اخبار

Lutesha, Film Horor ala Edwin

الكاتبabdulrahman-mustafaتاريخ النشر
Lutesha, Film Horor ala Edwin

Seusai nonton bareng alias nobar Monster Pabrik Rambut, Lutesha hadir yang disambut audiens dengan tepuk tangan meriah. Ia lantas menyampaikan sepatah kata mengenai kerja keras kru-kru film tersebut. Mereka menuntaskan karyanya dengan efek yang digarap secara manual.

”Dibuat dengan susah payah supaya terlihat craftsmanship (keahlian) yang sangat tinggi,” katanya di Jakarta, Rabu (17/6/2026). Lutesha sekaligus berharap bisa lebih mendongkrak minat masyarakat untuk menonton genre horor yang disutradarai Edwin tersebut.

Ia dikenal karena sentuhannya yang khas ketika menggarap film. Meski kerap dipandang absurd, kreasi tersebut mengusung makna yang dalam. Dalam Monster Pabrik Rambut, misalnya, bukan hanya hantu yang dipanggungkan, melainkan juga menggugat isu bekerja berlebihan atau overwork.

”Buruh-buruh lembur sampai kehilangan anggota tubuhnya, tetapi dinormalisasi atau diglamorisasi. Ada kritik yang cukup tajam,” ujarnya. Lutesha pun mengundang komunitas penata gaya, desainer, modeling, dan fotografer. Sejak dirilis pada awal Juni lalu, horor psikologis itu juga dipromosikan di sejumlah kota.

Nobar, contohnya telah digelar di Bandung, Yogyakarta, dan Medan. Lutesha mengamati respons khalayak yang baik karena Monster Pabrik Rambut mampu memadukan dark comedy atau komedi gelap dan isu sosial. Ia menilai bahwa segmen tersebut masih sangat spesifik.

”Pasti niche (khusus) dilihat dari pendekatan ala Edwin yang membuat film berlatar tahun 1980-an, tapi horornya mengusung pesan baru,” ucap Lutesha. Film semacam itu masih jarang dibuat lewat penyegaran sudut pandang saat adegannya dirampungkan.

Seusai nonton bareng alias nobar Monster Pabrik Rambut, Lutesha hadir yang disambut audiens dengan tepuk tangan meriah. Ia lantas menyampaikan sepatah kata mengenai kerja keras kru-kru film tersebut. Mereka menuntaskan karyanya dengan efek yang digarap secara manual.

Lutesha

”Dibuat dengan susah payah supaya terlihat craftsmanship (keahlian) yang sangat tinggi,” katanya di Jakarta, Rabu (17/6/2026). Lutesha sekaligus berharap bisa lebih mendongkrak minat masyarakat untuk menonton genre horor yang disutradarai Edwin tersebut.

Ia dikenal karena sentuhannya yang khas ketika menggarap film. Meski kerap dipandang absurd, kreasi tersebut mengusung makna yang dalam. Dalam Monster Pabrik Rambut, misalnya, bukan hanya hantu yang dipanggungkan, melainkan juga menggugat isu bekerja berlebihan atau overwork.

”Buruh-buruh lembur sampai kehilangan anggota tubuhnya, tetapi dinormalisasi atau diglamorisasi. Ada kritik yang cukup tajam,” ujarnya. Lutesha pun mengundang komunitas penata gaya, desainer, modeling, dan fotografer. Sejak dirilis pada awal Juni lalu, horor psikologis itu juga dipromosikan di sejumlah kota.

Nobar, contohnya telah digelar di Bandung, Yogyakarta, dan Medan. Lutesha mengamati respons khalayak yang baik karena Monster Pabrik Rambut mampu memadukan dark comedy atau komedi gelap dan isu sosial. Ia menilai bahwa segmen tersebut masih sangat spesifik.

”Pasti niche (khusus) dilihat dari pendekatan ala Edwin yang membuat film berlatar tahun 1980-an, tapi horornya mengusung pesan baru,” ucap Lutesha. Film semacam itu masih jarang dibuat lewat penyegaran sudut pandang saat adegannya dirampungkan.