Saat memperhatikan berbagai budaya populer yang viral belakangan ini, seperti kuliner, musik, film, atau bahkan tren berpakaian, mungkin akan muncul pemikiran bahwa memang demikian bentuk selera masyarakat saat ini. Terlebih di era media sosial belakangan ini ketika media sangat berperan membentuk perhatian publik. Sebuah lagu, misalnya, bisa dikenal luas karena sering diputar di berbagai tempat dan platform digital. Tanpa disadari, apa yang dianggap sebagai pilihan pribadi sering kali dipengaruhi oleh lingkungan sosial di sekitar manusia hidup.
Bagi penyair sekaligus sastrawan, Sapardi Djoko Damono, fenomena tersebut tidak dipandang sebagai sekadar hiburan. Sapardi justru melihat gejala yang layak dipahami secara serius. Dalam buku Kebudayaan (Populer) (di Sekitar) Kita, Sapardi melihat bahwa kebudayaan populer tidak hadir secara kebetulan. Kebudayaan populer hadir sebagai hasil dari hubungan yang kompleks antara media, masyarakat, industri, dan perubahan zaman. Menurut dia, apa yang didengarkan, ditonton, dibaca, dan diperbincangkan sesungguhnya dapat menjadi pintu untuk memahami bagaimana masyarakat modern bekerja.
Keskeptisan Sapardi tampaknya berangkat dari konsep ”The medium is the message” yang ditulis oleh filsuf komunikasi Marshall McLuhan. Dalam pemahaman ini, media dinilai tidak hanya menjadi perantara informasi kepada masyarakat. Namun, bentuk atau jenis media itu sendiri telah menyampaikan pesan atau bahkan membentuk masyarakat. Sapardi melihat bahwa media tidak sekadar memantulkan realitas, tetapi juga turut membentuk realitas sosial melalui pilihan-pilihan yang disajikannya setiap hari.
Salah satu contoh adalah sebuah film yang baru dirilis. Pihak rumah produksi tentu akan memaksimalkan pemarasan melalu berbagai media. Ulasan bermunculan di banyak platform, cuplikan adegan beredar di media sosial, sementara para kreator konten berlomba-lomba membuat reaksi atau pembahasan. Akhirnya orang yang semula tidak berniat menonton perlahan menjadi penasaran karena terus-menerus melihat film tersebut muncul di linimasa. Inilah yang membuat keputusan untuk menonton sering kali bukan lagi murni karena ketertarikan pribadi, melainkan karena dorongan untuk ikut menjadi bagian dari percakapan yang sedang berlangsung.
Dalam contoh film tadi, popularitas dibentuk melalui proses yang terus diulang hingga terasa sebagai sesuatu yang wajar. Pada era algoritma saat ini, informasi disesuaikan dengan kebiasaan pengguna, seolah-olah kita merasa bebas menentukan pilihan, padahal tanpa disadari pilihan-pilihannya telah dipersempit oleh teknologi yang terus mempelajari apa yang kita sukai. Disitulah Sapardi menilai bahwa budaya populer berkembang, bukan karena kualitas suatu karya semata, melainkan karena mekanisme distribusi yang terus hadir di hadapan publik.
Gosip sebagai budaya populer
Uniknya, Sapardi juga melihat gosip sebagai budaya populer yang hampir selalu didistribusikan luas dan cepat dikonsumsi publik. Bagi sebagian orang gosip mungkin hanya dipandang sebatas desas-desus sepele. Namun, Sapardi melihat bahwa gosip merupakan bagian dari kebudayaan populer yang memiliki fungsi sosial. Gosip membuat seseorang merasa terhubung dengan kelompoknya karena memiliki bahan pembicaraan yang sama.
Media pun mengomodifikasi gosip sebagai industri hiburan yang menguntungkan melalui rating iklan dan engagement penonton. Inilah bentuk dari hubungan antara rasa ingin tahu manusia, kepentingan media, dan logika pasar yang saling bertemu membentuk kebudayaan populer.
Budaya populer dan budaya adiluhung
Dalam buku berjumlah 153 halaman ini, Sapardi juga menelaah pertentangan yang kerap terjadi jika membahas budaya populer yang dihadapkan dengan budaya adiluhung. Dirinya memandang pertentangan keduanya tidak sesederhana bahwa budaya adiluhung memiliki nilai artistik yang tinggi karena diciptakan melalui proses kreatif yang mendalam, lalu budaya populer dinilai hanya hiburan ringan yang mengejar viralitas.
Sapardi bersikap obyektif dengan menunjukkan bahwa popularitas tidak otomatis membuat sebuah karya kehilangan nilainya. Sebaliknya, karya yang dianggap tinggi atau lebih berkualitas belum tentu mampu berbicara kepada masyarakat luas. Menariknya, batas antara keduanya semakin lama justru semakin kabur. Sebuah novel populer dapat menjadi bahan kajian akademik, sementara karya sastra klasik dapat diadaptasi menjadi film atau pertunjukan yang dinikmati jutaan penonton. Baginya, budaya populer dan budaya adiluhung bukan dua dunia yang benar-benar terpisah, melainkan saling memengaruhi.
Di era digital proses pembaruan antara budaya popular dan budaya adiluhung semakin memungkinkan terjadi. Kondisi ini terlihat dari banyak karya sastra klasik yang dulu kurang diangkat kini justru banyak diapresiasi melalui karya adaptasi dalam bentuk baru, seperti video. Atau justru sebaliknya, ada novel yang baru menarik perhatian publik setelah diangkat menjadi film atau serial. Semua itu menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah karya sering kali ditentukan bukan hanya oleh kualitasnya, melainkan juga oleh bagaimana industri budaya mengemas dan memperkenalkannya kepada masyarakat.
Kemajuan teknologi juga turut membuat kebudayaan menjadi semakin demokratis karena dapat diakses oleh lebih banyak orang. Jika dulu menikmati karya sastra, musik, atau pertunjukan tertentu sering kali menjadi hak istimewa kalangan terbatas, kini batas-batas itu semakin memudar. Siapa pun dapat membaca novel atau mendengarkan konser dari belahan dunia lain melalui gawai.
Sapardi menyadari kenyataan bahwa budaya dan pasar memang saling bertemu dalam kehidupan modern. Tanpa dukungan media, banyak karya mungkin tidak pernah sampai kepada pembacanya. Sebaliknya, jika sepenuhnya mengikuti logika pasar, kebudayaan berisiko kehilangan keberanian untuk menghadirkan gagasan-gagasan baru yang tidak selalu menjanjikan keuntungan.
Data Buku
Judul: Kebudayaan (Populer) (di Sekitar) Kita
Penulis: Sapardi Djoko Damono
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun terbit: 2026
Jumlah halaman: vi + 153 halaman
ISBN: 978-623-134-554-7
Saat memperhatikan berbagai budaya populer yang viral belakangan ini, seperti kuliner, musik, film, atau bahkan tren berpakaian, mungkin akan muncul pemikiran bahwa memang demikian bentuk selera masyarakat saat ini. Terlebih di era media sosial belakangan ini ketika media sangat berperan membentuk perhatian publik. Sebuah lagu, misalnya, bisa dikenal luas karena sering diputar di berbagai tempat dan platform digital. Tanpa disadari, apa yang dianggap sebagai pilihan pribadi sering kali dipengaruhi oleh lingkungan sosial di sekitar manusia hidup.
Bagi penyair sekaligus sastrawan, Sapardi Djoko Damono, fenomena tersebut tidak dipandang sebagai sekadar hiburan. Sapardi justru melihat gejala yang layak dipahami secara serius. Dalam buku Kebudayaan (Populer) (di Sekitar) Kita, Sapardi melihat bahwa kebudayaan populer tidak hadir secara kebetulan. Kebudayaan populer hadir sebagai hasil dari hubungan yang kompleks antara media, masyarakat, industri, dan perubahan zaman. Menurut dia, apa yang didengarkan, ditonton, dibaca, dan diperbincangkan sesungguhnya dapat menjadi pintu untuk memahami bagaimana masyarakat modern bekerja.
Keskeptisan Sapardi tampaknya berangkat dari konsep ”The medium is the message” yang ditulis oleh filsuf komunikasi Marshall McLuhan. Dalam pemahaman ini, media dinilai tidak hanya menjadi perantara informasi kepada masyarakat. Namun, bentuk atau jenis media itu sendiri telah menyampaikan pesan atau bahkan membentuk masyarakat. Sapardi melihat bahwa media tidak sekadar memantulkan realitas, tetapi juga turut membentuk realitas sosial melalui pilihan-pilihan yang disajikannya setiap hari.
Salah satu contoh adalah sebuah film yang baru dirilis. Pihak rumah produksi tentu akan memaksimalkan pemarasan melalu berbagai media. Ulasan bermunculan di banyak platform, cuplikan adegan beredar di media sosial, sementara para kreator konten berlomba-lomba membuat reaksi atau pembahasan. Akhirnya orang yang semula tidak berniat menonton perlahan menjadi penasaran karena terus-menerus melihat film tersebut muncul di linimasa. Inilah yang membuat keputusan untuk menonton sering kali bukan lagi murni karena ketertarikan pribadi, melainkan karena dorongan untuk ikut menjadi bagian dari percakapan yang sedang berlangsung.
Dalam contoh film tadi, popularitas dibentuk melalui proses yang terus diulang hingga terasa sebagai sesuatu yang wajar. Pada era algoritma saat ini, informasi disesuaikan dengan kebiasaan pengguna, seolah-olah kita merasa bebas menentukan pilihan, padahal tanpa disadari pilihan-pilihannya telah dipersempit oleh teknologi yang terus mempelajari apa yang kita sukai. Disitulah Sapardi menilai bahwa budaya populer berkembang, bukan karena kualitas suatu karya semata, melainkan karena mekanisme distribusi yang terus hadir di hadapan publik.
Gosip sebagai budaya populer
Uniknya, Sapardi juga melihat gosip sebagai budaya populer yang hampir selalu didistribusikan luas dan cepat dikonsumsi publik. Bagi sebagian orang gosip mungkin hanya dipandang sebatas desas-desus sepele. Namun, Sapardi melihat bahwa gosip merupakan bagian dari kebudayaan populer yang memiliki fungsi sosial. Gosip membuat seseorang merasa terhubung dengan kelompoknya karena memiliki bahan pembicaraan yang sama.
Media pun mengomodifikasi gosip sebagai industri hiburan yang menguntungkan melalui rating iklan dan engagement penonton. Inilah bentuk dari hubungan antara rasa ingin tahu manusia, kepentingan media, dan logika pasar yang saling bertemu membentuk kebudayaan populer.
Budaya populer dan budaya adiluhung
Dalam buku berjumlah 153 halaman ini, Sapardi juga menelaah pertentangan yang kerap terjadi jika membahas budaya populer yang dihadapkan dengan budaya adiluhung. Dirinya memandang pertentangan keduanya tidak sesederhana bahwa budaya adiluhung memiliki nilai artistik yang tinggi karena diciptakan melalui proses kreatif yang mendalam, lalu budaya populer dinilai hanya hiburan ringan yang mengejar viralitas.
Sapardi bersikap obyektif dengan menunjukkan bahwa popularitas tidak otomatis membuat sebuah karya kehilangan nilainya. Sebaliknya, karya yang dianggap tinggi atau lebih berkualitas belum tentu mampu berbicara kepada masyarakat luas. Menariknya, batas antara keduanya semakin lama justru semakin kabur. Sebuah novel populer dapat menjadi bahan kajian akademik, sementara karya sastra klasik dapat diadaptasi menjadi film atau pertunjukan yang dinikmati jutaan penonton. Baginya, budaya populer dan budaya adiluhung bukan dua dunia yang benar-benar terpisah, melainkan saling memengaruhi.
Di era digital proses pembaruan antara budaya popular dan budaya adiluhung semakin memungkinkan terjadi. Kondisi ini terlihat dari banyak karya sastra klasik yang dulu kurang diangkat kini justru banyak diapresiasi melalui karya adaptasi dalam bentuk baru, seperti video. Atau justru sebaliknya, ada novel yang baru menarik perhatian publik setelah diangkat menjadi film atau serial. Semua itu menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah karya sering kali ditentukan bukan hanya oleh kualitasnya, melainkan juga oleh bagaimana industri budaya mengemas dan memperkenalkannya kepada masyarakat.
Kemajuan teknologi juga turut membuat kebudayaan menjadi semakin demokratis karena dapat diakses oleh lebih banyak orang. Jika dulu menikmati karya sastra, musik, atau pertunjukan tertentu sering kali menjadi hak istimewa kalangan terbatas, kini batas-batas itu semakin memudar. Siapa pun dapat membaca novel atau mendengarkan konser dari belahan dunia lain melalui gawai.
Sapardi menyadari kenyataan bahwa budaya dan pasar memang saling bertemu dalam kehidupan modern. Tanpa dukungan media, banyak karya mungkin tidak pernah sampai kepada pembacanya. Sebaliknya, jika sepenuhnya mengikuti logika pasar, kebudayaan berisiko kehilangan keberanian untuk menghadirkan gagasan-gagasan baru yang tidak selalu menjanjikan keuntungan.
Data Buku
Judul: Kebudayaan (Populer) (di Sekitar) Kita
Penulis: Sapardi Djoko Damono
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun terbit: 2026
Jumlah halaman: vi + 153 halaman
ISBN: 978-623-134-554-7