Piala Dunia 2026 telah memasuki fase gugur mulai babak 32 besar ini. Tidak ada lagi hasil imbang tanpa penyelesaian. Jika dalam 90 menit plus 30 menit extra time kedua tim masih sama kuat, adu penalti menjadi penentunya. Apakah ini soal keberuntungan saja atau ada strategi di baliknya?
“Ini bukan lagi soal kakimu, tapi kepalamu,” ujar Alain Giresse, pemain Perancis yang tercatat dalam sejarah sebagai penendang pertama adu penalti di Piala Dunia, seperti dikutip FIFA.
Giresse sukses menunaikan tugasnya kala itu, meskipun kemudian akhirnya Perancis kalah 4-5 dalam babak semifinal Piala Dunia 1982 di Spanyol tersebut. Pada waktu normal plus extra time, kedua tim itu bermain imbang 3-3.
Perkataan Giresse seolah mewakili perasaan yang dialami para algojo adu penalti sepanjang sejarah Piala Dunia. Bahkan, tak sedikit pemain yang menolak mengemban tugas tersebut demi menghindari beban psikis yang besar.
Beban ini terjadi meski secara teori penendang selalu jauh lebih diuntungkan ketimbang penjaga gawang dalam sebuah penalti. Bahkan, secara matematis, persentase keberhasilan sebuah tendangan penalti seharusnya mendekati 100 persen.
Itulah makanya penalti diciptakan, yakni sebagai hukuman atas pelanggaran berat yang dilakukan tim bertahan di dalam kotak penalti mereka. Hukuman tersebut dinilai sebanding dengan asumsi bahwa tim menyerang seharusnya berpeluang besar mencetak gol jika tak terjadi pelanggaran tersebut.
Namun, ketika penalti menjadi penentu hasil imbang laga sekaligus nasib perjalanan tim di turnamen paling bergengsi dunia, urusannya bukan soal teknik dan matematika lagi. Seperti disebut Giresse, kondisi mental pemain lebih dominan berperan dalam sukses atau gagalnya sebuah eksekusi.
Faktor itu pula yang membuat banyak bintang besar sekalipun bisa ambyar ketika menghadapi titik putih. Contoh paling terkenal adalah kegagalan penyerang andalan Italia sekaligus pemegang Ballon d’Or saat itu, Roberto Baggio, dalam final Piala Dunia 1994 melawan Brasil.
Tendangan Baggio yang melambung jauh di atas mistar gawang membuyarkan mimpi Italia meraih trofi Piala Dunia.

Statistik Opta mengungkap, dari total 292 tendangan adu penalti selama sejarah Piala Dunia, hanya 222 eksekusi yang berbuah gol. Adapun 70 tendangan lainnya meleset atau digagalkan kiper. Hal itu artinya tingkat kesuksesan “hanya” 76 persen.
Catatan tim
Mekanisme adu penalti sebagai pemecah kebuntuan hasil seri sebenarnya sudah diterapkan FIFA sejak Piala Dunia 1978 di Argentina untuk menggantikan tanding ulang dan undian. Namun, aturan tersebut tidak sempat dipakai karena semua laga bisa menghasilkan pemenang dalam waktu 90 menit maupun dengan tambahan extra time.
Drama adu penalti baru terwujud pada edisi 1982 dan terus berulang di setiap edisi setelahnya. Sejauh ini, tercatat total sebanyak 35 laga yang berakhir dengan drama ”tos-tosan” tersebut. Laga-laga ini termasuk tiga final, yakni pada edisi 1994 antara Brasil dan Italia, edisi 2006 antara Italia dan Perancis, serta edisi 2022 antara Perancis dan Argentina.
Jerman dan Kroasia menjadi tim paling sukses dalam urusan adu penalti. Dari empat laga masing-masing yang berujung adu penalti, Jerman dan Kroasia selalu memenangkannya. Kedua tim itu pun melaju ke fase gugur pada edisi tahun ini.

Sebenarnya, ada sembilan tim lain yang mencatatkan rekor 100 persen kesuksesan dalam adu penalti, tetapi masing-masing baru sekali melakoninya. Dari 9 tim itu, lima di antaranya melaju di babak 32 besar tahun ini, yakni Belgia, Maroko, Paraguay, Portugal, dan Swedia.
Adapun Argentina menjadi tim terbanyak yang harus menjalani drama tersebut, yakni total tujuh laga. Dari jumlah itu, skuad “Tango” memenangkan enam partai.
Satu-satunya kekalahan adu penalti yang dialami Argentina adalah saat bertemu Jerman di perempat final edisi 2006. Dari bagan fase gugur Piala Dunia 2026, jika kedua tim terus melaju, Argentina baru dapat bertemu Jerman di final.
Ketika mental sudah tak jadi soal, adakah strategi jitu untuk menghadapi adu penalti?
Sementara tim paling apes perihal ini adalah Spanyol. Dari lima laga fase gugurnya yang berakhir adu penalti, tim “Matador” hanya menang sekali, yakni saat melawan Irlandia pada perdelapan final edisi 2002. Terakhir, Spanyol menelan pil pahit adu penalti setelah dikalahkan Maroko, 0-3 pada perdelapan final edisi 2022.
Namun, nasib lebih tragis dialami Perancis. Dua kekalahan terakhirnya dalam laga adu penalti justru terjadi di partai puncak, yakni pada final edisi 2006 saat bersua Italia dan final 2022 melawan Argentina.
Strategi jitu
Ketika mental sudah tak jadi soal, adakah strategi jitu untuk menghadapi adu penalti?

Sejumlah riset yang dikutip The Guardian menunjukkan, 60,5 persen tim yang mendapat giliran menendang pertama akhirnya bisa menang. Riset ini dikumpulkan dari turnamen besar, seperti Piala Dunia, Piala Eropa, dan turnamen domestik Inggris periode 1973-2003.
Namun, data menarik dari Opta memperlihatkan, dalam 11 laga adu penalti terakhir di Piala Dunia, sebanyak sembilan laga di antaranya justru dimenangkan oleh tim yang menendang kedua.
Dari segi teknik menendang, penelitian lain dari sampel liga top Inggris, Italia, Jerman, dan Spanyol, mengungkapkan hasil yang bervariasi. Di Inggris, tendangan mendatar ke tengah lebih sukses, tetapi di Spanyol, pojok kiri/kanan bawah gawang lebih kerap berhasil.
Ancang-ancang lebih dari enam langkah juga efektif dalam tendangan penalti. Namun, riset lain menyebut, tendangan penalti yang baik tak boleh terlalu lemah meski terarah, tetapi juga tak boleh terlalu kencang agar tak meleset. Takaran idealnya adalah menggunakan hanya 75 persen kekuatan maksimal tendangan.

Adapun perihal arah bola, sebuah hasil penelitian tahun 2016 memperlihatkan, sisi atas gawang memiliki persentase sukses lebih besar. Angka tertinggi adalah di pojok kiri atas gawang, yakni 93 persen.
Namun, hanya sebagian kecil pemain yang berani mengarahkan ke posisi itu karena risiko melambung yang tinggi. Sebagian besar penendang lebih suka mengarahkan ke pojok kiri-kanan bawah gawang, meskipun tingkat keberhasilannya “hanya” 74-79 persen.
Temuan itu pun selaras dengan statistik adu penalti di Piala Dunia. Berdasarkan data yang dihimpun Opta, mayoritas gol adu penalti dihasilkan dari mengarahkan bola ke pojok kiri-kanan bawah gawang.
Namun, tembakan dengan tingkat kesuksesan 100 persen adalah yang diarahkan ke sepertiga sisi atas gawang, entah di pojok kanan-kiri atau tengah. Dari total 39 tendangan yang mengarah ke sektor itu, tidak ada yang bisa diselamatkan kiper.
Piala Dunia 2026 telah memasuki fase gugur mulai babak 32 besar ini. Tidak ada lagi hasil imbang tanpa penyelesaian. Jika dalam 90 menit plus 30 menit extra time kedua tim masih sama kuat, adu penalti menjadi penentunya. Apakah ini soal keberuntungan saja atau ada strategi di baliknya?
“Ini bukan lagi soal kakimu, tapi kepalamu,” ujar Alain Giresse, pemain Perancis yang tercatat dalam sejarah sebagai penendang pertama adu penalti di Piala Dunia, seperti dikutip FIFA.
Giresse sukses menunaikan tugasnya kala itu, meskipun kemudian akhirnya Perancis kalah 4-5 dalam babak semifinal Piala Dunia 1982 di Spanyol tersebut. Pada waktu normal plus extra time, kedua tim itu bermain imbang 3-3.
Perkataan Giresse seolah mewakili perasaan yang dialami para algojo adu penalti sepanjang sejarah Piala Dunia. Bahkan, tak sedikit pemain yang menolak mengemban tugas tersebut demi menghindari beban psikis yang besar.

Beban ini terjadi meski secara teori penendang selalu jauh lebih diuntungkan ketimbang penjaga gawang dalam sebuah penalti. Bahkan, secara matematis, persentase keberhasilan sebuah tendangan penalti seharusnya mendekati 100 persen.
Itulah makanya penalti diciptakan, yakni sebagai hukuman atas pelanggaran berat yang dilakukan tim bertahan di dalam kotak penalti mereka. Hukuman tersebut dinilai sebanding dengan asumsi bahwa tim menyerang seharusnya berpeluang besar mencetak gol jika tak terjadi pelanggaran tersebut.
Baca JugaMenang Adu Penalti Bukan Untung-untungan, Butuh Kesiapan Psikologis dan Taktik Jitu
Namun, ketika penalti menjadi penentu hasil imbang laga sekaligus nasib perjalanan tim di turnamen paling bergengsi dunia, urusannya bukan soal teknik dan matematika lagi. Seperti disebut Giresse, kondisi mental pemain lebih dominan berperan dalam sukses atau gagalnya sebuah eksekusi.
Faktor itu pula yang membuat banyak bintang besar sekalipun bisa ambyar ketika menghadapi titik putih. Contoh paling terkenal adalah kegagalan penyerang andalan Italia sekaligus pemegang Ballon d’Or saat itu, Roberto Baggio, dalam final Piala Dunia 1994 melawan Brasil.
Tendangan Baggio yang melambung jauh di atas mistar gawang membuyarkan mimpi Italia meraih trofi Piala Dunia.

Statistik Opta mengungkap, dari total 292 tendangan adu penalti selama sejarah Piala Dunia, hanya 222 eksekusi yang berbuah gol. Adapun 70 tendangan lainnya meleset atau digagalkan kiper. Hal itu artinya tingkat kesuksesan “hanya” 76 persen.
Catatan tim
Mekanisme adu penalti sebagai pemecah kebuntuan hasil seri sebenarnya sudah diterapkan FIFA sejak Piala Dunia 1978 di Argentina untuk menggantikan tanding ulang dan undian. Namun, aturan tersebut tidak sempat dipakai karena semua laga bisa menghasilkan pemenang dalam waktu 90 menit maupun dengan tambahan extra time.
Baca JugaAnalisis: Mengapa Banyak Laga Banjir Gol di Piala Dunia 2026?
Drama adu penalti baru terwujud pada edisi 1982 dan terus berulang di setiap edisi setelahnya. Sejauh ini, tercatat total sebanyak 35 laga yang berakhir dengan drama ”tos-tosan” tersebut. Laga-laga ini termasuk tiga final, yakni pada edisi 1994 antara Brasil dan Italia, edisi 2006 antara Italia dan Perancis, serta edisi 2022 antara Perancis dan Argentina.
Jerman dan Kroasia menjadi tim paling sukses dalam urusan adu penalti. Dari empat laga masing-masing yang berujung adu penalti, Jerman dan Kroasia selalu memenangkannya. Kedua tim itu pun melaju ke fase gugur pada edisi tahun ini.

Sebenarnya, ada sembilan tim lain yang mencatatkan rekor 100 persen kesuksesan dalam adu penalti, tetapi masing-masing baru sekali melakoninya. Dari 9 tim itu, lima di antaranya melaju di babak 32 besar tahun ini, yakni Belgia, Maroko, Paraguay, Portugal, dan Swedia.
Adapun Argentina menjadi tim terbanyak yang harus menjalani drama tersebut, yakni total tujuh laga. Dari jumlah itu, skuad “Tango” memenangkan enam partai.
Satu-satunya kekalahan adu penalti yang dialami Argentina adalah saat bertemu Jerman di perempat final edisi 2006. Dari bagan fase gugur Piala Dunia 2026, jika kedua tim terus melaju, Argentina baru dapat bertemu Jerman di final.
Ketika mental sudah tak jadi soal, adakah strategi jitu untuk menghadapi adu penalti?
Sementara tim paling apes perihal ini adalah Spanyol. Dari lima laga fase gugurnya yang berakhir adu penalti, tim “Matador” hanya menang sekali, yakni saat melawan Irlandia pada perdelapan final edisi 2002. Terakhir, Spanyol menelan pil pahit adu penalti setelah dikalahkan Maroko, 0-3 pada perdelapan final edisi 2022.
Namun, nasib lebih tragis dialami Perancis. Dua kekalahan terakhirnya dalam laga adu penalti justru terjadi di partai puncak, yakni pada final edisi 2006 saat bersua Italia dan final 2022 melawan Argentina.
Strategi jitu
Ketika mental sudah tak jadi soal, adakah strategi jitu untuk menghadapi adu penalti?

Sejumlah riset yang dikutip The Guardian menunjukkan, 60,5 persen tim yang mendapat giliran menendang pertama akhirnya bisa menang. Riset ini dikumpulkan dari turnamen besar, seperti Piala Dunia, Piala Eropa, dan turnamen domestik Inggris periode 1973-2003.
Namun, data menarik dari Opta memperlihatkan, dalam 11 laga adu penalti terakhir di Piala Dunia, sebanyak sembilan laga di antaranya justru dimenangkan oleh tim yang menendang kedua.
Baca JugaPeluang Trio Tuan Rumah Menghapus Kutukan 96 Tahun
Dari segi teknik menendang, penelitian lain dari sampel liga top Inggris, Italia, Jerman, dan Spanyol, mengungkapkan hasil yang bervariasi. Di Inggris, tendangan mendatar ke tengah lebih sukses, tetapi di Spanyol, pojok kiri/kanan bawah gawang lebih kerap berhasil.
Ancang-ancang lebih dari enam langkah juga efektif dalam tendangan penalti. Namun, riset lain menyebut, tendangan penalti yang baik tak boleh terlalu lemah meski terarah, tetapi juga tak boleh terlalu kencang agar tak meleset. Takaran idealnya adalah menggunakan hanya 75 persen kekuatan maksimal tendangan.

Adapun perihal arah bola, sebuah hasil penelitian tahun 2016 memperlihatkan, sisi atas gawang memiliki persentase sukses lebih besar. Angka tertinggi adalah di pojok kiri atas gawang, yakni 93 persen.
Namun, hanya sebagian kecil pemain yang berani mengarahkan ke posisi itu karena risiko melambung yang tinggi. Sebagian besar penendang lebih suka mengarahkan ke pojok kiri-kanan bawah gawang, meskipun tingkat keberhasilannya “hanya” 74-79 persen.
Baca JugaMessi Menggila, Akankah Argentina Kembali Juara?
Temuan itu pun selaras dengan statistik adu penalti di Piala Dunia. Berdasarkan data yang dihimpun Opta, mayoritas gol adu penalti dihasilkan dari mengarahkan bola ke pojok kiri-kanan bawah gawang.
Namun, tembakan dengan tingkat kesuksesan 100 persen adalah yang diarahkan ke sepertiga sisi atas gawang, entah di pojok kanan-kiri atau tengah. Dari total 39 tendangan yang mengarah ke sektor itu, tidak ada yang bisa diselamatkan kiper.