اخبار

Inspirasi Linsanity dan Pentingnya Turnamen  Basket Internasional bagi Atlet Muda

الكاتبabdulrahman-mustafaتاريخ النشر
Inspirasi Linsanity dan Pentingnya Turnamen  Basket Internasional bagi Atlet Muda

Fenomena ”Linsanity” yang dilahirkan legenda NBA, Jeremy Lin, membuktikan bahwa pemain Asia mampu menembus panggung basket dunia. Semangat itulah yang kini ditularkan kepada para atlet muda melalui ajang NBA Rising Stars Invitational (RSI) 2026 di Singapura.

Turnamen ini bukan sekadar soal menang dan kalah. Bagi atlet muda, kompetisi menjadi ruang untuk mengasah kemampuan, membangun mental bertanding, sekaligus mengukur sejauh mana mereka mampu bersaing di level yang lebih tinggi. Itulah pengalaman yang dirasakan para peserta NBA Rising Stars Invitational.

Ajang basket antarsekolah menengah atas di kawasan Asia-Pasifik ini untuk kedua kalinya digelar oleh National Basketball Association (NBA). Turnamen tersebut mempertemukan 12 tim putra dan 12 tim putri kategori usia di bawah 18 tahun (U-18).

Sebanyak 24 tim peserta berasal dari 12 negara, yakni Thailand, Korea Selatan, Australia, Hong Kong, Malaysia, Singapura, Filipina, Indonesia, India, Jepang, Taiwan, dan China. Turnamen yang pertama kali digelar pada 2025 itu berlangsung pada 23-28 Juni 2026. Indonesia diwakili tim putra dan putri SMA Jubilee Jakarta.

Sejumlah bintang basket dunia turut hadir, di antaranya legenda NBA, Jeremy Lin dan Mitch Richmond; legenda WNBA, Lauren Jackson; serta pemain Los Angeles Lakers asal Jepang, Rui Hachimura.

Para pemain Jubilee Jakarta datang ke Singapura bukan sekadar membawa nama sekolah. Mereka percaya turnamen ini menjadi bekal penting untuk menatap karier sebagai pebasket profesional.

Semangat itu tampak saat tim putra Jubilee menghadapi Velammal International School, India, di OCBC Arena, Rabu (24/6/2026). Sejak awal pertandingan, power forward Jubilee, Chimaoby Nzekwue (17), terus mengawal pergerakan lawan.

Momentum datang ketika salah seorang pemain Velammal melakukan kesalahan umpan. Bola yang lepas langsung direbut pemain Jubilee dan dioper kepada Chima, sapaan akrab Chimaoby.

Tanpa ragu, Chima berlari sekencang mungkin menuju ring lawan. Kurang dari 10 detik kemudian, lay up yang dilepaskannya meluncur mulus ke keranjang dan menghasilkan dua angka.

Aksi cepat itu menjadi salah satu momen yang membangkitkan permainan Jubilee. Tim Jubilee akhirnya mengakhiri perlawanan Velammal dengan kemenangan meyakinkan, 95-61.

Dengan postur atletis setinggi 189 sentimeter, Chima tampil dominan dengan mencetak 29 poin dan 15 rebound. Rekannya, Romeo Sofyal, yang tampil lincah menguasai paint area, turut menyumbang 15 poin dan lima asis.

Kemenangan tersebut menjadi pelipur lara setelah sehari sebelumnya Jubilee harus mengakui keunggulan Kyungbock High School, Korea Selatan, dengan skor telak 42-91 pada laga pembuka.

Semangat kebangkitan juga diperlihatkan tim putri Jubilee. Sehari berselang, mereka berhasil menaklukkan tuan rumah Nanyang Polytechnic, Singapura, dengan skor 83-24.

Point guard tim putri Jubilee 
Ariqa Shafa Chayyara di pertandingan menghadapi SMA Nanyang Polytechnic di turnamen NBA Rising Stars Invitational di OCBC Arena, Singapura, Kamis (25/6/2026). Jubilee mengalahkan tuan rumah Nanyang 83-24.

Pada laga itu, Ariqa Shafa Chayyara (16) menjadi salah satu pemain yang tampil menonjol. Mengenakan jilbab hitam, Shafa beberapa kali sukses memasukkan tembakan dua ataupun tiga angka sehingga menyumbang 13 poin bagi timnya.

Kemenangan tersebut juga menjadi yang pertama bagi tim putri Jubilee setelah kalah 23-74 dari Yali High School, China.

Meski sama-sama mengoleksi satu kemenangan dari dua pertandingan, tim putra ataupun putri Jubilee gagal melaju ke semifinal. Pada NBA RSI, babak penyisihan menggunakan sistem setengah kompetisi sehingga hanya tim dengan catatan terbaik yang berhak melaju ke fase gugur.

Pada partai puncak, Kyungbock High School keluar sebagai juara sektor putra setelah mengalahkan Tottori Johoku High School, Jepang, dengan skor 82-72.

Adapun di sektor putri, Seika Girls High School menjadi kampiun setelah menundukkan Yangming High School, Taiwan, dengan skor telak 106-59.

Jadi pijakan

Meski gagal membawa pulang trofi, para pemain Jubilee tidak pulang dengan tangan hampa. Pengalaman bertanding melawan tim-tim terbaik Asia justru menjadi bekal yang mereka anggap jauh lebih berharga.

Bagi Chima, turnamen ini membuka matanya terhadap standar permainan yang harus dikejar apabila ingin melangkah ke level yang lebih tinggi.

Pemain tim basket putra SMA Jubilee dari Indonesia menghadapi salah satu pemain tim Velammal International asal India di turnamen basket Asia Pasifik, NBA Rising Stars Invitational di OCBC Arena, Singapura, Rabu (24/6/2026). Jubilee mengalahkan tim Velammal 95-61.

”Aku senang sekali bisa bermain di turnamen sekelas ini. Ajang ini menjadi pijakan sekaligus evaluasi untuk meningkatkan kemampuan melalui latihan yang lebih keras,” kata Chima.

Ia mengaku telah menyusun rencana setelah lulus SMA. Chima ingin melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi yang memiliki jalur pembinaan menuju kompetisi basket profesional.

”Saya sudah mendapatkan beberapa tawaran dari universitas yang memiliki program olahraga basket yang kuat. Dalam waktu dekat saya akan menentukan pilihan,” kata siswa kelas tiga tersebut.

Hal serupa dirasakan Shafa. Menurut dia, pengalaman mengikuti NBA RSI menjadi pelajaran yang tidak mungkin diperoleh hanya melalui latihan di sekolah.

Sepulang dari Singapura, fokus Shafa dan rekan-rekannya kembali tertuju pada kompetisi basket antarsekolah di Indonesia, Developmental Basketball League (DBL). Meski Indonesia belum memiliki liga basket putri profesional, kondisi tersebut tidak memadamkan cita-citanya.

”Aku ingin mewujudkan mimpi menjadi pemain tim nasional senior Indonesia. Kalau bisa melangkah lebih jauh lagi, aku ingin bermain di luar negeri,” katanya.

Mental kompetitif

Legenda NBA, Jeremy Lin, mengaku antusias menyaksikan laga final NBA Rising Stars Invitational di OCBC Arena. Kehadirannya tidak hanya untuk memberikan dukungan kepada para peserta, tetapi juga menanamkan keyakinan bahwa mimpi bermain di kompetisi basket tertinggi dapat diraih melalui kerja keras.

Jeremy membuktikannya lewat penampilan fenomenal yang melahirkan istilah Linsanity. Istilah itu merupakan gabungan nama belakangnya, Lin, dan kata insanity yang berarti kehebohan.

Linsanity lahir ketika Jeremy memperkuat New York Knicks pada Februari 2012. Saat itu, pemain yang sebelumnya jarang mendapat kesempatan bermain tersebut tiba-tiba tampil mengejutkan dengan mencetak poin tinggi dalam sejumlah pertandingan dan membawa Knicks meraih kemenangan beruntun.

”Dengan kehadiran saya di sini, saya berharap para atlet muda, khususnya dari Asia, terus berjuang mengejar mimpi mereka. Teruslah berlatih keras dan miliki mental kompetitif,” ujar Jeremy.

Menurut Jeremy, keterampilan teknis memang menjadi syarat utama. Namun, ada satu aspek yang kerap diabaikan, yakni footwork atau pergerakan kaki.

”Footwork sering diremehkan. Padahal, kemampuan itu menjadi fondasi permainan karena membantu menjaga keseimbangan, posisi tubuh, dan kemampuan bergerak dengan baik,” katanya.

Jeremy juga melihat perkembangan basket Asia terus menunjukkan arah yang positif. Menurut dia, para pemain Asia dikenal memiliki etos kerja tinggi dan mampu bermain dalam sistem tim karena budaya saling menghormati yang kuat.

”Modal itu harus dipadukan dengan pengalaman bertanding di luar negeri agar mental kompetitif mereka semakin terbentuk,” ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan NBA Head of Southeast Asia and Asia Marketing Sheila Rasu. Menurut dia, pertandingan antarsekolah lintas negara seperti NBA RSI memberikan kesempatan yang jauh lebih besar bagi pemain muda untuk berkembang dibandingkan jika hanya berkompetisi di negaranya sendiri.

”Perkembangan terbesar justru terjadi ketika pemain muda mendapat kesempatan menghadapi lawan dari negara lain,” ujarnya.

NBA Head Of Southeast Asia and Asia Marketing, Sheila Rasu.

Ia mengungkapkan, para pemain terbaik dari turnamen ini juga akan memperoleh kesempatan mengikuti berbagai program pengembangan NBA, seperti Basketball Development Camp dan Basketball Without Borders (BWB) yang diselenggarakan NBA bersama Federasi Bola Basket Internasional (FIBA).

Tahun lalu, salah seorang alumnus NBA RSI dari sektor putri mendapat kesempatan mengikuti program Basketball Without Borders Africa 2025. Ia adalah Kartika Mahanani, pelajar asal Cirebon.

Ajang ini juga telah melahirkan pemain yang berhasil menembus level profesional. Salah satunya Daniel Edi, alumnus Yongsan High School, Korea Selatan. Tahun ini ia masuk dalam proses perekrutan klub Liga Basket Korea Selatan dan menjalani debut bersama tim nasional Korea Selatan pada kualifikasi Piala Dunia FIBA 2027.

Sheila mengatakan, NBA berencana terus memperluas cakupan NBA Rising Stars Invitational dengan menambah jumlah sekolah dan wilayah peserta.

”Harapannya, semakin banyak atlet muda di Asia-Pasifik memperoleh kesempatan menguji kemampuan mereka dan membuka jalan menuju panggung basket dunia,” katanya.

Fenomena ”Linsanity” yang dilahirkan legenda NBA, Jeremy Lin, membuktikan bahwa pemain Asia mampu menembus panggung basket dunia. Semangat itulah yang kini ditularkan kepada para atlet muda melalui ajang NBA Rising Stars Invitational (RSI) 2026 di Singapura.

Turnamen ini bukan sekadar soal menang dan kalah. Bagi atlet muda, kompetisi menjadi ruang untuk mengasah kemampuan, membangun mental bertanding, sekaligus mengukur sejauh mana mereka mampu bersaing di level yang lebih tinggi. Itulah pengalaman yang dirasakan para peserta NBA Rising Stars Invitational.

Ajang basket antarsekolah menengah atas di kawasan Asia-Pasifik ini untuk kedua kalinya digelar oleh National Basketball Association (NBA). Turnamen tersebut mempertemukan 12 tim putra dan 12 tim putri kategori usia di bawah 18 tahun (U-18).

Sebanyak 24 tim peserta berasal dari 12 negara, yakni Thailand, Korea Selatan, Australia, Hong Kong, Malaysia, Singapura, Filipina, Indonesia, India, Jepang, Taiwan, dan China. Turnamen yang pertama kali digelar pada 2025 itu berlangsung pada 23-28 Juni 2026. Indonesia diwakili tim putra dan putri SMA Jubilee Jakarta.

NBA Rising Stars Invitational yang kedua  kembali terlaksana di Singapura pada 
Rabu (23/6/2026). Turnamen liga bola basket tingkat sekolah menengah atas
dari kawasan Asia-Pasifik ini diikuti 24 tim.

Sejumlah bintang basket dunia turut hadir, di antaranya legenda NBA, Jeremy Lin dan Mitch Richmond; legenda WNBA, Lauren Jackson; serta pemain Los Angeles Lakers asal Jepang, Rui Hachimura.

Para pemain Jubilee Jakarta datang ke Singapura bukan sekadar membawa nama sekolah. Mereka percaya turnamen ini menjadi bekal penting untuk menatap karier sebagai pebasket profesional.

Semangat itu tampak saat tim putra Jubilee menghadapi Velammal International School, India, di OCBC Arena, Rabu (24/6/2026). Sejak awal pertandingan, power forward Jubilee, Chimaoby Nzekwue (17), terus mengawal pergerakan lawan.

Momentum datang ketika salah seorang pemain Velammal melakukan kesalahan umpan. Bola yang lepas langsung direbut pemain Jubilee dan dioper kepada Chima, sapaan akrab Chimaoby.

Tanpa ragu, Chima berlari sekencang mungkin menuju ring lawan. Kurang dari 10 detik kemudian, lay up yang dilepaskannya meluncur mulus ke keranjang dan menghasilkan dua angka.

Aksi cepat itu menjadi salah satu momen yang membangkitkan permainan Jubilee. Tim Jubilee akhirnya mengakhiri perlawanan Velammal dengan kemenangan meyakinkan, 95-61.

Baca JugaNBA Rising Star Invitational Jadi Panggung Talenta Muda Asia

Dengan postur atletis setinggi 189 sentimeter, Chima tampil dominan dengan mencetak 29 poin dan 15 rebound. Rekannya, Romeo Sofyal, yang tampil lincah menguasai paint area, turut menyumbang 15 poin dan lima asis.

Kemenangan tersebut menjadi pelipur lara setelah sehari sebelumnya Jubilee harus mengakui keunggulan Kyungbock High School, Korea Selatan, dengan skor telak 42-91 pada laga pembuka.

Semangat kebangkitan juga diperlihatkan tim putri Jubilee. Sehari berselang, mereka berhasil menaklukkan tuan rumah Nanyang Polytechnic, Singapura, dengan skor 83-24.

Point guard tim putri Jubilee 
Ariqa Shafa Chayyara di pertandingan menghadapi SMA Nanyang Polytechnic di turnamen NBA Rising Stars Invitational di OCBC Arena, Singapura, Kamis (25/6/2026). Jubilee mengalahkan tuan rumah Nanyang 83-24.

Pada laga itu, Ariqa Shafa Chayyara (16) menjadi salah satu pemain yang tampil menonjol. Mengenakan jilbab hitam, Shafa beberapa kali sukses memasukkan tembakan dua ataupun tiga angka sehingga menyumbang 13 poin bagi timnya.

Kemenangan tersebut juga menjadi yang pertama bagi tim putri Jubilee setelah kalah 23-74 dari Yali High School, China.

Meski sama-sama mengoleksi satu kemenangan dari dua pertandingan, tim putra ataupun putri Jubilee gagal melaju ke semifinal. Pada NBA RSI, babak penyisihan menggunakan sistem setengah kompetisi sehingga hanya tim dengan catatan terbaik yang berhak melaju ke fase gugur.

Pada partai puncak, Kyungbock High School keluar sebagai juara sektor putra setelah mengalahkan Tottori Johoku High School, Jepang, dengan skor 82-72.

Adapun di sektor putri, Seika Girls High School menjadi kampiun setelah menundukkan Yangming High School, Taiwan, dengan skor telak 106-59.

Jadi pijakan

Meski gagal membawa pulang trofi, para pemain Jubilee tidak pulang dengan tangan hampa. Pengalaman bertanding melawan tim-tim terbaik Asia justru menjadi bekal yang mereka anggap jauh lebih berharga.

Bagi Chima, turnamen ini membuka matanya terhadap standar permainan yang harus dikejar apabila ingin melangkah ke level yang lebih tinggi.

Pemain tim basket putra SMA Jubilee dari Indonesia menghadapi salah satu pemain tim Velammal International asal India di turnamen basket Asia Pasifik, NBA Rising Stars Invitational di OCBC Arena, Singapura, Rabu (24/6/2026). Jubilee mengalahkan tim Velammal 95-61.

”Aku senang sekali bisa bermain di turnamen sekelas ini. Ajang ini menjadi pijakan sekaligus evaluasi untuk meningkatkan kemampuan melalui latihan yang lebih keras,” kata Chima.

Ia mengaku telah menyusun rencana setelah lulus SMA. Chima ingin melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi yang memiliki jalur pembinaan menuju kompetisi basket profesional.

”Saya sudah mendapatkan beberapa tawaran dari universitas yang memiliki program olahraga basket yang kuat. Dalam waktu dekat saya akan menentukan pilihan,” kata siswa kelas tiga tersebut.

Hal serupa dirasakan Shafa. Menurut dia, pengalaman mengikuti NBA RSI menjadi pelajaran yang tidak mungkin diperoleh hanya melalui latihan di sekolah.

Sepulang dari Singapura, fokus Shafa dan rekan-rekannya kembali tertuju pada kompetisi basket antarsekolah di Indonesia, Developmental Basketball League (DBL). Meski Indonesia belum memiliki liga basket putri profesional, kondisi tersebut tidak memadamkan cita-citanya.

”Aku ingin mewujudkan mimpi menjadi pemain tim nasional senior Indonesia. Kalau bisa melangkah lebih jauh lagi, aku ingin bermain di luar negeri,” katanya.

Mental kompetitif

Legenda NBA, Jeremy Lin, mengaku antusias menyaksikan laga final NBA Rising Stars Invitational di OCBC Arena. Kehadirannya tidak hanya untuk memberikan dukungan kepada para peserta, tetapi juga menanamkan keyakinan bahwa mimpi bermain di kompetisi basket tertinggi dapat diraih melalui kerja keras.

Jeremy membuktikannya lewat penampilan fenomenal yang melahirkan istilah Linsanity. Istilah itu merupakan gabungan nama belakangnya, Lin, dan kata insanity yang berarti kehebohan.

Linsanity lahir ketika Jeremy memperkuat New York Knicks pada Februari 2012. Saat itu, pemain yang sebelumnya jarang mendapat kesempatan bermain tersebut tiba-tiba tampil mengejutkan dengan mencetak poin tinggi dalam sejumlah pertandingan dan membawa Knicks meraih kemenangan beruntun.

”Dengan kehadiran saya di sini, saya berharap para atlet muda, khususnya dari Asia, terus berjuang mengejar mimpi mereka. Teruslah berlatih keras dan miliki mental kompetitif,” ujar Jeremy.

Menurut Jeremy, keterampilan teknis memang menjadi syarat utama. Namun, ada satu aspek yang kerap diabaikan, yakni footwork atau pergerakan kaki.

”Footwork sering diremehkan. Padahal, kemampuan itu menjadi fondasi permainan karena membantu menjaga keseimbangan, posisi tubuh, dan kemampuan bergerak dengan baik,” katanya.

Jeremy juga melihat perkembangan basket Asia terus menunjukkan arah yang positif. Menurut dia, para pemain Asia dikenal memiliki etos kerja tinggi dan mampu bermain dalam sistem tim karena budaya saling menghormati yang kuat.

”Modal itu harus dipadukan dengan pengalaman bertanding di luar negeri agar mental kompetitif mereka semakin terbentuk,” ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan NBA Head of Southeast Asia and Asia Marketing Sheila Rasu. Menurut dia, pertandingan antarsekolah lintas negara seperti NBA RSI memberikan kesempatan yang jauh lebih besar bagi pemain muda untuk berkembang dibandingkan jika hanya berkompetisi di negaranya sendiri.

”Perkembangan terbesar justru terjadi ketika pemain muda mendapat kesempatan menghadapi lawan dari negara lain,” ujarnya.

NBA Head Of Southeast Asia and Asia Marketing, Sheila Rasu.

Ia mengungkapkan, para pemain terbaik dari turnamen ini juga akan memperoleh kesempatan mengikuti berbagai program pengembangan NBA, seperti Basketball Development Camp dan Basketball Without Borders (BWB) yang diselenggarakan NBA bersama Federasi Bola Basket Internasional (FIBA).

Tahun lalu, salah seorang alumnus NBA RSI dari sektor putri mendapat kesempatan mengikuti program Basketball Without Borders Africa 2025. Ia adalah Kartika Mahanani, pelajar asal Cirebon.

Ajang ini juga telah melahirkan pemain yang berhasil menembus level profesional. Salah satunya Daniel Edi, alumnus Yongsan High School, Korea Selatan. Tahun ini ia masuk dalam proses perekrutan klub Liga Basket Korea Selatan dan menjalani debut bersama tim nasional Korea Selatan pada kualifikasi Piala Dunia FIBA 2027.

Sheila mengatakan, NBA berencana terus memperluas cakupan NBA Rising Stars Invitational dengan menambah jumlah sekolah dan wilayah peserta.

”Harapannya, semakin banyak atlet muda di Asia-Pasifik memperoleh kesempatan menguji kemampuan mereka dan membuka jalan menuju panggung basket dunia,” katanya.

Baca JugaHujan Tembakan Tiga Poin, Ini Juara NBA Rising Stars Invitational