اخبار

Uang Tidak Bisa Membeli Prestasi di Piala Dunia

الكاتبabdulrahman-mustafaتاريخ النشر
Uang Tidak Bisa Membeli Prestasi di Piala Dunia

Kekuatan finansial tidak serta merta menjadi penentu kesuksesan di Piala Dunia. Tim-tim dari negara kaya raya, seperti Arab Saudi dan Qatar, justru pulang lebih awal dari Piala Dunia 2026.

Mereka memiliki liga yang gemerlap dengan para pemain bintang dunia, meskipun sudah di pengujung karier. Akan tetapi, di level tim nasional, materi pemain merekq kurang solid. Hal itu, salah satunya, karena mereka tidak memiliki banyak pemain yang berlaga di liga-liga Eropa yang kompetitif.

Skuad Arab Saudi dan Qatar mayoritas diperkuat oleh para pemain dari liga nasional. Qatar hanya membawa satu pemain yang tampil di klub Divisi Segunda Spanyol, Cultural Leonesa, yaitu bek kiri Homam Al-Amin. Ia berstatus pemain pinjaman klub Al-Duhail.

Setali tiga uang, Arab Saudi juga hanya membawa satu pemain dari luar liga Saudi Pro, yaitu bek kanan Saud Abdulhamid yang membela klub Perancis, Lens.

Bertumpun pada pemain klub-klub dalam negeri memang bukan kesalahan. Tetapi, dengan kualitas kompetisi liga yang belum solid, mendorong para pemain tampil di liga-liga level elite dunia akan menjadi keuntungan besar. Mereka akan terbiasa dengan persaingan super-ketat level dunia dan dihadapkan pada olah strategi para pelatih papan atas, sehari-hari.

Namun, sangat sedikit pemain dari Arab Saudi dan Qatar yang bermain di Eropa. Adsa beberapa kendala, termasuk pemantauan bakat, tetapi yang terbesar adalah gaji pemain. Di Liga Saudi Pro, gaji pemain dalam negeri sudah setara, bahkan lebih besar dari para pemain klub-klub di liga-liga besar Eropa seperti La Liga Spanyol, Serie A Italia, dan Bundesliga Jerman.

Jika pemain Arab Saudi bermain di Eropa, mereka kemungkinan akan bermain di klub kompetisi kasta kedua atau klub level menengah-bawah dengan gaji lebih kecil dari bermain di klub Saudi Pro.

Gaji besar

Berdasarkan data SalaryLeaks, pemain lokal di klub liga Saudi Pro, seperti gelandang Abdullah Al-Khaibari, gajinya mencapai 2,5 juta euro per tahun atau setara rata-rata gaji pemain di Serie A. Jika bermain di Eropa, dia harus rela mengorbankan gaji besar.

Selain masalah gaji, kliub-klub juga enggan melepas pemain bintang lokal mereka untuk melindungi pasar domestik. Mereka tetap memerlukan local hero untuk membangun ikatan dengan basis suporter.

Kondisi ini sudah berlangsung lama, tercermin dari penolakan Al-Hilal pada keinginan klub Wolverhampton Wanderers mengikat kontrak striker Sami Al-Jaber yang membawa Aran Saudi lolos ke babak 16 besar Piala Dunia 1994.

Pada 2000, Al-Jaber dipinjamkan ke Wolves dan menjadi pemain kedua dari Arab Saudi yang bermain di luar negeri. Dia membuat Pelatih Dave Jones terkesan dan berniat mengontrak permain, tetapi niat itu ditolak oleh Al-Hilal.

“Klub-klub tidak mau memberikan (pemain mereka) apa yang pantas mereka dapatkan. Tetapi, jika Arab Saudi ingin memiliki pemain bagus di masa depan, maka mereka harus membiarkan para pemain itu pergi,” ujar Al-Jaber kepada The Guardian pada 2002.

Players take the field before the World Cup Group H soccer match between Cape Verde and Saudi Arabia in Houston, Friday, June 26, 2026. (AP Photo/Eric Gay)

Kini, liga sepak bola Arab Saudi dan Qatar terus berusaha membangun industri sepak bola mereka dengan menggelontorkan uang besar untuk mendatangkan para pemain kelas dunia, terutama dari klub-klub Eropa.

Mereka berharap kedatangan para bintang senja, seperti Cristiano Ronaldo dan Karim Benzema, masing-masing di klub liga Saudi Pro Al-Nassr dan Al-Hilal, juga meningkatkan kualitas kompetisi.

“Ketika kita memiliki bintang-bintang ini di Liga Arab, saya pikir semakin ketat kompetisinya, semakin baik pemain kita. Tetapi, berbeda ketika kita bermain untuk tim nasional. Di tim nasional, selain pengalaman-pengalaman ini, dibutuhkan pula mentalitas tertentu,” ujar Pelatih Arab Saudi Georgios Donis.

Mendatangkan bintang-bintang tua—yang sukses menggeliatkan industri sepak bola—tidak bisa langsung berdampak pada kualitas permainan skuad tim nasional. Para pemain yang  mayoritas membela klub-klub dalam negeri belum mampu membuat perbedaan di panggung Piala Dunia.

Arab Saudi juga mengawali persaingan Grup H Piala Dunia 2026 dengan kejutan, yaitu menahan Uruguay 1-1. Tetapi, mereka kemudian dihajar Spanyol 0-4 dan hanya mampu bermain 0-0 melawan tim debutan dari negara kecil dengan status negara berkembang, Tanjung Verde.

Arab Saudi pun menempati dasar klasemen, tersingkir bersama Uruguay. Sedangkan Tanjung Verde melaju ke babak 32 besar menantang Argentina.

Infografik Pembagian Grup Piala Dunia 2026

Diaspora

Tanjung Verde menjadi kebalikan dari Arab Saudi yang tidak memiliki liga nasional kuat, tetapi memiliki banyak pemain diaspora yang tampil di klub-klub Eropa, meskipun banyak di kasta kedua.

Mereka tidak bergaji besar, tetapi memiliki pengalaman bertarung dengan para pemain top Eropa, terbiasa dengan dinamika taktik level tinggi, sehingga mampu bermain taktis di Piala Dunia pertama mereka.

Selain itu, Tanjung Verde disatukan oleh nasionalisme serta tekad bersama untuk mengharumkan nama bangsa.

“Ini bukan yang kami inginkan. Ketika bermain dalam pertandingan seperti itu, melawan tim yang kurang lebih setara dengan kami, performa kami tidak bagus. Jadi, ini menimbulkan kekhawatiran,” kata Donis.

Kiprah di Amerika Utara yang mengecewakan membuat Presiden Persaatuan Sepak Bola Arab Saudi Yasser al-Misehal pun mengundurkan diri. Dia berharap pergantian pemimpin federasi akan membawa kemajuan bagi sepak bola Arab Saudi. Akselerasi kualitas sepak bola perlu menjadi fokus Arab Saudi yang akan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2034.

“Kegagalan tim nasional untuk lolos ke babak selanjutnya di Piala Dunia adalah hasil yang jauh dari semua ambisi kita. Saya memikul tanggung jawab penuh atas hal itu dan menyampaikan permintaan maaf kepada semua orang yang berharap melihat tim kita berada di posisi yang lebih baik,” tulis Yasser al-Misehal di X pada Minggu malam.

Saudi Arabia's Mohammed Abu Alshamat (26) and Ali Lajami (3) react to a 0-0 draw against Cape Verde after the World Cup Group H soccer match in Houston, Friday, June 26, 2026. (AP Photo/David J. Phillip)

“Rasa tanggung jawab menuntut kesempatan untuk membuka babak baru dan saya telah memutuskan untuk tidak melanjutkan hingga akhir masa jabatan saya saat ini,” ungkap Al-Misehal kemudian.

Dalam sejarah Arab Saudi di Piala Dunia, mereka tujuh kali lolos ke babak utama pada 1994-2006 dan 2018-2026. Pencapaian terbaik mereka adalah lolos ke babak 16 besar pada 1994 berkat gol brilian Saeed Al-Owairan ke gawang Belgia melalui aksi solo melewati lima pemain lawan. Selain edisi itu, Arab Saudi selalu tersingkir di fase grup.

Tim kaya lainnya, Qatar, baru dua kali lolos ke babak utama Piala Dunia, yaitu saat menjadi tuan rumah pada 2022 dan saat ini, edisi 2026. Tetapi, mereka selalu tersingkir di fase grup.

Pada 2026 ini, Qatar—yang bersaing di Grup B—juga pulang awal karena berada di dasar klasemen dengan satu poin dari laga imbang 1-1 melawan Swiss. Qatar kemudian dibantai Kanada 0-6 dan ditekuk oleh Bosnia dan Herzegovina 1-3.

“Saya pikir itu menunjukkan bahwa setidaknya kami mampu bersaing dalam pertandingan seperti ini,” kata Pelatih Qatar Julen Lopetegui.

Penunjukan Lopetegui–mantan pelatih Spanyol dan Real Madrid–adalah bukti investasi yang dilakukan Qatar dalam upaya mendongkrak performa timnas di kancah global. Berbeda dengan Arab Saudi, Qatar belum terlalu berani untuk menarik bintang-bintang tua dari Eropa ke liga domestiknya.

SANTA CLARA, CALIFORNIA - JUNE 13: Julen Lopetegui, Head Coach of Qatar, applauds fans after the 1-1 draw during the FIFA World Cup 2026 Group B match between Qatar and Switzerland at San Francisco Bay Area Stadium on June 13, 2026 in Santa Clara, California.   Alex Grimm/Getty Images/AFP (Photo by ALEX GRIMM / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

Juara Asia percuma

Tetapi, mereka cukup sukses membangun sepak bola mereka dengan menjadi juara Asia beruntun pada 2019 dan 2023. Capaian itu menjadi prestasi besar bagi negara dengan populasi sekitar 3,2 juta—yang mayoritas adalah ekspatriat dan pekerja migran—itu.

Namun, prestasi di level Asia itu belum mengangkat performa mereka di level Piala Dunia. Mereka tersingkir di fase grup yang menandai kekecewaan kurang dari empat tahun setelah menjadi tuan rumah turnamen itu dengan menghabiskan miliaran dolar untuk membangun delapan stadion canggih.

“Anda bandingkan dengan negara lain, pastinya kami tahu siapa kami. Pada saat yang sama, ini adalah negara kecil tetapi dengan semangat, investasi besar. Kita harus berkembang setiap hari dan mereka melakukan hal itu,” ujar Lopetegui.

“Kami pasti memandang masa depan dengan optimistis mengenai hal ini,” ucap Lopetegui kemudian. (AP)

Kekuatan finansial tidak serta merta menjadi penentu kesuksesan di Piala Dunia. Tim-tim dari negara kaya raya, seperti Arab Saudi dan Qatar, justru pulang lebih awal dari Piala Dunia 2026.

Mereka memiliki liga yang gemerlap dengan para pemain bintang dunia, meskipun sudah di pengujung karier. Akan tetapi, di level tim nasional, materi pemain merekq kurang solid. Hal itu, salah satunya, karena mereka tidak memiliki banyak pemain yang berlaga di liga-liga Eropa yang kompetitif.

Skuad Arab Saudi dan Qatar mayoritas diperkuat oleh para pemain dari liga nasional. Qatar hanya membawa satu pemain yang tampil di klub Divisi Segunda Spanyol, Cultural Leonesa, yaitu bek kiri Homam Al-Amin. Ia berstatus pemain pinjaman klub Al-Duhail.

Setali tiga uang, Arab Saudi juga hanya membawa satu pemain dari luar liga Saudi Pro, yaitu bek kanan Saud Abdulhamid yang membela klub Perancis, Lens.

Bertumpun pada pemain klub-klub dalam negeri memang bukan kesalahan. Tetapi, dengan kualitas kompetisi liga yang belum solid, mendorong para pemain tampil di liga-liga level elite dunia akan menjadi keuntungan besar. Mereka akan terbiasa dengan persaingan super-ketat level dunia dan dihadapkan pada olah strategi para pelatih papan atas, sehari-hari.

Baca JugaJerman Vs Paraguay: Kekalahan Tak Lazim Tim ”Panser”

Namun, sangat sedikit pemain dari Arab Saudi dan Qatar yang bermain di Eropa. Adsa beberapa kendala, termasuk pemantauan bakat, tetapi yang terbesar adalah gaji pemain. Di Liga Saudi Pro, gaji pemain dalam negeri sudah setara, bahkan lebih besar dari para pemain klub-klub di liga-liga besar Eropa seperti La Liga Spanyol, Serie A Italia, dan Bundesliga Jerman.

Nassr's Portuguese forward #07 Cristiano Ronaldo poses with the trophy after winning the Saudi Pro League title at the end of the football match against Damac at the Al-Awwal Park Stadium in Riyadh on May 21, 2026. (Photo by Fayez NURELDINE / AFP)

Jika pemain Arab Saudi bermain di Eropa, mereka kemungkinan akan bermain di klub kompetisi kasta kedua atau klub level menengah-bawah dengan gaji lebih kecil dari bermain di klub Saudi Pro.

Gaji besar

Berdasarkan data SalaryLeaks, pemain lokal di klub liga Saudi Pro, seperti gelandang Abdullah Al-Khaibari, gajinya mencapai 2,5 juta euro per tahun atau setara rata-rata gaji pemain di Serie A. Jika bermain di Eropa, dia harus rela mengorbankan gaji besar.

Selain masalah gaji, kliub-klub juga enggan melepas pemain bintang lokal mereka untuk melindungi pasar domestik. Mereka tetap memerlukan local hero untuk membangun ikatan dengan basis suporter.

Kondisi ini sudah berlangsung lama, tercermin dari penolakan Al-Hilal pada keinginan klub Wolverhampton Wanderers mengikat kontrak striker Sami Al-Jaber yang membawa Aran Saudi lolos ke babak 16 besar Piala Dunia 1994.

Pada 2000, Al-Jaber dipinjamkan ke Wolves dan menjadi pemain kedua dari Arab Saudi yang bermain di luar negeri. Dia membuat Pelatih Dave Jones terkesan dan berniat mengontrak permain, tetapi niat itu ditolak oleh Al-Hilal.

“Klub-klub tidak mau memberikan (pemain mereka) apa yang pantas mereka dapatkan. Tetapi, jika Arab Saudi ingin memiliki pemain bagus di masa depan, maka mereka harus membiarkan para pemain itu pergi,” ujar Al-Jaber kepada The Guardian pada 2002.

Players take the field before the World Cup Group H soccer match between Cape Verde and Saudi Arabia in Houston, Friday, June 26, 2026. (AP Photo/Eric Gay)

Kini, liga sepak bola Arab Saudi dan Qatar terus berusaha membangun industri sepak bola mereka dengan menggelontorkan uang besar untuk mendatangkan para pemain kelas dunia, terutama dari klub-klub Eropa.

Mereka berharap kedatangan para bintang senja, seperti Cristiano Ronaldo dan Karim Benzema, masing-masing di klub liga Saudi Pro Al-Nassr dan Al-Hilal, juga meningkatkan kualitas kompetisi.

“Ketika kita memiliki bintang-bintang ini di Liga Arab, saya pikir semakin ketat kompetisinya, semakin baik pemain kita. Tetapi, berbeda ketika kita bermain untuk tim nasional. Di tim nasional, selain pengalaman-pengalaman ini, dibutuhkan pula mentalitas tertentu,” ujar Pelatih Arab Saudi Georgios Donis.

Mendatangkan bintang-bintang tua—yang sukses menggeliatkan industri sepak bola—tidak bisa langsung berdampak pada kualitas permainan skuad tim nasional. Para pemain yang  mayoritas membela klub-klub dalam negeri belum mampu membuat perbedaan di panggung Piala Dunia.

Baca JugaPesta Gol dan Stadion ”Full House”, Sederet Rekor Piala Dunia 2026

Arab Saudi juga mengawali persaingan Grup H Piala Dunia 2026 dengan kejutan, yaitu menahan Uruguay 1-1. Tetapi, mereka kemudian dihajar Spanyol 0-4 dan hanya mampu bermain 0-0 melawan tim debutan dari negara kecil dengan status negara berkembang, Tanjung Verde.

Arab Saudi pun menempati dasar klasemen, tersingkir bersama Uruguay. Sedangkan Tanjung Verde melaju ke babak 32 besar menantang Argentina.

Infografik Pembagian Grup Piala Dunia 2026

Diaspora

Tanjung Verde menjadi kebalikan dari Arab Saudi yang tidak memiliki liga nasional kuat, tetapi memiliki banyak pemain diaspora yang tampil di klub-klub Eropa, meskipun banyak di kasta kedua.

Mereka tidak bergaji besar, tetapi memiliki pengalaman bertarung dengan para pemain top Eropa, terbiasa dengan dinamika taktik level tinggi, sehingga mampu bermain taktis di Piala Dunia pertama mereka.

Selain itu, Tanjung Verde disatukan oleh nasionalisme serta tekad bersama untuk mengharumkan nama bangsa.

“Ini bukan yang kami inginkan. Ketika bermain dalam pertandingan seperti itu, melawan tim yang kurang lebih setara dengan kami, performa kami tidak bagus. Jadi, ini menimbulkan kekhawatiran,” kata Donis.

Baca Juga”Karpet Terbang” untuk Suporter Qatar dan Air Mata Penggemar yang Terasing

Kiprah di Amerika Utara yang mengecewakan membuat Presiden Persaatuan Sepak Bola Arab Saudi Yasser al-Misehal pun mengundurkan diri. Dia berharap pergantian pemimpin federasi akan membawa kemajuan bagi sepak bola Arab Saudi. Akselerasi kualitas sepak bola perlu menjadi fokus Arab Saudi yang akan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2034.

“Kegagalan tim nasional untuk lolos ke babak selanjutnya di Piala Dunia adalah hasil yang jauh dari semua ambisi kita. Saya memikul tanggung jawab penuh atas hal itu dan menyampaikan permintaan maaf kepada semua orang yang berharap melihat tim kita berada di posisi yang lebih baik,” tulis Yasser al-Misehal di X pada Minggu malam.

Saudi Arabia's Mohammed Abu Alshamat (26) and Ali Lajami (3) react to a 0-0 draw against Cape Verde after the World Cup Group H soccer match in Houston, Friday, June 26, 2026. (AP Photo/David J. Phillip)

“Rasa tanggung jawab menuntut kesempatan untuk membuka babak baru dan saya telah memutuskan untuk tidak melanjutkan hingga akhir masa jabatan saya saat ini,” ungkap Al-Misehal kemudian.

Dalam sejarah Arab Saudi di Piala Dunia, mereka tujuh kali lolos ke babak utama pada 1994-2006 dan 2018-2026. Pencapaian terbaik mereka adalah lolos ke babak 16 besar pada 1994 berkat gol brilian Saeed Al-Owairan ke gawang Belgia melalui aksi solo melewati lima pemain lawan. Selain edisi itu, Arab Saudi selalu tersingkir di fase grup.

Tim kaya lainnya, Qatar, baru dua kali lolos ke babak utama Piala Dunia, yaitu saat menjadi tuan rumah pada 2022 dan saat ini, edisi 2026. Tetapi, mereka selalu tersingkir di fase grup.

Baca JugaPiala Dunia Qatar Ubah Imaji Global tentang Bangsa Arab

Pada 2026 ini, Qatar—yang bersaing di Grup B—juga pulang awal karena berada di dasar klasemen dengan satu poin dari laga imbang 1-1 melawan Swiss. Qatar kemudian dibantai Kanada 0-6 dan ditekuk oleh Bosnia dan Herzegovina 1-3.

“Saya pikir itu menunjukkan bahwa setidaknya kami mampu bersaing dalam pertandingan seperti ini,” kata Pelatih Qatar Julen Lopetegui.

Penunjukan Lopetegui–mantan pelatih Spanyol dan Real Madrid–adalah bukti investasi yang dilakukan Qatar dalam upaya mendongkrak performa timnas di kancah global. Berbeda dengan Arab Saudi, Qatar belum terlalu berani untuk menarik bintang-bintang tua dari Eropa ke liga domestiknya.

SANTA CLARA, CALIFORNIA - JUNE 13: Julen Lopetegui, Head Coach of Qatar, applauds fans after the 1-1 draw during the FIFA World Cup 2026 Group B match between Qatar and Switzerland at San Francisco Bay Area Stadium on June 13, 2026 in Santa Clara, California.   Alex Grimm/Getty Images/AFP (Photo by ALEX GRIMM / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

Juara Asia percuma

Tetapi, mereka cukup sukses membangun sepak bola mereka dengan menjadi juara Asia beruntun pada 2019 dan 2023. Capaian itu menjadi prestasi besar bagi negara dengan populasi sekitar 3,2 juta—yang mayoritas adalah ekspatriat dan pekerja migran—itu.

Namun, prestasi di level Asia itu belum mengangkat performa mereka di level Piala Dunia. Mereka tersingkir di fase grup yang menandai kekecewaan kurang dari empat tahun setelah menjadi tuan rumah turnamen itu dengan menghabiskan miliaran dolar untuk membangun delapan stadion canggih.

“Anda bandingkan dengan negara lain, pastinya kami tahu siapa kami. Pada saat yang sama, ini adalah negara kecil tetapi dengan semangat, investasi besar. Kita harus berkembang setiap hari dan mereka melakukan hal itu,” ujar Lopetegui.

“Kami pasti memandang masa depan dengan optimistis mengenai hal ini,” ucap Lopetegui kemudian. (AP)