اخبار

Generasi ”Polyworking”, Kerja Tanpa Henti meski Masa Depan Tak Pasti

الكاتبabdulrahman-mustafaتاريخ النشر
Generasi ”Polyworking”, Kerja Tanpa Henti meski Masa Depan Tak Pasti

Untuk angkatan kerja yang lebih tua, melakoni banyak jenis pekerjaan sering dianggap tanda ketidakstabilan hidup. Namun, bagi generasi lebih muda, terutama generasi Z, justru sebaliknya. Bagi mereka, menggantungkan hidup pada satu pekerjaan itu terlalu rentan, apalagi, di tengah kondisi ekonomi-politik yang tak pasti dan gempuran akal imitasi (AI).

Itulah sebabnya, fenomena angkatan kerja muda yang melakoni berbagai pekerjaan sekaligus semakin menjamur akhir-akhir ini. Mulai dari kerja sif, kerja paruh waktu, kerja tetap, hingga pekerjaan berbasis platform digital, semua dijabani pada waktu yang sama. Kondisi ini biasa disebut polyworking.

Studi memperkirakan sekitar 18 persen pekerja di tingkat global punya lebih dari satu pekerjaan. Sesuai riset The Big Shift 2026 dari Deputy (penyedia solusi teknologi kebutuhan sumber daya manusia), tingkat poly-employment di Amerika Serikat mencapai level tertinggi dalam lebih dari satu dekade. Angkatan kerja gen Z mendominasi, yakni mencakup sekitar 55 persen dari total pekerja yang menjalani lebih dari satu pekerjaan secara bersamaan.

Dalam penelitiannya, Deputy memandang polyworking sebagai strategi untuk menghadapi pasar kerja yang melambat, lowongan entry level yang berkurang, kecemasan terhadap otomasi, serta biaya hidup yang meningkat. 

Di AS, kehadiran AI merupakan salah satu faktor pendorongnya. Hampir 60 persen pekerja AS yang diteliti percaya AI akan menggantikan sebagian atau semua pekerjaan mereka. Paradoks inilah yang membuat sejumlah pekerja gen Z di AS memutuskan menjalani polyworking. 

Di Inggris, polyworking juga berkembang. Mengutip BBC, lebih dari 1 juta warga Inggris kini punya pekerjaan sampingan di luar pekerjaan utama. Kondisi itu dipicu meningkatnya biaya hidup, perubahan industri karena kemunculan AI, ketidakpastian karier, serta turunnya lowongan pekerjaan ke level terendah dalam lima tahun terakhir.

Di Indonesia, fenomena pekerja muda yang melakoni polyworking juga mulai berkembang. Lewat obrolan di media sosial, mereka blak-blakan menceritakan pengalaman mereka serta saling berbagi tips dan informasi.

Rivano (23), salah satu angkatan kerja generasi Z, yang dihubungi Kompas (3/6/2026), berprofesi sebagai pengacara di sebuah firma hukum di Jakarta. Meski profesinya di mata masyarakat sudah mentereng, dia masih memiliki dua pekerjaan sampingan sebagai kreator konten dengan topik legal dan konsultan legal. 

”Untuk branding diri, memperbanyak ilmu, serta menambah kesempatan, juga menambah pendapatan,” ujarnya. 

Galvan, salah satu angkatan kerja generasi milenial, juga melakoni polyworking. Dia kini masih berstatus karyawan swasta dan mempunyai pekerjaan sampingan merintis bisnis produk organik. ”Soalnya kebutuhan hidup makin meningkat. Ini juga untuk menambah tabungan,” katanya.

Fenomena polyworking di Indonesia lebih banyak dipengaruhi oleh struktur pengupahan, kondisi ekonomi, dan dinamika pasar tenaga kerja.

Upah stagnan

Menanggapi fenomena polyworking, peneliti ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Riandy Laksono, berpendapat tren pekerja muda yang memiliki lebih dari satu pekerjaan erat kaitannya dengan tren stagnasi upah riil dalam beberapa tahun terakhir.

Data Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) menunjukkan, pertumbuhan upah riil periode 2017-2024 hanya sekitar 0,6 persen per tahun. Pascapandemi periode 2022-2024, pertumbuhannya bahkan hanya sekitar 1 persen per tahun. 

Bank Mandiri kembali menyelenggarakan ajang tahunan Wirausaha Muda Mandiri (WMM). Tahun  ini, WMM diadakan di Mal Olympic Garden, Malang, Jawa Timur, 6-9 September. Tampak suasana pameran, Jumat (7/9/2018).

Kondisi itu kontras dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang relatif stabil di 5-5,5 persen. Bagi pekerja muda berusia 15-24 tahun dengan gaji berkisar Rp 2 juta-Rp 2,5 juta per bulan, satu pekerjaan sering kali tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang layak. Apalagi di perkotaan yang biaya hidupnya tinggi.

Di sisi lain, dampak AI terhadap pasar kerja dinilai lebih kompleks. AI paling cepat menggantikan tugas-tugas yang bersifat repetitif dan berbasis kognitif, seperti pengolahan data, pemrograman, dan pekerjaan administratif, bahkan pekerjaan kreatif.

Namun, ini bergantung pada tingkat adopsi di tiap negara. Negara berkembang seperti Indonesia relatif lebih aman karena keterbatasan infrastruktur digital, listrik, dan kemampuan membayar layanan AI.

Dalam konteks Indonesia, Riandy menduga fenomena polyworking lebih banyak didorong oleh rendahnya pendapatan daripada pemanfaatan AI. Apalagi, adopsi AI yang produktif masih terbatas dan penggunaannya masih bersifat dasar, seperti percakapan berbasis chatbot AI generatif.

Kekhawatiran meningkat

Peneliti The Prakarsa, Pierre Bernardo Ballo, berpendapat, ada beberapa faktor yang memicu fenomena polyworking di Indonesia. Pertama, pendapatan riil atau take home pay tidak lagi sebanding dengan kenaikan biaya hidup ataupun ekspektasi biaya hidup di masa depan.   

Para pencari kerja antre untuk mengikuti bursa kerja Mega Career Expo 2026 yang diadakan JobStreet by Seek di Gedung Smesco, Jakarta, Sabtu (18/4/2026). Acara yang berlangsung selama dua hari ini menghadirkan sekitar 30  perusahaan dengan menawarkan ratusan peluang karier. Penyelenggara menargetkan sebanyak 3.000 hingga 4.000 pencari kerja hadir dalam bursa kerja ini.


TOTOK WIJAYANTO (TOK)
18-04-2026

Kedua, faktor ekspektasi yang kuat. Banyak angkatan kerja muda merasa biaya hidup ke depan akan semakin berat, mulai dari harga rumah yang terus naik hingga cicilan kredit pemilikan rumah (KPR) yang semakin mahal. Kekhawatiran ini mendorong mereka melakukan frontloading, alias berupaya mengumpulkan pendapatan sebanyak mungkin dari sekarang dengan mengambil lebih dari satu pekerjaan.

Ketiga, faktor struktural dalam perekonomian dan pasar kerja. Berdasarkan riset The Prakarsa, otomasi berbasis AI berpotensi menggantikan pekerja di sejumlah sektor, seperti pertanian, penyediaan air, dan manufaktur, meski hubungan antara AI dan meningkatnya tren polyworking tidak bersifat langsung. 

Pierre sependapat, fenomena polyworking di Indonesia lebih banyak dipengaruhi oleh struktur pengupahan, kondisi ekonomi, dan dinamika pasar tenaga kerja yang membuat pekerja merasa perlu memiliki sumber pendapatan tambahan. Fenomena ini akhirnya juga semakin memengaruhi dinamika ketat di pasar tenaga kerja modern.

Ada sisi gelap yang mesti dicermati di balik fenomena polyworking, yaitu stres, kelelahan ekstrem (burnout), dan kelebihan beban kerja.

Dalam ekonomi ketenagakerjaan, ada konsep moonlighting, yaitu praktik mengambil pekerjaan sampingan yang dapat menimbulkan efek crowding out di pasar tenaga kerja. Ini terjadi saat angkatan kerja yang sudah bekerja, terutama yang berpendidikan dan memiliki modal sosial lebih baik, ikut bersaing memperebutkan peluang kerja tambahan yang seharusnya bisa diakses oleh para pencari kerja.

Akibatnya, kelompok yang menganggur seperti lulusan baru dan pekerja minim pengalaman, menghadapi persaingan yang semakin ketat. Salah satu gejalanya terlihat dari semakin banyaknya lowongan tingkat pemula (entry level) yang mensyaratkan pengalaman kerja dua hingga lima tahun. Ini lebih menguntungkan pekerja yang sudah berada di pasar kerja dan ingin mencari pekerjaan sampingan ketimbang mereka yang baru ingin masuk. 

Infografik riset jumlah dan persentase penduduk miskin di Indonesia dan tingkat pengangguran terbuka di Indonesia.

Jebakan kemiskinan

Peneliti Pusat Riset Kependudukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yanu Endar Prasetyo, mengingatkan bahwa ada sisi gelap yang mesti dicermati di balik fenomena polyworking, yaitu stres, kelelahan ekstrem (burnout), dan kelebihan beban kerja.

Dalam siniar bersama The Conversation pada 26 Februari 2026, Yanu berpendapat, bekerja mati-matian dan menyeimbangkan banyak pekerjaan seperti itu umumnya hanya bisa untuk bertahan hidup, tetapi belum tentu menjamin mobilitas vertikal. Bahkan, kondisi ini dapat melahirkan kelompok pekerja miskin (working poor).

Menurut Yanu, alih-alih merencanakan investasi jangka panjang, sebagian pekerja justru terjebak dalam survival mode. Mereka bekerja sebatas untuk membiayai kebutuhan dasar, seperti pangan, pendidikan, dan cicilan hunian.

Menghadapi potensi jebakan kemiskinan struktural ini, ketahanan individu saja tidak akan cukup. Negara, ujarnya, harus hadir dan ikut campur tangan secara fundamental. Pemerintah tidak boleh sekadar mengejar target kuantitas penciptaan lapangan kerja, tetapi harus benar-benar memastikan kualitasnya.

Untuk angkatan kerja yang lebih tua, melakoni banyak jenis pekerjaan sering dianggap tanda ketidakstabilan hidup. Namun, bagi generasi lebih muda, terutama generasi Z, justru sebaliknya. Bagi mereka, menggantungkan hidup pada satu pekerjaan itu terlalu rentan, apalagi, di tengah kondisi ekonomi-politik yang tak pasti dan gempuran akal imitasi (AI).

Itulah sebabnya, fenomena angkatan kerja muda yang melakoni berbagai pekerjaan sekaligus semakin menjamur akhir-akhir ini. Mulai dari kerja sif, kerja paruh waktu, kerja tetap, hingga pekerjaan berbasis platform digital, semua dijabani pada waktu yang sama. Kondisi ini biasa disebut polyworking.

Studi memperkirakan sekitar 18 persen pekerja di tingkat global punya lebih dari satu pekerjaan. Sesuai riset The Big Shift 2026 dari Deputy (penyedia solusi teknologi kebutuhan sumber daya manusia), tingkat poly-employment di Amerika Serikat mencapai level tertinggi dalam lebih dari satu dekade. Angkatan kerja gen Z mendominasi, yakni mencakup sekitar 55 persen dari total pekerja yang menjalani lebih dari satu pekerjaan secara bersamaan.

Baca Juga”Overwork” Kelas Menengah Naik 2,5 Kali Lipat dalam 15 Tahun

Dalam penelitiannya, Deputy memandang polyworking sebagai strategi untuk menghadapi pasar kerja yang melambat, lowongan entry level yang berkurang, kecemasan terhadap otomasi, serta biaya hidup yang meningkat. 

Di AS, kehadiran AI merupakan salah satu faktor pendorongnya. Hampir 60 persen pekerja AS yang diteliti percaya AI akan menggantikan sebagian atau semua pekerjaan mereka. Paradoks inilah yang membuat sejumlah pekerja gen Z di AS memutuskan menjalani polyworking. 

Di Inggris, polyworking juga berkembang. Mengutip BBC, lebih dari 1 juta warga Inggris kini punya pekerjaan sampingan di luar pekerjaan utama. Kondisi itu dipicu meningkatnya biaya hidup, perubahan industri karena kemunculan AI, ketidakpastian karier, serta turunnya lowongan pekerjaan ke level terendah dalam lima tahun terakhir.

infografik
riset
litbang
Tingkat Multi-Pekerjaan di Amerika Serikat

Di Indonesia, fenomena pekerja muda yang melakoni polyworking juga mulai berkembang. Lewat obrolan di media sosial, mereka blak-blakan menceritakan pengalaman mereka serta saling berbagi tips dan informasi.

Rivano (23), salah satu angkatan kerja generasi Z, yang dihubungi Kompas (3/6/2026), berprofesi sebagai pengacara di sebuah firma hukum di Jakarta. Meski profesinya di mata masyarakat sudah mentereng, dia masih memiliki dua pekerjaan sampingan sebagai kreator konten dengan topik legal dan konsultan legal. 

”Untuk branding diri, memperbanyak ilmu, serta menambah kesempatan, juga menambah pendapatan,” ujarnya. 

Galvan, salah satu angkatan kerja generasi milenial, juga melakoni polyworking. Dia kini masih berstatus karyawan swasta dan mempunyai pekerjaan sampingan merintis bisnis produk organik. ”Soalnya kebutuhan hidup makin meningkat. Ini juga untuk menambah tabungan,” katanya.

Fenomena polyworking di Indonesia lebih banyak dipengaruhi oleh struktur pengupahan, kondisi ekonomi, dan dinamika pasar tenaga kerja.

Upah stagnan

Menanggapi fenomena polyworking, peneliti ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Riandy Laksono, berpendapat tren pekerja muda yang memiliki lebih dari satu pekerjaan erat kaitannya dengan tren stagnasi upah riil dalam beberapa tahun terakhir.

Data Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) menunjukkan, pertumbuhan upah riil periode 2017-2024 hanya sekitar 0,6 persen per tahun. Pascapandemi periode 2022-2024, pertumbuhannya bahkan hanya sekitar 1 persen per tahun. 

Baca Juga”Polyworking”, Gen Z Punya Banyak Pekerjaan demi Bertahan Hidup

Bank Mandiri kembali menyelenggarakan ajang tahunan Wirausaha Muda Mandiri (WMM). Tahun  ini, WMM diadakan di Mal Olympic Garden, Malang, Jawa Timur, 6-9 September. Tampak suasana pameran, Jumat (7/9/2018).

Kondisi itu kontras dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang relatif stabil di 5-5,5 persen. Bagi pekerja muda berusia 15-24 tahun dengan gaji berkisar Rp 2 juta-Rp 2,5 juta per bulan, satu pekerjaan sering kali tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang layak. Apalagi di perkotaan yang biaya hidupnya tinggi.

Di sisi lain, dampak AI terhadap pasar kerja dinilai lebih kompleks. AI paling cepat menggantikan tugas-tugas yang bersifat repetitif dan berbasis kognitif, seperti pengolahan data, pemrograman, dan pekerjaan administratif, bahkan pekerjaan kreatif.

Namun, ini bergantung pada tingkat adopsi di tiap negara. Negara berkembang seperti Indonesia relatif lebih aman karena keterbatasan infrastruktur digital, listrik, dan kemampuan membayar layanan AI.

Dalam konteks Indonesia, Riandy menduga fenomena polyworking lebih banyak didorong oleh rendahnya pendapatan daripada pemanfaatan AI. Apalagi, adopsi AI yang produktif masih terbatas dan penggunaannya masih bersifat dasar, seperti percakapan berbasis chatbot AI generatif.

Kekhawatiran meningkat

Peneliti The Prakarsa, Pierre Bernardo Ballo, berpendapat, ada beberapa faktor yang memicu fenomena polyworking di Indonesia. Pertama, pendapatan riil atau take home pay tidak lagi sebanding dengan kenaikan biaya hidup ataupun ekspektasi biaya hidup di masa depan.   

Para pencari kerja antre untuk mengikuti bursa kerja Mega Career Expo 2026 yang diadakan JobStreet by Seek di Gedung Smesco, Jakarta, Sabtu (18/4/2026). Acara yang berlangsung selama dua hari ini menghadirkan sekitar 30  perusahaan dengan menawarkan ratusan peluang karier. Penyelenggara menargetkan sebanyak 3.000 hingga 4.000 pencari kerja hadir dalam bursa kerja ini.


TOTOK WIJAYANTO (TOK)
18-04-2026

Kedua, faktor ekspektasi yang kuat. Banyak angkatan kerja muda merasa biaya hidup ke depan akan semakin berat, mulai dari harga rumah yang terus naik hingga cicilan kredit pemilikan rumah (KPR) yang semakin mahal. Kekhawatiran ini mendorong mereka melakukan frontloading, alias berupaya mengumpulkan pendapatan sebanyak mungkin dari sekarang dengan mengambil lebih dari satu pekerjaan.

Ketiga, faktor struktural dalam perekonomian dan pasar kerja. Berdasarkan riset The Prakarsa, otomasi berbasis AI berpotensi menggantikan pekerja di sejumlah sektor, seperti pertanian, penyediaan air, dan manufaktur, meski hubungan antara AI dan meningkatnya tren polyworking tidak bersifat langsung. 

Pierre sependapat, fenomena polyworking di Indonesia lebih banyak dipengaruhi oleh struktur pengupahan, kondisi ekonomi, dan dinamika pasar tenaga kerja yang membuat pekerja merasa perlu memiliki sumber pendapatan tambahan. Fenomena ini akhirnya juga semakin memengaruhi dinamika ketat di pasar tenaga kerja modern.

Ada sisi gelap yang mesti dicermati di balik fenomena polyworking, yaitu stres, kelelahan ekstrem (burnout), dan kelebihan beban kerja.

Dalam ekonomi ketenagakerjaan, ada konsep moonlighting, yaitu praktik mengambil pekerjaan sampingan yang dapat menimbulkan efek crowding out di pasar tenaga kerja. Ini terjadi saat angkatan kerja yang sudah bekerja, terutama yang berpendidikan dan memiliki modal sosial lebih baik, ikut bersaing memperebutkan peluang kerja tambahan yang seharusnya bisa diakses oleh para pencari kerja.

Akibatnya, kelompok yang menganggur seperti lulusan baru dan pekerja minim pengalaman, menghadapi persaingan yang semakin ketat. Salah satu gejalanya terlihat dari semakin banyaknya lowongan tingkat pemula (entry level) yang mensyaratkan pengalaman kerja dua hingga lima tahun. Ini lebih menguntungkan pekerja yang sudah berada di pasar kerja dan ingin mencari pekerjaan sampingan ketimbang mereka yang baru ingin masuk. 

Baca JugaGaji Cekak, Pekerja Profesional dan Sarjana Pun Berburu Sampingan

Infografik riset jumlah dan persentase penduduk miskin di Indonesia dan tingkat pengangguran terbuka di Indonesia.

Jebakan kemiskinan

Peneliti Pusat Riset Kependudukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yanu Endar Prasetyo, mengingatkan bahwa ada sisi gelap yang mesti dicermati di balik fenomena polyworking, yaitu stres, kelelahan ekstrem (burnout), dan kelebihan beban kerja.

Dalam siniar bersama The Conversation pada 26 Februari 2026, Yanu berpendapat, bekerja mati-matian dan menyeimbangkan banyak pekerjaan seperti itu umumnya hanya bisa untuk bertahan hidup, tetapi belum tentu menjamin mobilitas vertikal. Bahkan, kondisi ini dapat melahirkan kelompok pekerja miskin (working poor).

Menurut Yanu, alih-alih merencanakan investasi jangka panjang, sebagian pekerja justru terjebak dalam survival mode. Mereka bekerja sebatas untuk membiayai kebutuhan dasar, seperti pangan, pendidikan, dan cicilan hunian.

Menghadapi potensi jebakan kemiskinan struktural ini, ketahanan individu saja tidak akan cukup. Negara, ujarnya, harus hadir dan ikut campur tangan secara fundamental. Pemerintah tidak boleh sekadar mengejar target kuantitas penciptaan lapangan kerja, tetapi harus benar-benar memastikan kualitasnya.