripurna pada hidup manusia.

Lagu “Setitik” yang menjadi nomor pamungkas juga berkedalaman rasa. Di album, lagu itu dinyanyikan bareng Sandrayati dan Rara Sekar—dua sahabat Danilla yang kini sama-sama bermukim di luar negeri. Danilla rindu pada mereka.

“Ini (lagunya) menjadi pengingat buat kita, manusia, yang selalu sibuk. Boleh sibuk, tapi kadang nggak perlu segitunya. Boleh, lho, istirahat. Semua makhluk hidup berhak atas istirahat,” kata Danilla. Penjelasan itu sepertinya mewakili larik “Hidup hanya sedetik/Bersemi dan romantik/Aral justru pemercantik.” Itu pengingat yang tepat bagi awak media, yang sehari-hari bergelut dengan ketergesaan dan hukum waktu tenggat.

Konser Kubikel Kompas mempersembahkan Danilla di Menara Kompas, Jakarta Pusat, Senin (29/6/2026). 

KOMPAS/AGUS SUSANTO
29-6-2026

Seperti biasanya, Danilla menyanyi penuh penghayatan. Musiknya mendukung itu. Dia menjaga ritme gitar. Di belakangnya, bunyi gitar dihias dengan isian dari Billy Saleh yang terasa mengawang-awang, juga dipertajam petikan gitaris Randy James. Bunyi sintetis dari keyboard dimunculkan Otta Tarega. Sementara ketukan drum Edward Manurung dan bas Galang Perdana ibarat bingkai yang anggun. Racikan itu jadi pondasi corak bergaya dream pop, yang sedang banyak digandrungi hari ini.

Satu persembahan istimewa lain yang dihadiahkan Danilla buat penonton siang itu adalah lagu “Ikatan Waktu Lampau” dari album Lintasan Waktu keluaran 2017. Lagu itu, katanya, jarang dibawakan di panggung. Lagu ini padahal tak kalah bagus dibanding nomor populer seperti “Senja di Ambang Pilu”. Warna album kedua itu adalah eksplorasi musikal Danilla dari pop jazzy menuju pop psikadelik.

“Lagu ini jarang kami bawakan di panggung, karena, ya jarang ada yang request. Ini spesial buat teman-teman Kompas,” ujarnya. Kami bertepuk senang. Dia jago buat orang ge-er. Durasi satu jam rasanya terlalu singkat, ingin berlama-lama lagi di dekatnya.

Relasi Danilla dengan Kompas tak sebatas pekerjaan idaman masa lampau saja. Kiprah penyanyi bersuara cenderung berat ini terjalin setidaknya sejak 2015, tak lama setelah dia memutuskan berkarir jadi penyanyi profesional menyanyikan karya cipta sendiri.

Konser Kubikel Kompas mempersembahkan Danilla di Menara Kompas, Jakarta Pusat, Senin (29/6/2026). 

KOMPAS/AGUS SUSANTO
29-6-2026

Eksplorasi musikal dia berulang kali dicatat Kompas. Kadang itu tak cuma urusan musik, tapi juga kepedulian dia pada makhluk hidup. Dia merawat binatang, tumbuhan, dan hubungan dengan kawan-kawannya seadil-adilnya—nilai yang juga diemban Kompas. Relasi ini tumbuh berbarengan.

“Media arus utama bisa memberi ulasan yang lebih luas, tak sekadar mengutip press release. Bisa wawancara one-on-one, itu yang sudah mulai jarang sekarang. Kami perlu juga ‘dikuliti’ ulasan teman media (arus utama),” ujarnya.

Redaksi terbuka

Penampilan Danilla di ruang kerja kami tak lepas dari rangkaian Ultah Kompas ke-61. Konser Kubikel Kompas pertama kali dihelat tahun lalu, juga memeringati ulang tahun koran ini. Saat itu, yang tampil adalah sederet penyanyi papan atas seperti Ariel “Noah”, Armand Maulana, Vina Panduwinata, Ruth Sahanaya, Yuni Shara, Yura Yunita, dan bintang muda Idgitaf. Mereka berbaur dengan awak redaksi, bahkan mengalami langsung proses penyuntingan berita.

Setelah itu, program konser ini bergulir secara berkala. Skalanya memang tak sebesar peringatan ulang tahun. Tapi pemusik tetap diberi kesempatan menceritakan pengalaman mereka yang tertuang dalam karya, sekaligus menyuguhkannya. Mereka yang pernah datang bercakap-cakap adalah NonaRia, Seringai, Perunggu, Thee Marloes, dan SimakDialog. Arsip pemberitaan dan rekamannya tersedia di Kompas.id dan kanal YouTube Harian Kompas.

Konser Kubikel Kompas mempersembahkan Danilla di Menara Kompas, Jakarta Pusat, Senin (29/6/2026). 

KOMPAS/AGUS SUSANTO
29-6-2026

Pertunjukan kecil para musikus itu mencairkan ruang redaksi yang selama ini terkesan beku dan dingin. Sejatinya tidak. Prinsipnya, pintu redaksi terbuka lebar. Ia mewakili nilai-nilai jurnalisme yang bebas dari sekat. Maka dialektika beraneka rupa menjadi niscaya. Terkadang kita membicarakan intrik politik, di waktu lain tentang sampah plastik. Sesekali mengobrol perihal lukisan, kadang soal album musik. Begitulah. Apa saja.

Musik adalah bagian dari dialektika itu. Betapa tidak, ia dicipta dari ruang-ruang permenungan, yang mungkin saja sudah dikumpulkan dari hasil obrolan atau pengamatan. Isinya disintesiskan dalam untaian nada dan bunyi. Musisi yang datang berkunjung menceritakan itu, membagikan proses kreativitas mereka, membagikan suasana dalam nada.

Audiens ada yang terinspirasi, tapi mungkin ada juga yang kurang peduli. Bukan masalah besar. Namanya juga diskursus. Yang penting, ada ruang yang terbuka untuk membicarakannya. Ruang itu yang patut dijaga, sebagai katalis demokrasi di negara yang, kata Danilla, “Banyak ketidakpastian.”