Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?
Berapa jumlah calon manajer Koperasi Merah Putih yang meninggal saat mengikuti latihan dasar kemiliteran? Apa penyebab meninggalnya keempat calon manajer versi pemerintah atau penyelenggara latsarmil? Bagaimana sebenarnya latsarmil untuk para calon manajer koperasi itu? Mengapa pelatihan militer bagi calon manajer koperasi ini dikritik oleh masyarakat sipil? Bagaimana penilaian DPR terhadap latsarmil bagi para calon manajer koperasi, apalagi sampai ada korban jiwa?
Berapa jumlah calon manajer Koperasi Merah Putih yang meninggal saat mengikuti latsarmil?
Sudah empat calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih yang meninggal saat mengikuti latihan dasar kemiliteran (latsarmil).
Calon manajer terbaru yang meninggal bernama Muhammad Rifki Renaldi Gunawan. Ia tengah mengikuti latihan dasar kemiliteran (latsarmil), bagian dari program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) di Satuan Pendidikan Batalyon Komando 465 Pasgat (Yon Parako 465), Jakarta Timur.
Korban lainnya, Novia Rahmadhani Sihotang, saat mengikuti pelatihan di Satuan Pendidikan Pusat Bahasa Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan, dan Latihan TNI Angkatan Udara di Jakarta, 23 Juni 2026. Kemudian, Anisa Muyassaroh saat mengikuti pendidikan di Satuan Pendidikan Dodikjur Rindam VI/Mulawarman Balikpapan. Selanjutnya, Yonanda Muhammad Taufiq yang meninggal ketika mengikuti pendidikan di Satuan Pendidikan Pusat Latihan dan Tempur Kodiklatad Baturaja.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi saat diwawancarai di Gedung DPR, Jakarta, Jumat (26/6/2026), menyampaikan komitmen pemerintah untuk mengevaluasi prosedur latsarmil agar kejadian serupa tak terulang. Meski demikian, sejauh ini, belum ditemukan adanya indikasi kelalaian ataupun kesalahan prosedur dari penyelenggara latsarmil. Latsarmil bagi para calon manajer juga dinilainya tidak berat.
Apa penyebab meninggalnya keempat calon manajer versi pemerintah atau penyelenggara latsarmil?
Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan Rico Ricardo Sirait menyatakan, Rifki meninggal pada Jumat (26/6/2026) pukul 00.28 WIB. Sehari sebelumnya, Rifki mengeluh sesak napas dan segera mendapatkan penanganan awal dari tim kesehatan satuan.
”Setelah kondisi kesehatannya berangsur membaik, yang bersangkutan sempat kembali mengikuti aktivitas. Namun, pada sore hari, kondisi kesehatannya kembali menurun sehingga segera dirujuk ke RSAU dr Esnawan Antariksa,” ujarnya.
Adapun Kodam VI/Mulawarman menyatakan Anisa Muyassaroh meninggal dunia akibat serangan panas berat atau heat stroke. ”Dari hasil pemeriksaan medis, almarhumah mengalami heat stroke atau serangan panas berat yang mengakibatkan gangguan serius pada fungsi organ tubuh. Kondisi tersebut kemudian menimbulkan komplikasi hingga akhirnya tidak tertolong,” ujar Kepala Penerangan Kodam VI/Mulawarman Kolonel (Inf) Gatot Teguh Waluyo.
Sementara itu, Novia Rahmadhani Sihotang, yang meninggal pada 23 Juni 2026, kondisi kesehatannya memburuk karena berkaitan dengan penyakit tuberkulosis yang dideritanya. Yonanda Muhammad Taufiq mengalami penurunan kondisi kesehatan pada 17 Juni dan dinyatakan meninggal akibat cardiac arrest (henti jantung).
Bagaimana sebenarnya latsarmil untuk para calon manajer koperasi itu?
Pada Kamis (25/6/2026), awak media, termasuk dari Harian Kompas (Kompas.id) berkesempatan untuk melihat latsarmil bagi para calon manajer Koperasi Desa Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih di Brigif 1 Marinir Cilandak, Jakarta Selatan. Sejumlah peserta mengisahkan keseharian selama latsarmil.
Terdapat 674 orang yang seluruhnya laki-laki menerima pelatihan di Brigif 1 Marinir Cilandak. Mereka dibagi ke dalam empat kompi. Setiap kompi dibagi ke dalam beberapa kelas yang kepemimpinannya disusun bak militer.
Mereka jadi bagian dari 35.476 peserta pendidikan dan pelatihan Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI). Mayoritas, yakni 30.000 orang, disiapkan untuk Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), sedangkan 5.476 lainnya untuk Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP). Pelatihan masif ini disebar di 67 lembaga pendidikan jajaran Kemenhan dan TNI di seluruh penjuru Tanah Air.
Komandan Batalyon Latihan Brigif 1 Marinir Cilandak Letnan Kolonel (Mar) Agus Mutaqim menyebut pelatihan di barak militer bertujuan menanamkan jiwa korsa agar kelak para manajer memegang integritas di lapangan.
Mengapa pelatihan militer bagi calon manajer koperasi ini dikritik oleh masyarakat sipil?
Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid menyampaikan dukacita mendalam terkait warga sipil yang meninggal saat mengikuti latihan dasar militer bagi calon pengelola Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih. Ia sekaligus menyayangkan tragedi warga sipil yang harus kehilangan nyawa hanya karena mengikuti pelatihan program pemerintah yang dinilai bermasalah sejak awal.
Menurut Usman, tragedi memilukan tersebut adalah potret buruk dari bahaya meningkatnya militerisme bagi warga sipil. Pelatihan militer bagi calon manajer KDKMP dan KNMP sedari awal keliru. Ia mendesak program pelatihan militer itu dihentikan.
”Ini harus dihentikan. Yang diperlukan adalah pelatihan keterampilan manajemen usaha dan komunikasi yang dialogis, bukan pelatihan militer yang berbasis kekuatan fisik dan komunikasi monologis,” ucap Usman.
Ia juga melihat, program menanamkan budaya militer ke dalam struktur masyarakat sipil akan mengaburkan batas tegas antara domain pertahanan negara dan urusan sipil. Hal ini berisiko membangkitkan kembali bayang-bayang dwifungsi era Orde Baru. ”Bagi kami, urusan manajemen bisnis dan pemberdayaan ekonomi masyarakat sipil tidak relevan dengan pelatihan ala militer,” katanya.
Bagaimana penilaian DPR terhadap latsarmil bagi para calon manajer koperasi?
Anggota Komisi I DPR dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), TB Hasanuddin, menyampaikan keprihatinan mendalam atas jatuhnya korban jiwa dalam pelatihan KDMP dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP). Hasanuddin meminta kejadian ini menjadi bahan evaluasi serius terhadap desain pelatihan yang diberikan kepada calon pengelola koperasi.
”Kalau memang peserta dipersiapkan untuk jabatan manajerial, fokus utama sebaiknya diberikan pada pelatihan manajemen koperasi saja, penguatan kapasitas organisasi, dan pelatihan teknis yang relevan. Pelatihan militer cukup diberikan pada tingkat dasar dan terbatas saja,” ujar Hasanuddin dalam keterangan yang diterima, Jakarta, Kamis (25/6/2026).
Menurut Hasanuddin, pelatihan dasar untuk peserta sebaiknya diarahkan untuk membangkitkan kekompakan, disiplin pribadi, dan kebersamaan. ”Seperti, antara lain, baris-berbaris demi kerapian, santiaji, apel untuk belajar menghormati waktu, dan senam pagi untuk menjaga kebugaran. Itu pun sebelumnya harus lolos tes kesehatan sebelum mengikuti aktivitas fisik,” katanya.
Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?
Berapa jumlah calon manajer Koperasi Merah Putih yang meninggal saat mengikuti latihan dasar kemiliteran? Apa penyebab meninggalnya keempat calon manajer versi pemerintah atau penyelenggara latsarmil? Bagaimana sebenarnya latsarmil untuk para calon manajer koperasi itu? Mengapa pelatihan militer bagi calon manajer koperasi ini dikritik oleh masyarakat sipil? Bagaimana penilaian DPR terhadap latsarmil bagi para calon manajer koperasi, apalagi sampai ada korban jiwa?
Berapa jumlah calon manajer Koperasi Merah Putih yang meninggal saat mengikuti latsarmil?
Sudah empat calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih yang meninggal saat mengikuti latihan dasar kemiliteran (latsarmil).
Calon manajer terbaru yang meninggal bernama Muhammad Rifki Renaldi Gunawan. Ia tengah mengikuti latihan dasar kemiliteran (latsarmil), bagian dari program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) di Satuan Pendidikan Batalyon Komando 465 Pasgat (Yon Parako 465), Jakarta Timur.
Korban lainnya, Novia Rahmadhani Sihotang, saat mengikuti pelatihan di Satuan Pendidikan Pusat Bahasa Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan, dan Latihan TNI Angkatan Udara di Jakarta, 23 Juni 2026. Kemudian, Anisa Muyassaroh saat mengikuti pendidikan di Satuan Pendidikan Dodikjur Rindam VI/Mulawarman Balikpapan. Selanjutnya, Yonanda Muhammad Taufiq yang meninggal ketika mengikuti pendidikan di Satuan Pendidikan Pusat Latihan dan Tempur Kodiklatad Baturaja.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi saat diwawancarai di Gedung DPR, Jakarta, Jumat (26/6/2026), menyampaikan komitmen pemerintah untuk mengevaluasi prosedur latsarmil agar kejadian serupa tak terulang. Meski demikian, sejauh ini, belum ditemukan adanya indikasi kelalaian ataupun kesalahan prosedur dari penyelenggara latsarmil. Latsarmil bagi para calon manajer juga dinilainya tidak berat.
Baca JugaKorban Meninggal Latsarmil Koperasi Merah Putih Bertambah, Kini Jadi Empat
Apa penyebab meninggalnya keempat calon manajer versi pemerintah atau penyelenggara latsarmil?
Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan Rico Ricardo Sirait menyatakan, Rifki meninggal pada Jumat (26/6/2026) pukul 00.28 WIB. Sehari sebelumnya, Rifki mengeluh sesak napas dan segera mendapatkan penanganan awal dari tim kesehatan satuan.
”Setelah kondisi kesehatannya berangsur membaik, yang bersangkutan sempat kembali mengikuti aktivitas. Namun, pada sore hari, kondisi kesehatannya kembali menurun sehingga segera dirujuk ke RSAU dr Esnawan Antariksa,” ujarnya.
Adapun Kodam VI/Mulawarman menyatakan Anisa Muyassaroh meninggal dunia akibat serangan panas berat atau heat stroke. ”Dari hasil pemeriksaan medis, almarhumah mengalami heat stroke atau serangan panas berat yang mengakibatkan gangguan serius pada fungsi organ tubuh. Kondisi tersebut kemudian menimbulkan komplikasi hingga akhirnya tidak tertolong,” ujar Kepala Penerangan Kodam VI/Mulawarman Kolonel (Inf) Gatot Teguh Waluyo.
Sementara itu, Novia Rahmadhani Sihotang, yang meninggal pada 23 Juni 2026, kondisi kesehatannya memburuk karena berkaitan dengan penyakit tuberkulosis yang dideritanya. Yonanda Muhammad Taufiq mengalami penurunan kondisi kesehatan pada 17 Juni dan dinyatakan meninggal akibat cardiac arrest (henti jantung).
Baca JugaKodam: Anisa Muyassaroh Meninggal akibat ”Heat Stroke”, Diklatsarmil SPPI Didesak Dievaluasi
Bagaimana sebenarnya latsarmil untuk para calon manajer koperasi itu?
Pada Kamis (25/6/2026), awak media, termasuk dari Harian Kompas (Kompas.id) berkesempatan untuk melihat latsarmil bagi para calon manajer Koperasi Desa Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih di Brigif 1 Marinir Cilandak, Jakarta Selatan. Sejumlah peserta mengisahkan keseharian selama latsarmil.
Terdapat 674 orang yang seluruhnya laki-laki menerima pelatihan di Brigif 1 Marinir Cilandak. Mereka dibagi ke dalam empat kompi. Setiap kompi dibagi ke dalam beberapa kelas yang kepemimpinannya disusun bak militer.
Mereka jadi bagian dari 35.476 peserta pendidikan dan pelatihan Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI). Mayoritas, yakni 30.000 orang, disiapkan untuk Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), sedangkan 5.476 lainnya untuk Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP). Pelatihan masif ini disebar di 67 lembaga pendidikan jajaran Kemenhan dan TNI di seluruh penjuru Tanah Air.
Komandan Batalyon Latihan Brigif 1 Marinir Cilandak Letnan Kolonel (Mar) Agus Mutaqim menyebut pelatihan di barak militer bertujuan menanamkan jiwa korsa agar kelak para manajer memegang integritas di lapangan.
Baca JugaBayang-bayang Tragedi di Barak Calon Manajer Koperasi Desa Merah Putih
Mengapa pelatihan militer bagi calon manajer koperasi ini dikritik oleh masyarakat sipil?
Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid menyampaikan dukacita mendalam terkait warga sipil yang meninggal saat mengikuti latihan dasar militer bagi calon pengelola Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih. Ia sekaligus menyayangkan tragedi warga sipil yang harus kehilangan nyawa hanya karena mengikuti pelatihan program pemerintah yang dinilai bermasalah sejak awal.
Menurut Usman, tragedi memilukan tersebut adalah potret buruk dari bahaya meningkatnya militerisme bagi warga sipil. Pelatihan militer bagi calon manajer KDKMP dan KNMP sedari awal keliru. Ia mendesak program pelatihan militer itu dihentikan.
”Ini harus dihentikan. Yang diperlukan adalah pelatihan keterampilan manajemen usaha dan komunikasi yang dialogis, bukan pelatihan militer yang berbasis kekuatan fisik dan komunikasi monologis,” ucap Usman.
Ia juga melihat, program menanamkan budaya militer ke dalam struktur masyarakat sipil akan mengaburkan batas tegas antara domain pertahanan negara dan urusan sipil. Hal ini berisiko membangkitkan kembali bayang-bayang dwifungsi era Orde Baru. ”Bagi kami, urusan manajemen bisnis dan pemberdayaan ekonomi masyarakat sipil tidak relevan dengan pelatihan ala militer,” katanya.
Baca JugaSatu Lagi Calon Manajer Koperasi Meninggal Saat Latihan Militer, Amnesty: Potret Buruk Militerisme
Bagaimana penilaian DPR terhadap latsarmil bagi para calon manajer koperasi?
Anggota Komisi I DPR dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), TB Hasanuddin, menyampaikan keprihatinan mendalam atas jatuhnya korban jiwa dalam pelatihan KDMP dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP). Hasanuddin meminta kejadian ini menjadi bahan evaluasi serius terhadap desain pelatihan yang diberikan kepada calon pengelola koperasi.
”Kalau memang peserta dipersiapkan untuk jabatan manajerial, fokus utama sebaiknya diberikan pada pelatihan manajemen koperasi saja, penguatan kapasitas organisasi, dan pelatihan teknis yang relevan. Pelatihan militer cukup diberikan pada tingkat dasar dan terbatas saja,” ujar Hasanuddin dalam keterangan yang diterima, Jakarta, Kamis (25/6/2026).
Menurut Hasanuddin, pelatihan dasar untuk peserta sebaiknya diarahkan untuk membangkitkan kekompakan, disiplin pribadi, dan kebersamaan. ”Seperti, antara lain, baris-berbaris demi kerapian, santiaji, apel untuk belajar menghormati waktu, dan senam pagi untuk menjaga kebugaran. Itu pun sebelumnya harus lolos tes kesehatan sebelum mengikuti aktivitas fisik,” katanya.
Baca JugaJatuh Korban Jiwa, DPR Desak Evaluasi Serius Pelatihan Calon Manajer Koperasi Desa Merah Putih