اخبار

Pendidikan Vokasi Ganda, Kunci Sukses Swiss Menjaga Keberlanjutan Ekonomi

الكاتبabdulrahman-mustafaتاريخ النشر
Pendidikan Vokasi Ganda, Kunci Sukses Swiss Menjaga Keberlanjutan Ekonomi

BUSSNANG, SWISS – Kemajuan industri suatu negara membutuhkan sumber daya manusia berkualitas sesuai kebutuhan pelaku usaha. Untuk itu Swiss menerapkan sistem pendidikan vokasi ganda sebagai strategi mengembangkan industri berdaya saing tinggi dengan produk berkualitas.

Implementasi sistem pendidikan vokasi ganda ini pun terhubung dengan kalangan pelaku industri. Sebagai contoh, Stadler Rail, perusahaan global berbasis di Swiss yang bergerak di bidang produksi kereta, menjadi tempat magang para siswa yang mendalami teknik perkeretaapian.

Saat Kompas bersama sejumlah jurnalis media lain yang berada di bawah naungan KG Media berkunjung di kantor pusat sekaligus pabrik kereta milik Stadler Rail, di Bussnang, Swiss, pada Rabu (24/6/2026) waktu setempat, tampak sejumlah siswa praktik magang di laboratorium perusahaan itu.

Mereka mendalami teknik perkeretaapian yang mencakup pengembangan, perancangan, konstruksi, dan pemeliharaan sistem transportasi kereta api. Bidang ini menggabungkan teknik mesin, elektro, sipil, dan manajemen untuk memastikan operasional kereta yang aman, cepat, dan efisien.

Perusahaan kereta yang didirikan pada 1942 itu telah mengirimkan produknya ke lebih dari 50 negara dengan sekitar 270 pelanggan. Perusahaan itu memiliki dua lokasi produksi utama di Swiss ditambah 16 lokasi produksi secara keseluruhan dan 95 lokasi layanan atau pemeliharaan di 22 negara.

Menurut Direktur Pemasaran dan Penjualan untuk Pasar Baru Stadler Rail Management AG Stefan Rutishauser, Rabu (24/6/2026), Stadler menjalankan program magang internal di berbagai negara seperti Swiss, Jerman, Polandia, dan Amerika Serikat. Perusahaan itu mengadaptasi model secara lokal.

Sebelumnya, Duta Besar RI untuk Swiss Ngurah Swajaya menyatakan, belajar dari Swiss, Indonesia perlu mengembangkan sistem pendidikan vokasi sesuai dengan kebutuhan industri. Jadi setidaknya ada target satu lembaga pendidikan vokasi didirikan di setiap provinsi.

Namun ada keterbatasan biaya untuk mengirim siswa menjalani pendidikan vokasi di Swiss. Untuk itu Indonesia bisa mengirim karyawan untuk mengikuti pelatihan bagi calon pelatih. Nantinya staf yang terlatih dapat membagikan pengetahuannya ke karyawan lain di Indonesia.

Pemerintah Indonesia diwakili Duta Besar RI untuk Swiss Ngurah Swajaya (depan, kiri) dan Pemerintah Swiss diwakili Duta Besar Andrea Rauber Saxer , Head of Bilateral Economic Relations SECO (depan, kanan) menandatangani nota kesepahaman bersama dalam acara Industrial Day, di Basel, Swiss, pada Selasa (23/6/2026) waktu setempat.

Ketua Komite Hubungan Bilateral Swiss dan Liechtenstein Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Francis Wanandi menjelaskan keunggulan Swiss adalah negara itu selalu menciptakan produk yang nantinya bisa digunakan di belahan dunia lainnya.

Francis menyampaikan hal itu, dalam bincang santai bersama dengan Duta Besar RI untuk Swiss Ngurah Swajaya dan tim jurnalis dari sejumlah media di bawah naungan Grup Kompas Gramedia, dalam rangkaian peringatan 75 tahun hubungan diplomatik RI-Swiss, di Bern, Swiss, pada Senin (22/6/2026).

Swiss selalu berfokus pada membangun kepercayaan (trust) dan mutu produk sebagai posisi nasional, bukan pada promosi masif. Perusahaan Swiss memandang pasar dalam jangka panjang, minimal satu dekade, dan menciptakan produk untuk pasar global sejak awal.

Upaya mempertahankan reputasi internasional ini dicapai dengan dukungan sumber daya manusia yang terampil dan ahli. “Jadi mereka selalu mempersiapkan industri mereka dengan human capital (sumber daya manusia) yang sesuai kebutuhan industri. Ini membuat mereka tidak kekurangana talenta, tidak pernah kekurangan pekerjaan,” ujarnya.

Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia urusan Swiss dan Liechtenstein Francis Wanandi.

Teori dan praktik

Pendidikan vokasi terintegrasi dengan industri menghasilkan tenaga kerja siap pakai. Dalam pendidikan vokasi ganda, proporsi pendidikan 60 persen pelatihan vokasi dan 40 persen akademik atau teori. Sistem ini meninjau kurikulum berkala untuk menyesuaikan kebutuhan industri dan teknologi.

Ngurah Swajaya menjelaskan, pendidikan vokasi Swiss terstruktur yakni siswa memilih fokus lebih awal yakni setelah menempuh pendidikan menengah sehingga lulusan siap kerja. Model sistem pendidikan vokasi ganda menggabungkan teori dan praktik. Jadi praktik dilakukan di tempat kerja agar lulusan memiliki portofolio dan pengalaman minimal dua tahun.

Menurut Stefan Rutishauser, Swiss menerapkan sistem pendidikan vokasi ganda. Sekitar 60 persen dari jumlah total anak muda menjalani magang, biasanya 3-4 tahun. Sistem ini menggabungkan pelatihan di tempat kerja dengan teori sekolah. Peserta magang menerima gaji meski tak penuh seperti karyawan lain.

Pendekatan untuk lokasi baru yakni menanamkan instruktur atau manajemen lokal di depo kereta milik Stadler yang sudah ada. Mereka mengikuti pelatihan di tempat kerja selama lebih dari satu tahun. Pelatihan itu menyesuaikan silabus dengan politeknik, lalu menyebarkan instruktur ke lokasi baru.

Presentasi Stadler Rail yang akan berinvestasi di Banyuwangi bersama PT INKA

“Untuk memperbesar pusat pemeliharaan atau manufaktur regional, Stadler melatih instruktur dan manajer di depo yang ada, lalu menyebarkan staf terlatih ke depo lokal untuk menggandakan pengetahuan. Ini mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja asing seiring waktu,” tuturnya.

Dengan demikian, penekanan investasi pada keterampilan dan pelatihan, serta fasilitas, bukan hanya peralatan modal. “Hal ini butuh investasi awal yakni infrastruktur sekolah dan transfer pelatih serta koordinasi pemerintah dan industri. Pemerintah Swiss kerap mendukung program semacam ini,” ucapnya.

BUSSNANG, SWISS – Kemajuan industri suatu negara membutuhkan sumber daya manusia berkualitas sesuai kebutuhan pelaku usaha. Untuk itu Swiss menerapkan sistem pendidikan vokasi ganda sebagai strategi mengembangkan industri berdaya saing tinggi dengan produk berkualitas.

Implementasi sistem pendidikan vokasi ganda ini pun terhubung dengan kalangan pelaku industri. Sebagai contoh, Stadler Rail, perusahaan global berbasis di Swiss yang bergerak di bidang produksi kereta, menjadi tempat magang para siswa yang mendalami teknik perkeretaapian.

Saat Kompas bersama sejumlah jurnalis media lain yang berada di bawah naungan KG Media berkunjung di kantor pusat sekaligus pabrik kereta milik Stadler Rail, di Bussnang, Swiss, pada Rabu (24/6/2026) waktu setempat, tampak sejumlah siswa praktik magang di laboratorium perusahaan itu.

Baca JugaPendidikan Vokasi, Jembatan Mengisi Kebutuhan Industri

Mereka mendalami teknik perkeretaapian yang mencakup pengembangan, perancangan, konstruksi, dan pemeliharaan sistem transportasi kereta api. Bidang ini menggabungkan teknik mesin, elektro, sipil, dan manajemen untuk memastikan operasional kereta yang aman, cepat, dan efisien.

Suasana pabrik pembuatan kereta perusahaan Stadler Rail, di Bussnang, Swiss, pada Rabu (24/6/2026).

Perusahaan kereta yang didirikan pada 1942 itu telah mengirimkan produknya ke lebih dari 50 negara dengan sekitar 270 pelanggan. Perusahaan itu memiliki dua lokasi produksi utama di Swiss ditambah 16 lokasi produksi secara keseluruhan dan 95 lokasi layanan atau pemeliharaan di 22 negara.

Menurut Direktur Pemasaran dan Penjualan untuk Pasar Baru Stadler Rail Management AG Stefan Rutishauser, Rabu (24/6/2026), Stadler menjalankan program magang internal di berbagai negara seperti Swiss, Jerman, Polandia, dan Amerika Serikat. Perusahaan itu mengadaptasi model secara lokal.

Sebelumnya, Duta Besar RI untuk Swiss Ngurah Swajaya menyatakan, belajar dari Swiss, Indonesia perlu mengembangkan sistem pendidikan vokasi sesuai dengan kebutuhan industri. Jadi setidaknya ada target satu lembaga pendidikan vokasi didirikan di setiap provinsi.

Baca JugaPendidikan Vokasi Diminta Responsif dengan Keterampilan Baru

Namun ada keterbatasan biaya untuk mengirim siswa menjalani pendidikan vokasi di Swiss. Untuk itu Indonesia bisa mengirim karyawan untuk mengikuti pelatihan bagi calon pelatih. Nantinya staf yang terlatih dapat membagikan pengetahuannya ke karyawan lain di Indonesia.

Pemerintah Indonesia diwakili Duta Besar RI untuk Swiss Ngurah Swajaya (depan, kiri) dan Pemerintah Swiss diwakili Duta Besar Andrea Rauber Saxer , Head of Bilateral Economic Relations SECO (depan, kanan) menandatangani nota kesepahaman bersama dalam acara Industrial Day, di Basel, Swiss, pada Selasa (23/6/2026) waktu setempat.

Ketua Komite Hubungan Bilateral Swiss dan Liechtenstein Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Francis Wanandi menjelaskan keunggulan Swiss adalah negara itu selalu menciptakan produk yang nantinya bisa digunakan di belahan dunia lainnya.

Francis menyampaikan hal itu, dalam bincang santai bersama dengan Duta Besar RI untuk Swiss Ngurah Swajaya dan tim jurnalis dari sejumlah media di bawah naungan Grup Kompas Gramedia, dalam rangkaian peringatan 75 tahun hubungan diplomatik RI-Swiss, di Bern, Swiss, pada Senin (22/6/2026).

Baca JugaPendidikan Vokasi dan Keselarasan Keterampilan Pekerjaan Masa Depan

Swiss selalu berfokus pada membangun kepercayaan (trust) dan mutu produk sebagai posisi nasional, bukan pada promosi masif. Perusahaan Swiss memandang pasar dalam jangka panjang, minimal satu dekade, dan menciptakan produk untuk pasar global sejak awal.

Upaya mempertahankan reputasi internasional ini dicapai dengan dukungan sumber daya manusia yang terampil dan ahli. “Jadi mereka selalu mempersiapkan industri mereka dengan human capital (sumber daya manusia) yang sesuai kebutuhan industri. Ini membuat mereka tidak kekurangana talenta, tidak pernah kekurangan pekerjaan,” ujarnya.

Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia urusan Swiss dan Liechtenstein Francis Wanandi.

Teori dan praktik

Pendidikan vokasi terintegrasi dengan industri menghasilkan tenaga kerja siap pakai. Dalam pendidikan vokasi ganda, proporsi pendidikan 60 persen pelatihan vokasi dan 40 persen akademik atau teori. Sistem ini meninjau kurikulum berkala untuk menyesuaikan kebutuhan industri dan teknologi.

Ngurah Swajaya menjelaskan, pendidikan vokasi Swiss terstruktur yakni siswa memilih fokus lebih awal yakni setelah menempuh pendidikan menengah sehingga lulusan siap kerja. Model sistem pendidikan vokasi ganda menggabungkan teori dan praktik. Jadi praktik dilakukan di tempat kerja agar lulusan memiliki portofolio dan pengalaman minimal dua tahun.

Menurut Stefan Rutishauser, Swiss menerapkan sistem pendidikan vokasi ganda. Sekitar 60 persen dari jumlah total anak muda menjalani magang, biasanya 3-4 tahun. Sistem ini menggabungkan pelatihan di tempat kerja dengan teori sekolah. Peserta magang menerima gaji meski tak penuh seperti karyawan lain.

Pendekatan untuk lokasi baru yakni menanamkan instruktur atau manajemen lokal di depo kereta milik Stadler yang sudah ada. Mereka mengikuti pelatihan di tempat kerja selama lebih dari satu tahun. Pelatihan itu menyesuaikan silabus dengan politeknik, lalu menyebarkan instruktur ke lokasi baru.

Presentasi Stadler Rail yang akan berinvestasi di Banyuwangi bersama PT INKA

“Untuk memperbesar pusat pemeliharaan atau manufaktur regional, Stadler melatih instruktur dan manajer di depo yang ada, lalu menyebarkan staf terlatih ke depo lokal untuk menggandakan pengetahuan. Ini mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja asing seiring waktu,” tuturnya.

Dengan demikian, penekanan investasi pada keterampilan dan pelatihan, serta fasilitas, bukan hanya peralatan modal. “Hal ini butuh investasi awal yakni infrastruktur sekolah dan transfer pelatih serta koordinasi pemerintah dan industri. Pemerintah Swiss kerap mendukung program semacam ini,” ucapnya.