اخبار

Panas Ekstrem Kembali Landa Eropa Barat, Kematian Manusia dan Unggas Terjadi

الكاتبabdulrahman-mustafaتاريخ النشر
Panas Ekstrem Kembali Landa Eropa Barat, Kematian Manusia dan Unggas Terjadi

Laporan beberapa badan layanan cuaca Eropa menyatakan suhu panas ekstrem hingga melebihi 40 derajat Celcius kembali melanda Eropa Barat pekan ini. Efeknya demikian parah, bahkan mematikan. Merujuk laporan Kantor Berita Reuters, Kamis (25/6/2026), Perancis bukan hanya mencatatkan kematian manusia, namun juga kematian unggas di peternakan serta menurunnya produksi susu sapi.

Gelombang panas juga mengganggu aktivitas dan mengancam kesehatan. Prakirawan cuaca menyatakan panas ekstrem ini akan berlangsung hingga akhir pekan.

Menurut Reuters Climate Monitor, gelombang panas yang melanda Eropa Barat pekan ini didorong oleh pola cuaca yang dikenal sebagai blok Omega. Blok ini mendorong suhu hingga 18 derajat Celcius di atas normal.

Fenomena ini menyerupai bentuk huruf Yunani Omega, dengan bagian tengah menggembung dan menjebak panas di wilayah tertentu dalam jangka waktu lama. Sementara cuaca di pinggirannya lebih dingin.

Setelah pada bulan Mei panas ekstrem melanda Eropa, gelombang panas kembali terjadi sejak Rabu (17/20). Analisis AFP terhadap data cuaca Perancis pada Rabu (24/6) menunjukkan, dalam sepekan ini, 54 departemen dari 96 departemen di daratan Perancis terpapar suhu 40 derajat Celcius atau lebih tinggi. Suhu panas lebih ekstrem dirasakan di bagian barat dan selatan Perancis.

Di Paris, suhu tercatat 40,9 derajat Celcius, menjadikannya sebagai rekor untuk bulan Juni. Capaian suhu tinggi di Paris itu tercatat setelah pada Selasa (23/6) kota Pissos di barat daya dilanda panas ekstrem 44,3 derajat Celcius. Suhu di Pissos pada hari Selasa terekam sebagai hari terpanas di Perancis sejak pencatatan dimulai hampir 80 tahun yang lalu.

Badan prakiraan cuaca Perancis, Meteo-France, mengatakan panas ekstrem saat ini sebanding dengan gelombang panas mematikan pada Agustus 2003. Menurut prakiraan Meteo-France, Perancis akan tetap sangat panas, Kamis ini. Meteo-France memperpanjang peringatan cuaca siaga merah di 72 distrik di seluruh negeri.

Paparan panas ekstrem membuat ratusan migran tanpa dokumen mencari perlindungan dari panas. Mereka tidur di tenda nilon di bawah jembatan layang, sementara seorang pekerja kota menyiram trotoar.

Mematikan

Panas ekstrem, menurut pihak berwenang Perancis, sudah menyebabkan kematian 50 orang. Sebanyak 48 orang meninggal akibat tenggelam saat hendak mendinginkan diri. Dua lainnya adalah dua anak kecil yang tewas karena panas di dalam mobil.

Panas ekstrem juga menyebabkan kematian ratusan ribu ekor ayam di dua wilayah penghasil unggas terbesar, menimbulkan kerugian ekonomi, dan membebani layanan pengumpulan bangkai ayam. Clement Blanchard (32), peternak ayam dari Pays de la Loire, wilayah peternakan unggas terbesar kedua di Perancis mengatakan, ia telah kehilangan sekitar 700 ekor ayam selama beberapa hari. Normalnya, pada hari tanpa panas ekstrem, ia akan kehilangan satu atau dua ekor ayam per hari.

“Hewan-hewan kami menghadapi hal yang sama dengan yang kami alami. Hewan-hewan sangat menderita karena suhu yang panas. Hal itu menyebabkan tingkat kematian yang sangat tinggi,” kata Blanchard di peternakannya di Saint-Andre-Goule-d’Oie.

Cows stand beneath a cooling misting system inside a barn amid heatwave, in La Rippe, western Switzerland on June 23, 2026. Europe braced for another day of an unprecedented heatwave that has smashed records in many countries. (Photo by Fabrice COFFRINI / AFP)

Yann Nedelec, Kepala Kelompok Industri Unggas Perancis ANVOL mengatakan, terlalu dini untuk memastikan angka kematian unggas. Namun ia memperkirakan setidaknya beberapa ratus ribu ekor unggas telah mati di peternakan dalam ruangan dan luar ruangan akibat panas ekstrem.

Dewan Pertanian Brittany dan Pays de la Loire juga mengatakan, telah terjadi kematian unggas “besar-besaran”. Bagi Perancis, Brittany dan Pays de la Loire merupakan sentra unggas. Hampir 60 persen dari populasi unggas Perancis dipelihara di dua wilayah itu. Perancis adalah produsen unggas terbesar ketiga di Uni Eropa setelah Polandia dan Spanyol.

Selain unggas sapi perah pun ikut terdampak panas ekstrem. Suhu tinggi mengurangi asupan pakan, meningkatkan kebutuhan air, dan mengurangi produksi susu hingga 20 persen.

Frederic Vincent, peternak sapi perah yang memiliki sekitar 70 ekor sapi di dekat Angers di Perancis barat, mengatakan kawanan sapinya berkumpul di dekat ventilasi di kandang. “Mereka berdiri di sana dengan mulut terbuka lebar, mencoba mencari udara sejuk. (Cuaca panas) ini sangat sulit, secara fisik bagi manusia dan hewan,” kata Vincent.

A tourist guide protects himself under an umbrella as he walks across the Grand-Place during a heatwave in Brussels on June 24, 2026. (Photo by Nicolas TUCAT / AFP)

Eropa membara

Menyusul Perancis yang demikian terik, suhu di Inggris pada hari Rabu tercatat 36,1 derajat Celcius. Badan Cuaca Inggris, Met Office, di Gosport, Hampshire melaporkan, panas ekstrem itu tercatat terjadi di Inggris selatan.

Suhu sepanas itu menjadikannya sebagai suhu terpanas bulan Juni, sepanjang masa di Inggris. Panas ekstrem pada Juni ini merupakan bulan kedua berturut-turut di Inggris dan memecahkan rekor suhu terpanas sepanjang sejarah negeri itu. Pada Mei lalu, suhu di Inggris tercatat lebih dari 35 derajat Celcius.

Spanyol juga memecahkan rekor suhu panas. Badan Cuaca Spanyol mengatakan suhu rata-rata harian pada hari Senin adalah 28,08 derajat Celcius, sementara pada hari Selasa 28,17 derajat Celcius. Suhu di dua hari itu merupakan suhu tertinggi yang pernah tercatat untuk bulan Juni.

Gelombang panas ekstrem mendorong Italia menetapkan 16 kota termasuk Roma, berstatus siaga merah untuk gelombang panas pada Rabu. Para pekerja konstruksi dan pengantar barang diminta untuk tidak bekerja antara pukul 12.30 siang hingga 16.00 petang.

Para prakirawan cuaca Italia memperingatkan gelombang panas dapat semakin intensif. Gelombang panas akan mencapai puncaknya antara hari Minggu dan Senin.

Austria pada hari Rabu juga mengeluarkan peringatan panas ekstrem pada akhir pekan dan hari Senin. Diperkirakan, suhu dapat melonjak di atas 40 derajat Celcius. Peringatan itu ditujukan untuk wilayah timur Austria termasuk ibu kota Wina, serta beberapa kota di selatan.

Di Belanda, pihak berwenang mendirikan 23 tempat sejuk setelah suhu di Amsterdam mencapai 34 derajat Celcius. Tempat sejuk itu ada di perpustakaan umum, pusat komunitas, dan supermarket.

Sementara di Brussels, Belgia, sekitar 20 aktivis memasuki kolam renang di sebuah taman pada hari Rabu. Aksi itu sebagai protes kepada pemerintah karena tidak tersedianya area berenang luar ruangan yang ditentukan di Brussels. Mereka menyebut ketiadaan kolam renang luar ruangan sebagai penyimpangan di tengah gelombang panas.

Secara umum, panas ekstrem di Eropa Barat sudah mengganggu berbagai aktivitas. Panas ekstrem mendorong Perancis menutup sekolah dan memaksa petani untuk memanen biji-bijian di malam hari. Panas ekstrem juga membuat pengunjung Pekan Mode Paris berkeringat saat menyaksikan pagelaran mode.

Inggris menutup sekolah atau mempersingkat jam pelajaran karena peringatan bahwa suhu tinggi berbahaya bagi kesehatan. Jaringan kereta api kota juga terpengaruh oleh panas. Terjadi penundaan dan pembatasan kecepatan pada jalur utama London Underground dan pembatalan beberapa layanan kereta komuter. Beberapa kereta di Wales juga dibatalkan karena panas ekstrem.

A commuter uses a fan in an attempt to cool down, as they exit a London Underground tube carriage, in London on June 23, 2026. Multiple schools in England shut early on June 23 and set to remain closed for two more days with a heatwave expected to set new records in the UK as it spreads across Europe. (Photo by Toby Shepheard / AFP)

Semakin intens, semakin sering

Analisis Kantor Berita AFP terhadap data cuaca, setidaknya 94 juta orang di Perancis dan Spanyol terpapar panas ekstrem di atas 35 derajat Celcius. Sementara lebih dari 350 juta orang di seluruh Eropa, tidak termasuk Turki, terpapar suhu di atas 30 derajat Celcius.

Ketua Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) Jim Skea mengatakan, gelombang panas yang melanda Eropa lebih buruk daripada yang dikhawatirkan beberapa proyeksi ilmiah. Seiring pemanasan Bumi, Skea memperingatkan, Benua Eropa akan menghadapi lebih banyak kondisi ekstrem.

“Tak terhindarkan, kita akan mengalami lebih banyak hal seperti yang telah kita lihat selama beberapa hari terakhir,” kata Skea kepada wartawan pada hari Rabu.

Menurut Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), Eropa mengalami pemanasan lebih dari dua kali lipat rata-rata global. Hal itu menyebabkan gelombang panas berkepanjangan akibat perubahan iklim semakin mungkin terjadi, serta menjadi lebih sering dan intens.

Terpisah, Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus menyatakan, gelombang panas membahayakan kesehatan. Tedros menekankan, ”Kita tidak boleh menunda lebih lanjut. Para pemimpin harus memprioritaskan investasi dalam sistem kesehatan yang tahan terhadap perubahan iklim, sekaligus mempercepat aksi iklim dan mengurangi pendorong krisis iklim.” (AP/FP/REUTERS)

Laporan beberapa badan layanan cuaca Eropa menyatakan suhu panas ekstrem hingga melebihi 40 derajat Celcius kembali melanda Eropa Barat pekan ini. Efeknya demikian parah, bahkan mematikan. Merujuk laporan Kantor Berita Reuters, Kamis (25/6/2026), Perancis bukan hanya mencatatkan kematian manusia, namun juga kematian unggas di peternakan serta menurunnya produksi susu sapi.

Gelombang panas juga mengganggu aktivitas dan mengancam kesehatan. Prakirawan cuaca menyatakan panas ekstrem ini akan berlangsung hingga akhir pekan.

Baca JugaBumi Terasa Panas? Lima Tahun ke Depan Bakal Mencapai Rekor

Menurut Reuters Climate Monitor, gelombang panas yang melanda Eropa Barat pekan ini didorong oleh pola cuaca yang dikenal sebagai blok Omega. Blok ini mendorong suhu hingga 18 derajat Celcius di atas normal.

Fenomena ini menyerupai bentuk huruf Yunani Omega, dengan bagian tengah menggembung dan menjebak panas di wilayah tertentu dalam jangka waktu lama. Sementara cuaca di pinggirannya lebih dingin.

People cool off at Trocadero fountain near the Eiffel Tower during a heat wave in Paris, Wednesday, June 24, 2026. (AP Photo/Christophe Ena)

Setelah pada bulan Mei panas ekstrem melanda Eropa, gelombang panas kembali terjadi sejak Rabu (17/20). Analisis AFP terhadap data cuaca Perancis pada Rabu (24/6) menunjukkan, dalam sepekan ini, 54 departemen dari 96 departemen di daratan Perancis terpapar suhu 40 derajat Celcius atau lebih tinggi. Suhu panas lebih ekstrem dirasakan di bagian barat dan selatan Perancis.

Di Paris, suhu tercatat 40,9 derajat Celcius, menjadikannya sebagai rekor untuk bulan Juni. Capaian suhu tinggi di Paris itu tercatat setelah pada Selasa (23/6) kota Pissos di barat daya dilanda panas ekstrem 44,3 derajat Celcius. Suhu di Pissos pada hari Selasa terekam sebagai hari terpanas di Perancis sejak pencatatan dimulai hampir 80 tahun yang lalu.

Badan prakiraan cuaca Perancis, Meteo-France, mengatakan panas ekstrem saat ini sebanding dengan gelombang panas mematikan pada Agustus 2003. Menurut prakiraan Meteo-France, Perancis akan tetap sangat panas, Kamis ini. Meteo-France memperpanjang peringatan cuaca siaga merah di 72 distrik di seluruh negeri.

Baca JugaSuhu Panas di Belahan Bumi Utara

Paparan panas ekstrem membuat ratusan migran tanpa dokumen mencari perlindungan dari panas. Mereka tidur di tenda nilon di bawah jembatan layang, sementara seorang pekerja kota menyiram trotoar.

Mematikan

Panas ekstrem, menurut pihak berwenang Perancis, sudah menyebabkan kematian 50 orang. Sebanyak 48 orang meninggal akibat tenggelam saat hendak mendinginkan diri. Dua lainnya adalah dua anak kecil yang tewas karena panas di dalam mobil.

Panas ekstrem juga menyebabkan kematian ratusan ribu ekor ayam di dua wilayah penghasil unggas terbesar, menimbulkan kerugian ekonomi, dan membebani layanan pengumpulan bangkai ayam. Clement Blanchard (32), peternak ayam dari Pays de la Loire, wilayah peternakan unggas terbesar kedua di Perancis mengatakan, ia telah kehilangan sekitar 700 ekor ayam selama beberapa hari. Normalnya, pada hari tanpa panas ekstrem, ia akan kehilangan satu atau dua ekor ayam per hari.

“Hewan-hewan kami menghadapi hal yang sama dengan yang kami alami. Hewan-hewan sangat menderita karena suhu yang panas. Hal itu menyebabkan tingkat kematian yang sangat tinggi,” kata Blanchard di peternakannya di Saint-Andre-Goule-d’Oie.

Cows stand beneath a cooling misting system inside a barn amid heatwave, in La Rippe, western Switzerland on June 23, 2026. Europe braced for another day of an unprecedented heatwave that has smashed records in many countries. (Photo by Fabrice COFFRINI / AFP)

Yann Nedelec, Kepala Kelompok Industri Unggas Perancis ANVOL mengatakan, terlalu dini untuk memastikan angka kematian unggas. Namun ia memperkirakan setidaknya beberapa ratus ribu ekor unggas telah mati di peternakan dalam ruangan dan luar ruangan akibat panas ekstrem.

Dewan Pertanian Brittany dan Pays de la Loire juga mengatakan, telah terjadi kematian unggas “besar-besaran”. Bagi Perancis, Brittany dan Pays de la Loire merupakan sentra unggas. Hampir 60 persen dari populasi unggas Perancis dipelihara di dua wilayah itu. Perancis adalah produsen unggas terbesar ketiga di Uni Eropa setelah Polandia dan Spanyol.

Baca JugaGelombang Panas Lagi-lagi Melanda, Eropa dan AS Mitigasi Dampak

Selain unggas sapi perah pun ikut terdampak panas ekstrem. Suhu tinggi mengurangi asupan pakan, meningkatkan kebutuhan air, dan mengurangi produksi susu hingga 20 persen.

Frederic Vincent, peternak sapi perah yang memiliki sekitar 70 ekor sapi di dekat Angers di Perancis barat, mengatakan kawanan sapinya berkumpul di dekat ventilasi di kandang. “Mereka berdiri di sana dengan mulut terbuka lebar, mencoba mencari udara sejuk. (Cuaca panas) ini sangat sulit, secara fisik bagi manusia dan hewan,” kata Vincent.

A tourist guide protects himself under an umbrella as he walks across the Grand-Place during a heatwave in Brussels on June 24, 2026. (Photo by Nicolas TUCAT / AFP)

Eropa membara

Menyusul Perancis yang demikian terik, suhu di Inggris pada hari Rabu tercatat 36,1 derajat Celcius. Badan Cuaca Inggris, Met Office, di Gosport, Hampshire melaporkan, panas ekstrem itu tercatat terjadi di Inggris selatan.

Suhu sepanas itu menjadikannya sebagai suhu terpanas bulan Juni, sepanjang masa di Inggris. Panas ekstrem pada Juni ini merupakan bulan kedua berturut-turut di Inggris dan memecahkan rekor suhu terpanas sepanjang sejarah negeri itu. Pada Mei lalu, suhu di Inggris tercatat lebih dari 35 derajat Celcius.

Spanyol juga memecahkan rekor suhu panas. Badan Cuaca Spanyol mengatakan suhu rata-rata harian pada hari Senin adalah 28,08 derajat Celcius, sementara pada hari Selasa 28,17 derajat Celcius. Suhu di dua hari itu merupakan suhu tertinggi yang pernah tercatat untuk bulan Juni.

Gelombang panas ekstrem mendorong Italia menetapkan 16 kota termasuk Roma, berstatus siaga merah untuk gelombang panas pada Rabu. Para pekerja konstruksi dan pengantar barang diminta untuk tidak bekerja antara pukul 12.30 siang hingga 16.00 petang.

Para prakirawan cuaca Italia memperingatkan gelombang panas dapat semakin intensif. Gelombang panas akan mencapai puncaknya antara hari Minggu dan Senin.

Baca JugaGelombang Panas Melanda Eropa Lebih Awal

Austria pada hari Rabu juga mengeluarkan peringatan panas ekstrem pada akhir pekan dan hari Senin. Diperkirakan, suhu dapat melonjak di atas 40 derajat Celcius. Peringatan itu ditujukan untuk wilayah timur Austria termasuk ibu kota Wina, serta beberapa kota di selatan.

Di Belanda, pihak berwenang mendirikan 23 tempat sejuk setelah suhu di Amsterdam mencapai 34 derajat Celcius. Tempat sejuk itu ada di perpustakaan umum, pusat komunitas, dan supermarket.

Sementara di Brussels, Belgia, sekitar 20 aktivis memasuki kolam renang di sebuah taman pada hari Rabu. Aksi itu sebagai protes kepada pemerintah karena tidak tersedianya area berenang luar ruangan yang ditentukan di Brussels. Mereka menyebut ketiadaan kolam renang luar ruangan sebagai penyimpangan di tengah gelombang panas.

Secara umum, panas ekstrem di Eropa Barat sudah mengganggu berbagai aktivitas. Panas ekstrem mendorong Perancis menutup sekolah dan memaksa petani untuk memanen biji-bijian di malam hari. Panas ekstrem juga membuat pengunjung Pekan Mode Paris berkeringat saat menyaksikan pagelaran mode.

Inggris menutup sekolah atau mempersingkat jam pelajaran karena peringatan bahwa suhu tinggi berbahaya bagi kesehatan. Jaringan kereta api kota juga terpengaruh oleh panas. Terjadi penundaan dan pembatasan kecepatan pada jalur utama London Underground dan pembatalan beberapa layanan kereta komuter. Beberapa kereta di Wales juga dibatalkan karena panas ekstrem.

A commuter uses a fan in an attempt to cool down, as they exit a London Underground tube carriage, in London on June 23, 2026. Multiple schools in England shut early on June 23 and set to remain closed for two more days with a heatwave expected to set new records in the UK as it spreads across Europe. (Photo by Toby Shepheard / AFP)

Semakin intens, semakin sering

Analisis Kantor Berita AFP terhadap data cuaca, setidaknya 94 juta orang di Perancis dan Spanyol terpapar panas ekstrem di atas 35 derajat Celcius. Sementara lebih dari 350 juta orang di seluruh Eropa, tidak termasuk Turki, terpapar suhu di atas 30 derajat Celcius.

Ketua Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) Jim Skea mengatakan, gelombang panas yang melanda Eropa lebih buruk daripada yang dikhawatirkan beberapa proyeksi ilmiah. Seiring pemanasan Bumi, Skea memperingatkan, Benua Eropa akan menghadapi lebih banyak kondisi ekstrem.

Baca JugaGelombang Panas di Yunani Capai 45 Derajat Celsius

“Tak terhindarkan, kita akan mengalami lebih banyak hal seperti yang telah kita lihat selama beberapa hari terakhir,” kata Skea kepada wartawan pada hari Rabu.

Menurut Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), Eropa mengalami pemanasan lebih dari dua kali lipat rata-rata global. Hal itu menyebabkan gelombang panas berkepanjangan akibat perubahan iklim semakin mungkin terjadi, serta menjadi lebih sering dan intens.

Terpisah, Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus menyatakan, gelombang panas membahayakan kesehatan. Tedros menekankan, ”Kita tidak boleh menunda lebih lanjut. Para pemimpin harus memprioritaskan investasi dalam sistem kesehatan yang tahan terhadap perubahan iklim, sekaligus mempercepat aksi iklim dan mengurangi pendorong krisis iklim.” (AP/FP/REUTERS)