Kekalahan Jerman dengan skor 1-2 dari Ekuador pada laga pamungkas Grup E Piala Dunia 2026 memang tidak lagi memengaruhi posisi ”Die Mannschaft” yang sudah memastikan diri menjadi juara grup. Akan tetapi, hasil negatif itu bisa merugikan tim dalam hal lain, seperti keharmonisan tim, konsistensi, rasa percaya diri, atau bahkan sekadar suasana tim yang positif.
Persiapan Jerman menghadapi laga 32 besar pun menjadi semakin tidak ideal. Setelah sebelumnya mengeluhkan soal mepetnya persiapan karena belum jelasnya lawan yang harus dihadapi hingga kurang dari 48 jam sebelum kick off, kekalahan dari Ekuador memaksa Pelatih Julian Nagelsmann berpikir ulang mengenai taktiknya.
Pada pertandingan melawan Ekuador, Jerman melakukan “bunuh diri taktik” fatal yang menyebabkan mereka tidak bisa mempertahankan keunggulan di awal laga. Jerman unggul cepat melalui gol yang dicetak oleh Leroy Sane saat laga baru berlangsung selama dua menit.
Gol tercipta setelah Florian Wirtz memberikan umpan matang yang berhasil diselesaikan dengan sempurna oleh Sane. Pemain Ekuador memprotes gol ini karena mereka merasa Aleksandar Pavlovic melakukan pelanggaran terlebih dahulu dengan mengangkat kaki terlalu tinggi saat berebut bola dengan Pedro Vite, tetapi wasit membiarkannya.
Akan tetapi, setelah gol tersebut, para pemain Jerman justru kehilangan kendali permainan sehingga Ekuador akhirnya mampu membalikkan keadaan. Hanya tujuh menit setelah gol itu, Ekuador merespons dengan gol penyama kedudukan dari Nilson Angulo.
Gol pertama Ekuador pada Piala Dunia 2026 itu tercipta setelah tendangan keras Angulo dari luar kotak penalti terlambat diantisipasi kiper Manuel Neuer.
Gol kemenangan Ekuador datang pada menit ke-77 lewat tendangan Gonzalo Plata. Gol ini tercipta dari skema sepak pojok. Bola sepak pojok itu disundul oleh Kevin Rodriguez ke arah Plata di depan gawang yang kemudian menendang bola mendahului jangkauan kiper Neuer.
“Kami mengawali laga dengan luar biasa. Sayangnya, begitu mencetak gol, kami melakukan bunuh diri taktik dengan penempatan posisi kami. Itu membuat semuanya menjadi sulit,” kata Nagelsmann mengomentari permainan timnya.
“Bunuh diri taktik” Jerman itu dilakukan para pemain Jerman dengan bermain tak disiplin menempati posisi masing-masing. Setelah unggul, para pemain terlalu cair menerjemahkan kebebasan mereka di lapangan dengan sering kali berganti posisi. Hal itu terutama dilakukan para pemain gelandang, seperti Pavlovic, Felix Nmecha, Jamal Musiala, dan Florian Wirtz.
Bak ”freestyle”
Nagelsmann pun mengkritik para pemainnya seperti sedang melakukan freestyle. “Kami harus belajar bahwa setelah unggul cepat dan awal yang bagus, kami bisa bermain lebih tenang, alih-alih berganti terlalu sering berganti posisi. Terlalu banyak ‘freestyle’. Kami hanya harus lebih sabar dan mempertahankan struktur. Ditambah terlalu banyak kehilangan bola, semuanya menjadi sangat sulit,” ujar Nagelsmann.

Permainan lawan Ekuador itu jauh dari karakter Jerman yang biasanya sangat ketat dengan kedisiplinan organisasi permainan. Para pemain mempertahankan formasi taktik secara konsisten, baik saat menyerang maupun bertahan.
Meskipun demikian, Nagelsmann tetap yakin dengan peluang mereka menghadapi babak 32 besar. Mereka telah siap, walaupun hingga saat ini Jerman belum mengetahui siapa lawan yang akan mereka hadapi. Sebagai juara Grup E, Jerman dijadwalkan untuk menghadapi salah satu tim peringkat ketiga pada laga babak 32 besar yang akan berlangsung di Boston, Senin (29/6/2026).
“Kami harus belajar dari kekalahan itu, melakukan perbaikan, tetapi kami juga telah siap. Senin nanti, sangat penting kami bisa mengawali laga dengan baik,” kata Nagelsmann.
Ia menolak memastikan seperti apa line up pada babak 32 besar nanti setelah apa yang dilakukan para pemainnya saat laga lawan Ekuador. “Itu adalah masalah pelatih. Kita harus melihat dulu seperti apa sesi latihan Minggu, baru membuat keputusan. Kita lihat siapa yang akan bermain nanti,” ujarnya.
Dugaan perpecahan
Kekalahan dari Ekuador juga mengungkap dinamika ruang ganti tim Jerman. Bahkan, diduga ada perpecahan setelah Nagelsmann membantah pernyataan dua pemainnya sendiri dalam jumpa pers.
Kapten Jerman, Joshua Kimmich, dan striker Deniz Undav menyebut kekalahan dari Ekuador adalah karena para pemain lawan lebih menginginkan kemenangan. Hal itu langsung disanggah oleh Nagelsmann yang menyebutnya sebagai omong kosong.

Nagelsmann menekankan kekalahan itu lebih karena soal taktik dibandingkan dengan tekad pemain untuk meraih kemenangan. Alasan para pemain ada benarnya karena mereka sebenarnya tidak perlu ngotot memetik hasil maksimal dengan risiko cedera karena apa pun hasilnya sudah tidak menentukan lagi.
Saat dimintai tanggapannya soal pernyataan para pemainnya itu dalam jumpa pers, Nagelsmann membantahnya. “Tidak, tolong hentikan omong kosong itu, sejujurnya,” tandasnya.
Sementara Ekuador juga sudah siap untuk menghadapi laga 32 besar. Lawan mereka juga belum pasti, tetapi kemungkinan besar adalah Meksiko.
Kemenangan atas Jerman adalah salah satu pencapaian terbaik Ekuador. Edisi tahun ini adalah penampilan kelima mereka di Piala Dunia setelah pertama kali lolos pada 2002 dan baru sekali lolos dari babak penyisihan grup.
Pelatih Ekuador Sebastian Beccacece mengatakan mereka akan bekerja keras dan terus percaya diri selama masih ada peluang. “Saya katakan untuk tetap bersatu dan menemukan jalan yang akan membawa kita ke hal-hal yang sangat besar. Itulah yang kami lakukan hari ini, menang melawan tim raksasa. Selama masih punya peluang, kami harus mencari cahaya itu, harus percaya,” katanya.
Kekalahan Jerman dengan skor 1-2 dari Ekuador pada laga pamungkas Grup E Piala Dunia 2026 memang tidak lagi memengaruhi posisi ”Die Mannschaft” yang sudah memastikan diri menjadi juara grup. Akan tetapi, hasil negatif itu bisa merugikan tim dalam hal lain, seperti keharmonisan tim, konsistensi, rasa percaya diri, atau bahkan sekadar suasana tim yang positif.
Persiapan Jerman menghadapi laga 32 besar pun menjadi semakin tidak ideal. Setelah sebelumnya mengeluhkan soal mepetnya persiapan karena belum jelasnya lawan yang harus dihadapi hingga kurang dari 48 jam sebelum kick off, kekalahan dari Ekuador memaksa Pelatih Julian Nagelsmann berpikir ulang mengenai taktiknya.
Pada pertandingan melawan Ekuador, Jerman melakukan “bunuh diri taktik” fatal yang menyebabkan mereka tidak bisa mempertahankan keunggulan di awal laga. Jerman unggul cepat melalui gol yang dicetak oleh Leroy Sane saat laga baru berlangsung selama dua menit.
Baca Juga”Plot Twist” Grup E, Ekuador Ciptakan Keajaiban di MetLife
Gol tercipta setelah Florian Wirtz memberikan umpan matang yang berhasil diselesaikan dengan sempurna oleh Sane. Pemain Ekuador memprotes gol ini karena mereka merasa Aleksandar Pavlovic melakukan pelanggaran terlebih dahulu dengan mengangkat kaki terlalu tinggi saat berebut bola dengan Pedro Vite, tetapi wasit membiarkannya.
Akan tetapi, setelah gol tersebut, para pemain Jerman justru kehilangan kendali permainan sehingga Ekuador akhirnya mampu membalikkan keadaan. Hanya tujuh menit setelah gol itu, Ekuador merespons dengan gol penyama kedudukan dari Nilson Angulo.

Gol pertama Ekuador pada Piala Dunia 2026 itu tercipta setelah tendangan keras Angulo dari luar kotak penalti terlambat diantisipasi kiper Manuel Neuer.
Gol kemenangan Ekuador datang pada menit ke-77 lewat tendangan Gonzalo Plata. Gol ini tercipta dari skema sepak pojok. Bola sepak pojok itu disundul oleh Kevin Rodriguez ke arah Plata di depan gawang yang kemudian menendang bola mendahului jangkauan kiper Neuer.
“Kami mengawali laga dengan luar biasa. Sayangnya, begitu mencetak gol, kami melakukan bunuh diri taktik dengan penempatan posisi kami. Itu membuat semuanya menjadi sulit,” kata Nagelsmann mengomentari permainan timnya.
Baca JugaDar-der-dor Ekuador, dari Cemoohan Jadi Pujian
“Bunuh diri taktik” Jerman itu dilakukan para pemain Jerman dengan bermain tak disiplin menempati posisi masing-masing. Setelah unggul, para pemain terlalu cair menerjemahkan kebebasan mereka di lapangan dengan sering kali berganti posisi. Hal itu terutama dilakukan para pemain gelandang, seperti Pavlovic, Felix Nmecha, Jamal Musiala, dan Florian Wirtz.
Bak ”freestyle”
Nagelsmann pun mengkritik para pemainnya seperti sedang melakukan freestyle. “Kami harus belajar bahwa setelah unggul cepat dan awal yang bagus, kami bisa bermain lebih tenang, alih-alih berganti terlalu sering berganti posisi. Terlalu banyak ‘freestyle’. Kami hanya harus lebih sabar dan mempertahankan struktur. Ditambah terlalu banyak kehilangan bola, semuanya menjadi sangat sulit,” ujar Nagelsmann.

Permainan lawan Ekuador itu jauh dari karakter Jerman yang biasanya sangat ketat dengan kedisiplinan organisasi permainan. Para pemain mempertahankan formasi taktik secara konsisten, baik saat menyerang maupun bertahan.
Meskipun demikian, Nagelsmann tetap yakin dengan peluang mereka menghadapi babak 32 besar. Mereka telah siap, walaupun hingga saat ini Jerman belum mengetahui siapa lawan yang akan mereka hadapi. Sebagai juara Grup E, Jerman dijadwalkan untuk menghadapi salah satu tim peringkat ketiga pada laga babak 32 besar yang akan berlangsung di Boston, Senin (29/6/2026).
“Kami harus belajar dari kekalahan itu, melakukan perbaikan, tetapi kami juga telah siap. Senin nanti, sangat penting kami bisa mengawali laga dengan baik,” kata Nagelsmann.
Baca JugaNagelsmann: Jerman seperti Dihukum akibat Jadi Juara Grup
Ia menolak memastikan seperti apa line up pada babak 32 besar nanti setelah apa yang dilakukan para pemainnya saat laga lawan Ekuador. “Itu adalah masalah pelatih. Kita harus melihat dulu seperti apa sesi latihan Minggu, baru membuat keputusan. Kita lihat siapa yang akan bermain nanti,” ujarnya.
Dugaan perpecahan
Kekalahan dari Ekuador juga mengungkap dinamika ruang ganti tim Jerman. Bahkan, diduga ada perpecahan setelah Nagelsmann membantah pernyataan dua pemainnya sendiri dalam jumpa pers.
Kapten Jerman, Joshua Kimmich, dan striker Deniz Undav menyebut kekalahan dari Ekuador adalah karena para pemain lawan lebih menginginkan kemenangan. Hal itu langsung disanggah oleh Nagelsmann yang menyebutnya sebagai omong kosong.

Nagelsmann menekankan kekalahan itu lebih karena soal taktik dibandingkan dengan tekad pemain untuk meraih kemenangan. Alasan para pemain ada benarnya karena mereka sebenarnya tidak perlu ngotot memetik hasil maksimal dengan risiko cedera karena apa pun hasilnya sudah tidak menentukan lagi.
Saat dimintai tanggapannya soal pernyataan para pemainnya itu dalam jumpa pers, Nagelsmann membantahnya. “Tidak, tolong hentikan omong kosong itu, sejujurnya,” tandasnya.
Sementara Ekuador juga sudah siap untuk menghadapi laga 32 besar. Lawan mereka juga belum pasti, tetapi kemungkinan besar adalah Meksiko.
Baca JugaNama Tidak Terduga Mengambil Panggung Dunia: Brobbey, Undav, Room hingga Ueda
Kemenangan atas Jerman adalah salah satu pencapaian terbaik Ekuador. Edisi tahun ini adalah penampilan kelima mereka di Piala Dunia setelah pertama kali lolos pada 2002 dan baru sekali lolos dari babak penyisihan grup.
Pelatih Ekuador Sebastian Beccacece mengatakan mereka akan bekerja keras dan terus percaya diri selama masih ada peluang. “Saya katakan untuk tetap bersatu dan menemukan jalan yang akan membawa kita ke hal-hal yang sangat besar. Itulah yang kami lakukan hari ini, menang melawan tim raksasa. Selama masih punya peluang, kami harus mencari cahaya itu, harus percaya,” katanya.