Perspektif masyarakat urban terhadap kesehatan tak lagi bersifat satu dimensi. Tumbuh pemahaman bahwa kesehatan dan estetika (kecantikan) mestinya berjalan beriringan. Definisi cantik tidak lagi kurus dan berkulit cerah, tetapi juga sehat dan kuat. Kesehatan holistik pun diupayakan, antara lain di aspek kesehatan kulit, gizi, hingga fungsi reproduksi.
Menurut dokter spesialis dermatologi, venereologi, dan estetika dari jaringan layanan kesehatan Bamed, Adhimukti T Sampurna, ada pergeseran perspektif publik yang cukup signifikan terhadap kesehatan. Dulu ada garis tegas yang memisahkan kesehatan dan estetika. Kini garis itu kabur. Publik menyadari bahwa kesehatan dan estetika sama-sama penting untuk mencapai kualitas hidup yang baik.
”Kesehatan dan estetika bukan dua hal yang terpisah. Estetika yang baik berawal dari tubuh yang sehat. Sebaliknya, kesehatan optimal kerap tecermin dari penampilan dan kualitas hidup yang baik,” kata Adhimukti yang juga Chief Medical and Ancillary Services Officer Bamed di Jakarta, Kamis (18/6/2026).
Ia mencontohkan bahwa pasien tak lagi datang hanya untuk menurunkan berat badan. Mereka ingin lebih. Selain berat badan turun, mereka ingin hidup lebih sehat, aktif, percaya diri, punya tubuh proporsional, dan ingin mempertahankan hasil baik di tubuh untuk jangka waktu panjang.
Hal ini diduga berkaitan dengan standar kecantikan yang berkembang di era modern. Daya tarik individu tak lagi bertumpu pada paras saja. Saat ini seseorang dianggap menarik bila ia aktif dan bugar. Poin plus bila orang itu juga rapi, bersih, modis, ramah, baik hati, dan cerdas.
Di sebagian orang, muncul pula pemahaman bahwa tubuh yang terawat adalah modal utama tampil menarik. Pakaian modis hanya pelengkap. Ibaratnya, the body ”is” the outfit.
Warga urban pun dengan sadar mengejar gaya hidup sehat. Mereka menyeimbangkan upaya itu dengan berolahraga serta berkonsultasi ke ahli kesehatan dan kecantikan.
”Pernah ada pasien yang minta jadwal konsultasi malam. Ini karena pasien mau main padel dulu di pagi hari,” ucap Adhimukti.
Menurut Chief Business Marketing and Customer Management Office Bamed, Ratu Abigail Audity, minat publik untuk merawat kecantikan sekaligus kesehatan tubuh sangat besar. Ini dipengaruhi maraknya edukasi perawatan tubuh secara holistik.
”Masyarakat sekarang lebih pintar. Mereka paham bahwa tidak cuma harus cantik, tetapi massa ototnya juga diperhatikan sehingga enggak sekadar kurus. Mereka juga memperhatikan nutrisi sampai (kesehatan) kulit. Saat olahraga outdoor, misalnya, mereka memperhatikan agar kulitnya tidak gelap,” tutur Ratu.
Kesadaran untuk merawat kecantikan sejak dini juga tumbuh. Pasien tidak lagi menunggu hingga usia tertentu untuk mulai merawat diri. Adapun menurut catatan Bamed, rata-rata usia pasien mereka adalah 25-50 tahun.
Salah satu pasien berusia 21 tahun. Tingginya paparan sinar ultraviolet membuat kulitnya mengalami penuaan dini. Ia melakukan perawatan untuk mengatasi hal itu, termasuk suntik botulinum toksin (botoks).
”Sekarang bukan eranya anti-aging, melainkan healthy aging,” kata Ratu.

Manajemen berat badan
Salah satu fokus para pasien saat ini adalah mengelola berat badan ideal. Ini penting karena kelebihan berat badan bisa berpengaruh ke kesehatan fisik, metabolisme, kondisi hormon, hingga kondisi psikologis. Hal ini berkaitan pula dengan estetika tubuh.
Ada 36,8 persen masyarakat Indonesia yang mengalami obesitas berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023. Masalahnya, mengatasi obesitas itu kompleks. Adapun obesitas adalah penyakit kronis tidak menular yang ditandai dengan timbunan lemak berlebihan.
”Obesitas bukan soal makan banyak dan kurang gerak,” ucap dokter spesialis gizi klinis Maryam. ”Pada terapi obesitas, yang paling penting adalah intervensi perilaku.”
Maryam menekankan, program manajemen berat badan antarindividu tidak bisa disamakan. Ini karena kondisi tubuh setiap orang berbeda. Program mesti bertumpu ke tiga prinsip, yaitu personal, terukur, dan berkelanjutan.

Orang dengan obesitas akan dianjurkan untuk menerapkan pola hidup sehat baik. Mencukupi kebutuhan gizi sangat dianjurkan karena konsumsi makanan berperan 70-80 persen ke keberhasilan terapi. Aspek penting lain dalam terapi, antara lain, adalah aktivitas fisik, manajemen stres, dan istirahat cukup. Pada beberapa kasus, terapi melibatkan obat dan bedah.
Kondisi ini membuka peluang inovasi untuk mengatasi obesitas. Saat ini ada terapi pembentukan kontur tubuh, misalnya dengan bedah sedot lemak atau liposuction. Ada pula terapi nonbedah High Intensity Focused Electromagnetic atau HIFEM+ untuk menstimulasi pembentukan otot. Ada lagi terapi Radiofrequency (RF) untuk mengurangi lemak.
Bamed kini menyediakan gabungan dua terapi tersebut, yakni Emsculpt Neo. Terapi ini paling efektif untuk orang dengan berat badan normal atau indeks massa tubuh 35 kg/m², atau pasien yang tidak sempat beraktivitas fisik.
Kesehatan reproduksi
Terapi inovatif juga muncul untuk mengatasi isu kesehatan reproduksi. Salah satu terapi itu ialah peremajaan area intim berbasis medis. Terapi ini memanfaatkan energi termal untuk merangsang regenerasi jaringan, meningkatkan produksi kolagen, serta mendukung elastisitas dan kelembaban area intim.
Adapun salah satu isu yang dialami publik adalah disfungsi dasar panggul (pelvic floor dysfunction/PFD). Kondisi ini diduga dialami jutaan perempuan secara global, tetapi banyak kasus tak terdeteksi. Di Indonesia, PFD kerap disebut masyarakat sebagai ”turun berok”.
PFD adalah kondisi ketika otot dasar panggul melemah. Otot tersebut ada di bawah rongga panggul dan berfungsi untuk menyangga organ-organ vital, yakni rahim, kandung kemih, dan usus.

PFD umumnya dialami perempuan. Ada sejumlah faktor penyebab PFD, antara lain kehamilan, persalinan pervaginam, obesitas, penurunan kadar estrogen, dan peningkatan tekanan di abdomen (misalnya dari mengangkat beban berat).
”Karena banyaknya aktivitas yang dilakukan, otot ini bisa menjadi seperti hammock dan jatuh jika tidak dilatih. Otot akan sulit menopang organ-organ. Akibatnya, individu jadi sulit menahan urine saat tertawa, sulit mengontrol buang air, hingga mengalami gangguan fungsi seksual,” kata dokter spesialis obstetri dan ginekologi Ni Komang Yeni Dhana Sari.
Dampak PFD sebetulnya luas. Akibat sulit menahan urine, misalnya, orang akan menahan diri untuk bersosialisasi dan beraktivitas fisik. Hal ini juga kerap membuat seseorang tidak percaya diri.
Lebih jauh, PFD dapat membuat individu sulit orgasme, berpotensi mengganggu aktivitas seksual, dan memengaruhi kesejahteraan pasangan. Yeni mengatakan, PFD bisa berbuntut ke perceraian di usia senja atau grey divorce.
Memang, jika ingin tampil prima, kesehatan dalam tubuh pun mesti paripurna juga. Semoga kesadaran akan kesehatan holistik menetap dan tidak jadi kesadaran sesaat.
Perspektif masyarakat urban terhadap kesehatan tak lagi bersifat satu dimensi. Tumbuh pemahaman bahwa kesehatan dan estetika (kecantikan) mestinya berjalan beriringan. Definisi cantik tidak lagi kurus dan berkulit cerah, tetapi juga sehat dan kuat. Kesehatan holistik pun diupayakan, antara lain di aspek kesehatan kulit, gizi, hingga fungsi reproduksi.
Menurut dokter spesialis dermatologi, venereologi, dan estetika dari jaringan layanan kesehatan Bamed, Adhimukti T Sampurna, ada pergeseran perspektif publik yang cukup signifikan terhadap kesehatan. Dulu ada garis tegas yang memisahkan kesehatan dan estetika. Kini garis itu kabur. Publik menyadari bahwa kesehatan dan estetika sama-sama penting untuk mencapai kualitas hidup yang baik.
”Kesehatan dan estetika bukan dua hal yang terpisah. Estetika yang baik berawal dari tubuh yang sehat. Sebaliknya, kesehatan optimal kerap tecermin dari penampilan dan kualitas hidup yang baik,” kata Adhimukti yang juga Chief Medical and Ancillary Services Officer Bamed di Jakarta, Kamis (18/6/2026).
Ia mencontohkan bahwa pasien tak lagi datang hanya untuk menurunkan berat badan. Mereka ingin lebih. Selain berat badan turun, mereka ingin hidup lebih sehat, aktif, percaya diri, punya tubuh proporsional, dan ingin mempertahankan hasil baik di tubuh untuk jangka waktu panjang.

Hal ini diduga berkaitan dengan standar kecantikan yang berkembang di era modern. Daya tarik individu tak lagi bertumpu pada paras saja. Saat ini seseorang dianggap menarik bila ia aktif dan bugar. Poin plus bila orang itu juga rapi, bersih, modis, ramah, baik hati, dan cerdas.
Di sebagian orang, muncul pula pemahaman bahwa tubuh yang terawat adalah modal utama tampil menarik. Pakaian modis hanya pelengkap. Ibaratnya, the body ”is” the outfit.
Warga urban pun dengan sadar mengejar gaya hidup sehat. Mereka menyeimbangkan upaya itu dengan berolahraga serta berkonsultasi ke ahli kesehatan dan kecantikan.
”Pernah ada pasien yang minta jadwal konsultasi malam. Ini karena pasien mau main padel dulu di pagi hari,” ucap Adhimukti.
Baca JugaRupawan Berkesadaran
Menurut Chief Business Marketing and Customer Management Office Bamed, Ratu Abigail Audity, minat publik untuk merawat kecantikan sekaligus kesehatan tubuh sangat besar. Ini dipengaruhi maraknya edukasi perawatan tubuh secara holistik.
”Masyarakat sekarang lebih pintar. Mereka paham bahwa tidak cuma harus cantik, tetapi massa ototnya juga diperhatikan sehingga enggak sekadar kurus. Mereka juga memperhatikan nutrisi sampai (kesehatan) kulit. Saat olahraga outdoor, misalnya, mereka memperhatikan agar kulitnya tidak gelap,” tutur Ratu.
Kesadaran untuk merawat kecantikan sejak dini juga tumbuh. Pasien tidak lagi menunggu hingga usia tertentu untuk mulai merawat diri. Adapun menurut catatan Bamed, rata-rata usia pasien mereka adalah 25-50 tahun.
Salah satu pasien berusia 21 tahun. Tingginya paparan sinar ultraviolet membuat kulitnya mengalami penuaan dini. Ia melakukan perawatan untuk mengatasi hal itu, termasuk suntik botulinum toksin (botoks).
”Sekarang bukan eranya anti-aging, melainkan healthy aging,” kata Ratu.

Manajemen berat badan
Salah satu fokus para pasien saat ini adalah mengelola berat badan ideal. Ini penting karena kelebihan berat badan bisa berpengaruh ke kesehatan fisik, metabolisme, kondisi hormon, hingga kondisi psikologis. Hal ini berkaitan pula dengan estetika tubuh.
Ada 36,8 persen masyarakat Indonesia yang mengalami obesitas berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023. Masalahnya, mengatasi obesitas itu kompleks. Adapun obesitas adalah penyakit kronis tidak menular yang ditandai dengan timbunan lemak berlebihan.
”Obesitas bukan soal makan banyak dan kurang gerak,” ucap dokter spesialis gizi klinis Maryam. ”Pada terapi obesitas, yang paling penting adalah intervensi perilaku.”
Maryam menekankan, program manajemen berat badan antarindividu tidak bisa disamakan. Ini karena kondisi tubuh setiap orang berbeda. Program mesti bertumpu ke tiga prinsip, yaitu personal, terukur, dan berkelanjutan.

Orang dengan obesitas akan dianjurkan untuk menerapkan pola hidup sehat baik. Mencukupi kebutuhan gizi sangat dianjurkan karena konsumsi makanan berperan 70-80 persen ke keberhasilan terapi. Aspek penting lain dalam terapi, antara lain, adalah aktivitas fisik, manajemen stres, dan istirahat cukup. Pada beberapa kasus, terapi melibatkan obat dan bedah.
Kondisi ini membuka peluang inovasi untuk mengatasi obesitas. Saat ini ada terapi pembentukan kontur tubuh, misalnya dengan bedah sedot lemak atau liposuction. Ada pula terapi nonbedah High Intensity Focused Electromagnetic atau HIFEM+ untuk menstimulasi pembentukan otot. Ada lagi terapi Radiofrequency (RF) untuk mengurangi lemak.
Bamed kini menyediakan gabungan dua terapi tersebut, yakni Emsculpt Neo. Terapi ini paling efektif untuk orang dengan berat badan normal atau indeks massa tubuh 35 kg/m², atau pasien yang tidak sempat beraktivitas fisik.
Baca JugaObesitas karena Kurang Gerak atau Pola Makan yang Salah?
Kesehatan reproduksi
Terapi inovatif juga muncul untuk mengatasi isu kesehatan reproduksi. Salah satu terapi itu ialah peremajaan area intim berbasis medis. Terapi ini memanfaatkan energi termal untuk merangsang regenerasi jaringan, meningkatkan produksi kolagen, serta mendukung elastisitas dan kelembaban area intim.
Adapun salah satu isu yang dialami publik adalah disfungsi dasar panggul (pelvic floor dysfunction/PFD). Kondisi ini diduga dialami jutaan perempuan secara global, tetapi banyak kasus tak terdeteksi. Di Indonesia, PFD kerap disebut masyarakat sebagai ”turun berok”.
PFD adalah kondisi ketika otot dasar panggul melemah. Otot tersebut ada di bawah rongga panggul dan berfungsi untuk menyangga organ-organ vital, yakni rahim, kandung kemih, dan usus.

PFD umumnya dialami perempuan. Ada sejumlah faktor penyebab PFD, antara lain kehamilan, persalinan pervaginam, obesitas, penurunan kadar estrogen, dan peningkatan tekanan di abdomen (misalnya dari mengangkat beban berat).
”Karena banyaknya aktivitas yang dilakukan, otot ini bisa menjadi seperti hammock dan jatuh jika tidak dilatih. Otot akan sulit menopang organ-organ. Akibatnya, individu jadi sulit menahan urine saat tertawa, sulit mengontrol buang air, hingga mengalami gangguan fungsi seksual,” kata dokter spesialis obstetri dan ginekologi Ni Komang Yeni Dhana Sari.
Dampak PFD sebetulnya luas. Akibat sulit menahan urine, misalnya, orang akan menahan diri untuk bersosialisasi dan beraktivitas fisik. Hal ini juga kerap membuat seseorang tidak percaya diri.
Lebih jauh, PFD dapat membuat individu sulit orgasme, berpotensi mengganggu aktivitas seksual, dan memengaruhi kesejahteraan pasangan. Yeni mengatakan, PFD bisa berbuntut ke perceraian di usia senja atau grey divorce.
Memang, jika ingin tampil prima, kesehatan dalam tubuh pun mesti paripurna juga. Semoga kesadaran akan kesehatan holistik menetap dan tidak jadi kesadaran sesaat.