Menjaga daya beli kelompok ekonomi kelas menengah menjadi strategi agar roda perekonomian tetap berputar. Kontribusi konsumsi rumah tangga mereka lebih dari setengah produk domestik bruto (PDB) Indonesia.
Ketika kelas menengah aktif berbelanja, sektor-sektor usaha akan bergerak mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, sebaliknya, saat kelompok ini mulai mengerem pengeluaran, imbasnya dapat melumpuhkan berbagai sektor, mulai dari ritel, manufaktur, hingga jasa.
Kondisi saat ini terekam pergeseran pola dan prioritas konsumsi masyarakat, yang mayoritas adalah kelas menengah. Mereka mau tak mau harus selektif dalam membelanjakan uangnya di tengah lonjakan biaya hidup, ketidakpastian ekonomi, dan meningkatnya kebutuhan pokok sehari-hari.
Tren konsumsi masyarakat tampaknya berjalan dengan prinsip penuh kehati-hatian, bukan sepenuhnya berhenti. Orientasi berbelanja tidak lagi sekadar memenuhi kebutuhan, tetapi juga mengelola pengeluaran secara bijak.
Hal ini sejalan dengan konsep ekonomi hipotesis pendapatan permanen (permanent income hypothesis) dari Milton Friedman, yang menyebutkan, perilaku konsumsi seseorang lebih ditentukan oleh pendapatan jangka panjang mereka, bukan hanya perkiraan dari kondisi saat ini. Bisa jadi, kelas menengah melihat kondisi ke depan penuh ketidakpastian sehingga belanja selain kebutuhan primer harus ditahan.
Kondisi ini juga terpotret dalam Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS). Hasil survei menunjukkan adanya penurunan signifikan jumlah penduduk kelas menengah dari sekitar 57 juta orang tahun 2019 menjadi 47 juta orang tahun 2025.
Penurunan jumlah kelas menengah ini dipengaruhi oleh dampak jangka panjang setelah pandemi Covid-19, ditambah semakin beratnya biaya hidup. Kondisi semakin pelik ketika ada gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang membuat sebagian kelas menengah beralih dari kelompok pekerja formal ke informal. Belum lagi dampak dari konflik Timur Tengah dan depresiasi rupiah terhadap dolar AS.
Kehilangan 10 juta penduduk kelas menengah mensinyalkan lampu kuning bagi perekonomian nasional. Akankah kelas menengah Indonesia berhasil bangkit dan memulihkan daya belinya atau justru semakin terjebak dalam kerentanan finansial yang berkepanjangan?
Pola belanja masyarakat
Langkah menekan belanja bersamaan dengan akselerasi era digital. Belanja masyarakat, yang didominasi kelas menengah, pada platform e-dagang (e-commerce) lebih banyak terkait kebutuhan sehari-hari. Laman e-dagang dimanfaatkan untuk mengecek perbandingan harga, produk, hingga berbagai promosi dan ongkir.
Kendali atas biaya dan kenyamanan bertransaksi membuat e-dagang jadi pilihan utama bagi konsumen yang ingin menghemat anggaran. Platform e-dagang seperti Shopee, Lazada, dan Tokopedia tidak hanya menawarkan harga yang lebih kompetitif, tetapi juga mengendalikan jaringan logistik dan distribusi untuk menjangkau konsumen lebih cepat dan efisien.
Pola belanja digital masyarakat ini terekam dalam Survei Tren Konsumen Litbang Kompas 2026 yang dilakukan sepanjang Maret. Salah satunya tergambar dalam pertanyaan mengenai produk yang dibeli secara daring dalam satu minggu terakhir.
Hasil survei memperlihatkan kategori pakaian menjadi produk yang paling banyak dibeli dengan persentase mencapai 22,3 persen. Posisi kedua ditempati produk kecantikan dan perawatan sebesar 15,6 persen, lalu perlengkapan rumah tangga (8,9 persen), serta makanan dan minuman (8,1 persen).

Di sisi lain, barang-barang dengan harga relatif tinggi, seperti peralatan elektronik dan telepon seluler, transaksi pembeliannya relatif rendah, yang mengindikasikan tidak menjadi prioritas pembelian responden. Produk peralatan elektronik hanya mencatat sekitar 5,3 persen, sementara pembelian telepon seluler 5,2 persen.
Jika menilik data rencana belanja berdasarkan kelompok nilai pengeluaran, juga terlihat pakaian menjadi produk yang paling banyak direncanakan untuk dibeli di hampir seluruh kelompok pengeluaran. Misalnya, pada kelompok dengan belanja bulanan berkisar Rp 2 juta-Rp 4,9 juta yang tergolong masyarakat menengah, sekitar 27 persen responden berencana membeli pakaian.
Sementara pada kelompok berpengeluaran tinggi di atas Rp 15 juta, produk makanan dan minuman semakin mendominasi, mengantongi 15,6 persen responden. Temuan ini mengindikasikan konsumsi kelas menengah tidak semata-mata didorong oleh mencukupi hajat untuk bertahan hidup, tetapi juga oleh upaya menjaga kualitas hidup.
Adanya peningkatan porsi belanja makanan dan minuman serta menurunnya minat terhadap barang non-esensial pada masyarakat kelas atas seperti sebuah simbol. Tak berbeda dengan kelompok masyarakat menengah, mereka juga tetap memperhitungkan kemampuan finansialnya sebelum mengambil keputusan untuk berbelanja.

Kemudian, ditinjau dari segi platform e-dagang favorit masyarakat, ada pola belanja yang sangat konsisten. Mulai dari Shopee, Tokopedia, Lazada, Blibli, hingga Tiktok Shop, produk pakaian menempati peringkat pertama sebagai produk yang paling banyak dibeli. Menyusul produk kecantikan dan perawatan di peringkat kedua di seluruh platform. Lalu, produk perlengkapan rumah tangga, makanan dan minuman, telepon seluler, serta buku dan alat tulis menjadi kategori yang melengkapi daftar produk terlaris.
Penjualan produk pakaian mendominasi di sejumlah platform e-dagang juga tecermin dari alasan responden dalam memutuskan membeli barang. Hampir 80 persen responden memilih membeli produk pakaian dengan cara daring. Perilaku ini juga berlaku untuk pembelian produk kecantikan (70,8 persen) dan produk elektronik (51,7 persen).
Menjaga daya beli
Bagi keberlangsungan ekonomi nasional, pemerintah perlu mencermati secara serius pola belanja masyarakat ini. Pergeseran paradigma konsumsi yang lebih cermat memperkuat ketahanan keuangan rumah tangga mereka. Namun, di sisi lain, jika berlanjut menjadi penundaan konsumsi secara luas, hal itu akan berpotensi memperlambat perekonomian nasional.
Mengingat besarnya kontribusi kelompok ini terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia, diperlukan intervensi kebijakan yang strategis dari pemerintah untuk menjaga pengeluaran konsumsi mereka agar tetap stabil. Agenda paling mendesak yang perlu dilakukan pemerintah adalah menjaga daya beli kelas menengah.

Untuk itu, pemerintah perlu menerapkan kombinasi kebijakan fiskal dan penguatan struktural yang terarah. Langkah taktis yang dapat diterapkan, antara lain mengendalikan harga kebutuhan pokok, terciptanya lapangan kerja berkualitas, peningkatan pendapatan, serta kemudahan akses pendidikan dan kesehatan, juga berperan penting membantu memperkuat posisi kelas menengah.
Keamanan secara finansial tentu faktor utama bagi kelompok menengah agar memiliki ruang yang lebih besar, tidak hanya untuk berbelanja, tetapi juga mengatur keuangan untuk tabungan dan berinvestasi. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi nasional tetap terjaga. Dalam kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian, kemampuan untuk tetap mencukupi kebutuhan tanpa mengabaikan kesehatan keuangan tentu menjadi strategi yang paling krusial bagi mereka.
Pada akhirnya, konsumsi kelas menengah Indonesia saat ini merefleksikan antara pemenuhan kebutuhan dan keamanan finansial dalam dinamika ekonomi. Kelas menengah yang tangguh bukanlah mereka yang paling konsumtif, melainkan mereka yang mampu menjaga harmonisasi antara kebutuhan hari ini dan kesejahteraan di masa depan. Sebagai fondasi utama dalam pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, eksistensi dan daya beli kelompok menengah sudah selayaknya terus disokong dan dijaga. (LITBANG KOMPAS)
Menjaga daya beli kelompok ekonomi kelas menengah menjadi strategi agar roda perekonomian tetap berputar. Kontribusi konsumsi rumah tangga mereka lebih dari setengah produk domestik bruto (PDB) Indonesia.
Ketika kelas menengah aktif berbelanja, sektor-sektor usaha akan bergerak mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, sebaliknya, saat kelompok ini mulai mengerem pengeluaran, imbasnya dapat melumpuhkan berbagai sektor, mulai dari ritel, manufaktur, hingga jasa.
Kondisi saat ini terekam pergeseran pola dan prioritas konsumsi masyarakat, yang mayoritas adalah kelas menengah. Mereka mau tak mau harus selektif dalam membelanjakan uangnya di tengah lonjakan biaya hidup, ketidakpastian ekonomi, dan meningkatnya kebutuhan pokok sehari-hari.
Baca JugaDalam Kondisi Ekonomi Tertekan, Mengapa Kelas Menengah Paling Terengah-engah?
Tren konsumsi masyarakat tampaknya berjalan dengan prinsip penuh kehati-hatian, bukan sepenuhnya berhenti. Orientasi berbelanja tidak lagi sekadar memenuhi kebutuhan, tetapi juga mengelola pengeluaran secara bijak.
Hal ini sejalan dengan konsep ekonomi hipotesis pendapatan permanen (permanent income hypothesis) dari Milton Friedman, yang menyebutkan, perilaku konsumsi seseorang lebih ditentukan oleh pendapatan jangka panjang mereka, bukan hanya perkiraan dari kondisi saat ini. Bisa jadi, kelas menengah melihat kondisi ke depan penuh ketidakpastian sehingga belanja selain kebutuhan primer harus ditahan.
Kondisi ini juga terpotret dalam Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS). Hasil survei menunjukkan adanya penurunan signifikan jumlah penduduk kelas menengah dari sekitar 57 juta orang tahun 2019 menjadi 47 juta orang tahun 2025.

Penurunan jumlah kelas menengah ini dipengaruhi oleh dampak jangka panjang setelah pandemi Covid-19, ditambah semakin beratnya biaya hidup. Kondisi semakin pelik ketika ada gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang membuat sebagian kelas menengah beralih dari kelompok pekerja formal ke informal. Belum lagi dampak dari konflik Timur Tengah dan depresiasi rupiah terhadap dolar AS.
Kehilangan 10 juta penduduk kelas menengah mensinyalkan lampu kuning bagi perekonomian nasional. Akankah kelas menengah Indonesia berhasil bangkit dan memulihkan daya belinya atau justru semakin terjebak dalam kerentanan finansial yang berkepanjangan?
Pola belanja masyarakat
Langkah menekan belanja bersamaan dengan akselerasi era digital. Belanja masyarakat, yang didominasi kelas menengah, pada platform e-dagang (e-commerce) lebih banyak terkait kebutuhan sehari-hari. Laman e-dagang dimanfaatkan untuk mengecek perbandingan harga, produk, hingga berbagai promosi dan ongkir.
Kendali atas biaya dan kenyamanan bertransaksi membuat e-dagang jadi pilihan utama bagi konsumen yang ingin menghemat anggaran. Platform e-dagang seperti Shopee, Lazada, dan Tokopedia tidak hanya menawarkan harga yang lebih kompetitif, tetapi juga mengendalikan jaringan logistik dan distribusi untuk menjangkau konsumen lebih cepat dan efisien.
Pola belanja digital masyarakat ini terekam dalam Survei Tren Konsumen Litbang Kompas 2026 yang dilakukan sepanjang Maret. Salah satunya tergambar dalam pertanyaan mengenai produk yang dibeli secara daring dalam satu minggu terakhir.
Hasil survei memperlihatkan kategori pakaian menjadi produk yang paling banyak dibeli dengan persentase mencapai 22,3 persen. Posisi kedua ditempati produk kecantikan dan perawatan sebesar 15,6 persen, lalu perlengkapan rumah tangga (8,9 persen), serta makanan dan minuman (8,1 persen).

Di sisi lain, barang-barang dengan harga relatif tinggi, seperti peralatan elektronik dan telepon seluler, transaksi pembeliannya relatif rendah, yang mengindikasikan tidak menjadi prioritas pembelian responden. Produk peralatan elektronik hanya mencatat sekitar 5,3 persen, sementara pembelian telepon seluler 5,2 persen.
Jika menilik data rencana belanja berdasarkan kelompok nilai pengeluaran, juga terlihat pakaian menjadi produk yang paling banyak direncanakan untuk dibeli di hampir seluruh kelompok pengeluaran. Misalnya, pada kelompok dengan belanja bulanan berkisar Rp 2 juta-Rp 4,9 juta yang tergolong masyarakat menengah, sekitar 27 persen responden berencana membeli pakaian.
Sementara pada kelompok berpengeluaran tinggi di atas Rp 15 juta, produk makanan dan minuman semakin mendominasi, mengantongi 15,6 persen responden. Temuan ini mengindikasikan konsumsi kelas menengah tidak semata-mata didorong oleh mencukupi hajat untuk bertahan hidup, tetapi juga oleh upaya menjaga kualitas hidup.
Adanya peningkatan porsi belanja makanan dan minuman serta menurunnya minat terhadap barang non-esensial pada masyarakat kelas atas seperti sebuah simbol. Tak berbeda dengan kelompok masyarakat menengah, mereka juga tetap memperhitungkan kemampuan finansialnya sebelum mengambil keputusan untuk berbelanja.

Kemudian, ditinjau dari segi platform e-dagang favorit masyarakat, ada pola belanja yang sangat konsisten. Mulai dari Shopee, Tokopedia, Lazada, Blibli, hingga Tiktok Shop, produk pakaian menempati peringkat pertama sebagai produk yang paling banyak dibeli. Menyusul produk kecantikan dan perawatan di peringkat kedua di seluruh platform. Lalu, produk perlengkapan rumah tangga, makanan dan minuman, telepon seluler, serta buku dan alat tulis menjadi kategori yang melengkapi daftar produk terlaris.
Penjualan produk pakaian mendominasi di sejumlah platform e-dagang juga tecermin dari alasan responden dalam memutuskan membeli barang. Hampir 80 persen responden memilih membeli produk pakaian dengan cara daring. Perilaku ini juga berlaku untuk pembelian produk kecantikan (70,8 persen) dan produk elektronik (51,7 persen).
Menjaga daya beli
Bagi keberlangsungan ekonomi nasional, pemerintah perlu mencermati secara serius pola belanja masyarakat ini. Pergeseran paradigma konsumsi yang lebih cermat memperkuat ketahanan keuangan rumah tangga mereka. Namun, di sisi lain, jika berlanjut menjadi penundaan konsumsi secara luas, hal itu akan berpotensi memperlambat perekonomian nasional.
Mengingat besarnya kontribusi kelompok ini terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia, diperlukan intervensi kebijakan yang strategis dari pemerintah untuk menjaga pengeluaran konsumsi mereka agar tetap stabil. Agenda paling mendesak yang perlu dilakukan pemerintah adalah menjaga daya beli kelas menengah.

Untuk itu, pemerintah perlu menerapkan kombinasi kebijakan fiskal dan penguatan struktural yang terarah. Langkah taktis yang dapat diterapkan, antara lain mengendalikan harga kebutuhan pokok, terciptanya lapangan kerja berkualitas, peningkatan pendapatan, serta kemudahan akses pendidikan dan kesehatan, juga berperan penting membantu memperkuat posisi kelas menengah.
Keamanan secara finansial tentu faktor utama bagi kelompok menengah agar memiliki ruang yang lebih besar, tidak hanya untuk berbelanja, tetapi juga mengatur keuangan untuk tabungan dan berinvestasi. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi nasional tetap terjaga. Dalam kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian, kemampuan untuk tetap mencukupi kebutuhan tanpa mengabaikan kesehatan keuangan tentu menjadi strategi yang paling krusial bagi mereka.
Pada akhirnya, konsumsi kelas menengah Indonesia saat ini merefleksikan antara pemenuhan kebutuhan dan keamanan finansial dalam dinamika ekonomi. Kelas menengah yang tangguh bukanlah mereka yang paling konsumtif, melainkan mereka yang mampu menjaga harmonisasi antara kebutuhan hari ini dan kesejahteraan di masa depan. Sebagai fondasi utama dalam pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, eksistensi dan daya beli kelompok menengah sudah selayaknya terus disokong dan dijaga. (LITBANG KOMPAS)